Advertisement

iklan

Russell Erxleben, Pemain American Football Yang Jadi Penipu Ponzi

Penulis

+ -

Russell Erxleben adalah mantan pemain sepak bola Amerika yang berakhir tragis karena melakukan penipuan forex berskema Ponzi. Seperti apa kisahnya?

iklan

iklan

Karier dan kehidupan Russell Erxleben adalah salah satu kisah paling disayangkan dalam sejarah National Football League (NFL). Setelah sempat menjadi atlet di liga olahraga papan atas tersebut, Russell Erxleben justru harus terpuruk sebagai tahanan di balik jeruji besi akibat penipuan forex yang dilakukannya.

Bagaimana bisa mantan bintang American Football (sepak bola ala Amerika Serikat) ini berakhir menipu jutaan Dolar dari kliennya? Simak ceritanya pada artikel di bawah ini.

russel erxleben

Russell Erxleben adalah seorang kicker berbakat sejak duduk di bangku sekolah menengah. Karena keterampilannya, ia berhasil masuk Universitiy of Texas dan dianggap sebagai atlet unggulan. Erxleben kemudian direkrut untuk bermain di NFL selama sepuluh musim.

Baca juga: Kisah Sukses Chris Lori: Dari Atlet Jadi Trader Price Action

Karirnya sebagai pemain American Football bisa dibilang tidak terlalu mentereng. Ketika hari-harinya bermain sebagai atlet hampir berakhir, maka begitu pula dengan kondisi keuangannya. Setelah serangkaian bisnis yang dijalankannya gagal, Russell Erxleben menyatakan pailit pada tahun 1991.

 

Austin Forex International

Masalah hukum Erxleben dimulai pada tahun 1998, ketika pemerintah AS menangkap dirinya atas dugaan penipuan terhadap ratusan investor. Erxleben melakukan skema penipuan yang membuat investor mengalami setidaknya 25 kali lipat kerugian. Skema ini bernama Austin Forex International.

Selama beberapa tahun, perusahaan Austin Forex International tampak cukup sukses. Russell bahkan memiliki sejumlah kendaraan mewah dan tempat duduk VIP di Stadion Royal-Memorial. Namun, di balik gemerlapnya gaya hidup tersebut, tersimpan sebuah rahasia gelap yang merugikan banyak orang.

Pada dasarnya, Austin Forex International ialah sebuah skema Ponzi di mana Russell Erxleben akan mengambil uang dari investor baru untuk membayar investor lama.

Setelah aksinya mulai terendus, otoritas AS pun mengajukan gugatan terhadap perusahaan Erxleben pada akhir tahun 90-an dengan tuduhan pemalsuan pernyataan. Belakangan, terungkap bahwa 500 investor telah dirugikan melampaui $35 juta berkat skema penipuan tersebut. Beruntung, sejumlah perusahaan lain yang telah mengetahui malpraktik tersebut mengeluarkan settlement senilai lebih dari $30 juta berbentuk guna membantu sebagian besar investor.

Baca Juga: Pelajaran Dari Kasus Money Game CV Prayitno Investama Indonesia

Pada tahun 2000, Russell Erxleben mengaku melakukan penipuan dan dijatuhi hukuman 84 bulan penjara disertai denda $1 juta. Ia juga diwajibkan membayar tambahan $28 juta sebagai biaya restitusi.

Russell Erxleben dibebaskan dari penjara pada bulan Juni 2005 dan mencoba berbisnis kembali demi menghasilkan uang. Akan tetapi, karena statusnya sebagai mantan narapidana dengan catatan kriminal, peluangnya mendapatkan pekerjaan -terutama yang mau membayar sebanyak yang dia hasilkan sebelumnya sebagai pemilik perusahaan- sangatlah tipis.

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Erxleben untuk menghidupi dirinya dan keluarganya? Tentu saja kembali melakukan penipuan berskema Ponzi.

Bertekad untuk memperbaiki hidupnya, Erxleben mulai bekerja pada seseorang bernama Fred Gladle, yang berinvestasi untuk proyek arcade belanjanya (Family Funplex).

Namun, prioritas Erxleben berubah setelah melihat cek bernilai tinggi yang diterima Gladle dari usaha lain. Bisnis ini melibatkan perdagangan obligasi Jerman.

 

Penipuan Obligasi Jerman

Pilihan Erxleben jatuh pada jual beli obligasi Jerman yang diprediksi bakal menghasilkan keuntungan lebih dari 100% untuk jangka waktu panjang. Setelah meminjam $75,000 dari teman lamanya, Derrich Pollock, Erxleben mantap terjun ke investasi obligasi Jerman.

Baca Juga: Pengertian Obligasi Dan Cara Kerjanya Di Pasar Keuangan Global

Kali ini, Erxleben tidak bertindak sendirian, melainkan dibantu oleh setidaknya 4 rekan lainnya untuk menipu ratusan investor di penjuru AS.

Sejak September 2005 hingga Oktober 2009, Erxleben mulai merayu klien untuk berinvestasi di obligasi Jerman. Kepada calon investor, dia menyatakan bahwa obligasi yang masing-masing seharga $1,000 tersebut akan ditempatkan di sebuah trust bernama INGOT (Insured Note of German Obligations Trust).

Dia mengiming-imingi calon investor bahwa dengan obligasi sebagai aset dasar, trust bisa mendapatkan kredit rating AAA dari Standard & Poor's, penyedia peringkat keuangan terkenal.

Erxleben juga berbohong bahwa di masa depan, sekuritas beragunan aset seperti obligasi Jerman akan bernilai beberapa kali lipat dari harga saat ini, sehingga menjadikannya instrumen investasi yang menjanjikan.

Agar semakin meyakinkan investor, Erxleben juga menambahkan jika sekuritas tersebut akan dijual kepada investor institusi dengan harga selangit, sehingga menghasilkan keuntungan lebih dari 100% per tahun. Sebagai bagian dari skema investasi, Erxleben turut menawarkan perjanjian joint venture kepada investor.

Kenyataannya, obligasi yang diterbitkan setelah Perang Dunia I bisa dibilang sudah kehilangan nilainya menyusul perjanjian utang pasca perang yang ditandatangani oleh Jerman.

Baca Juga: Sejarah Surat Utang Negara (Obligasi)

Untuk menjalankan skema palsu tersebut, antara Januari 2005 dan Januari 2009, Russell Erxleben mendirikan beberapa entitas, yaitu WALTEC Consultants, LRE Holdings, dan The MDM Group. Ia mengoperasikan bisnis untuk semua entitasnya di Lakeway, Texas.

Untuk menyembunyikan jejak uang, Erxleben juga membuka dan mengoperasikan lebih dari 50 rekening di beberapa bank, di antaranya ialah Wells Fargo Bank, Frost Bank, Wachovia, Chase Bank (sebelumnya Washington Mutual Bank), Bank of America, dan Compass Bank. Beberapa rekening bank dibuka menggunakan nama anggota keluarganya.

 

Skema Ponzi Lukisan Paul Gauguin

Pada bulan Maret 2009, ketika skema investasi obligasi Jerman mulai anjlok, Russell Erxleben menjalankan skema Ponzi lainnya. Kepada calon investor, Erxleben menyatakan bahwa ia memiliki lukisan langka abad ke-19 (The Sorcerer of Hiva-Oa) yang digambar oleh seniman Prancis terkenal Paul Gauguin.

Dia memberi tahu calon investor bahwa lukisan itu dapat dijual sekitar $58 juta, asalkan mereka membayar $75,000 untuk mengesahkan keasliannya. Erxleben mengaku sebagai anggota entitas The Gauguin Partners LLC, padahal ia sama sekali tidak terkait dengan The Gauguin Partners LLC atau lukisan itu.

 

Kembali Masuk Bui

Sejak awal 2005, Erxleben menerima lebih dari $2 juta dari hasil penipuan investasi obligasi Jerman dan lukisan Paul Gauguin. Di sisi lain, tidak ada investor yang menerima obligasi atau dokumen kepemilikan apa pun.

Pada bulan Oktober 2012, seorang pria bernama Matthew Hand menggugat Russell Erxleben karena tidak terkirimnya obligasi tersebut. Hand menuntut investasinya sebesar $60,000 dikembalikan oleh Erxleben dan rekan terdakwa Kimberly Erxleben, Fred Gladle, Barbara Gladle, serta LT Entertainment Group.

Terlepas dari gugatan dan bukti yang jelas, Erxleben menyatakan bahwa ia kali ini tidak bersalah dan menyebut dakwaan atas dirinya sebagai "witch hunt".

Pada Januari 2013, Erxleben akhirnya ditangkap dan didakwa dengan lima tuduhan wire fraud, dua tuduhan pencucian uang, dan satu tuduhan penipuan sekuritas. Mengikuti argumen tersebut, hakim menjatuhkan hukuman 7.5 tahun penjara pada Erxleben di bulan Februari 2014.

 

Bagaimana Keadaannya Sekarang?

Dari pahlawan lokal di kota kecil Sequin, Texas, menjadi quarterback semasa SMA, terpilih sebagai kicker dan pemain All-American di universitas, hingga menjalani 2x masa tahanan di balik jeruji besi atas tuduhan penipuan, Erxleben telah mengalami pasang surut dalam 6 dekade kehidupannya. Kabar terbaru, Erxleben sudah dibebaskan pada musim panas tahun 2019 lalu.

 

Agar Anda tidak terjerat iming-iming oknum seperti Russell Erxleben, simak cara supaya terhindar dari penipuan di artikel berjudul Takut Terjebak Penipuan Bisnis Forex? Cek Dulu Tips-Tipsnya.

298059
Penulis

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak duduk di bangku kuliah. Kini tengah sibuk melanjutkan kuliah di jurusan Media Komunikasi Universitas Airlangga sekaligus menjadi jurnalis seputarforex.com