Saham Itu Mainankah?

Seringkali terdengar istilah "bermain saham". Tetapi, apakah benar jika saham itu sebuah mainan? Ternyata tidak sepele seperti itu.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

saham bukan mainan karena memiliki resikoAda satu istilah yang sering kali orang katakan, “Bermain saham”. Ya, istilah itu sering kali  kita dengar. Dan sepertinya, istilah itu sudah menjadi sebuah hal yang umum, dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, benarkah jika saham itu sebuah mainan?

Sebelum membicarakan pertanyaan diatas, ada baiknya jika kita ketahui dulu apakah saham itu. Banyak orang mengartikan saham sebagai surat berharga yang memberikan hak kepemilikan atas suatu perusahaan. Misalkan saja jika kita punya beberapa lembar saham ASII (kode saham PT Astra Internasional, Tbk) dapat diartikan bahwa kita mempunyai hak kepemilikan atas PT Astra Internasional, Tbk. Hak kepemilikan tersebut bisa saja berupa dividen atau laba yang didistribusikan kepada pemegang saham. Jika kita punya selembar saham Astra, maka kita akan mendapatkan deviden itu dan jika kita tidak punya selembar saham Astra, ya deviden tersebut tidak akan ditransfer ke rekening kita. Kemudian, bagaimana caranya agar kita bisa punya saham Astra?

Tidak hanya saham Astra saja namun juga saham perusahaan-perusahaan lain yang tercatat di Bursa Efek Indonesia jika kita ingin memilikinya, hal yang dapat kita lakukan adalah “membeli” saham perusahaan tersebut, membeli dengan uang yang kita punya. Sehingga, jika kita ingin memiliki saham Astra misalnya, ada sejumlah uang yang harus kita korbankan.

Saham dibeli dengan uang, sehingga jika kita merujuk pada pembahasan diawal tadi, bisa dikatakan jika bermain saham sama saja dengan bermain uang. Bagi sebagian orang menganggap bahwa uang sangat berharga. Karena uang lah orang bisa makan, karena uang lah orang bisa membeli yang dia mau dan karena uang lah tindak kriminal seperti pencurian semakin marak terjadi. Uang sangatlah berharga, sehingga jika ada orang yang menganggap bahwa uang adalah mainan, sungguh betapa hebatnya orang itu.

Karena saham ada kaitannya dengan uang, maka banyak orang yang bisa kaya dengan saham. Namun, tak sedikit pula orang yang tiba-tiba jatuh miskin dan dengan tanggungan segunung hutang karena saham. Jika sudah begitu, apakah saham masih bisa dikatakan sebagai mainan?

 

Saham Menguntungkan, Saham Risiko Tinggi

Saham bisa membuat orang menjadi kaya dan saham pula bisa membuat orang jatuh miskin. Karenanya, banyak orang yang menyebutkan jika saham itu high risk and high return, disatu sisi potensi keuntungan saham cukup besar, disisi lain risiko kerugiannya juga besar pula potensinya. Sehingga, banyak orang yang lebih memposisikan saham sebagai salah satu instrumen investasi selain tanah, properti, obligasi dan sebagainya dan bukan menganggap saham sebagai mainan.
 
Saham adalah salah satu pilihan investasi dan investasi itu masuk sebagai salah tugas dari manajer keuangan. Manajer keuangan tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan saja. Tetapi manajer keuangan juga dibutuhkan oleh keluarga dan juga setiap orang. Dalam tugasnya, manajer keuangan memikirkan bagaimana cara mendapatkan dana. Dari dana yang didapat kemudian memikirkan bagaimana mengelolanya. Dan jika ada sisa, kemana dana tersebut harus diinvestasikan. Cara mendapatkan dana, bagaimana mengelola dana, dan jika ada sisa ke mana menginvestasikannya, tiga tugas inilah yang harus dijalankan manajer keuangan. Sehingga, tidak hanya perusahaan saja yang butuh seorang manajer keuangan, namun keluarga dan setiap orang juga butuh sifat manajer keuangan ini.

Sehingga, jika saham adalah salah satu pilihan investasi, maka dana yang digunakan untuk membeli saham adalah dana sisa atau dana yang sengaja dialokasikan untuk investasi, bukan dana yang dipakai untuk operasional atau untuk keperluan sehari-hari. Mengapa demikian?

 

Pertimbangkan Masa Investasi Saham

Perubahan kondisi market berjalan sangatlah cepat. Kita tidak tahu, saham perusahaan yang kita beli naik atau turun setelah satu menit, satu jam, sehari, satu minggu atau bahkan satu tahun pasca pembelian itu. Seandainya seorang ibu rumah tangga kemudian menggunakan dana belanja bulanan untuk membeli saham perusahaan. Kemudian, beberapa saat atau beberapa hari setelahnya tiba-tiba kondisi market semakin memburuk. Sebagian besar saham turun harganya termasuk saham yang dibeli ibu tadi. Ibu tersebut kini butuh uang untuk belanja. Karena uang bulanan yang seharusnya dialokasikan buat belanja tetapi buat beli saham, meski turun mau atau tidak mau Ibu itu harus menjual saham yang dibeli. Dan akhirnya, si Ibu mendaptkan dana yang lebih sedikit daripada saat si Ibu membeli. Dengan kata simpelnya, si Ibu rugi.
Beda halnya jika dana yang digunakan si Ibu adalah dana sisa, bukan dana bulanan. Saat saham yang dibeli harganya turun, maka si Ibu masih bisa tenang, tidak memikirkan bagaimana mendapatkan dana untuk belanja besok dan tidak perlu menjual rugi saham tersebut. Ia bisa menahannya sampai harga kembali naik hingga saat menjualnya bisa mendapatkan uang lebih banyak dari pada saat dia membeli. Si Ibu mendapatkan keuntungan.

Saham dibeli dengan uang. Saham juga menawarkan imbal hasil yang menggiurkan, tapi juga dengan risiko kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Banyak orang sukses dan menghasilkan uang dengan saham, namun juga tidak sedikit pula orang yang kehilangan uang hingga mempunyai banyak hutang karena saham. Jika sudah begini, masih bisakah saham disebut mainan?

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.