Kelemahan Dan Kelebihan Analisa Teknik Dan Fundamental

Masing-masing analisa, baik fundamental maupun teknikal, yang digunakan untuk ber-trading memiliki kelemahan dan kelebihan. Tanpa menyadari itu, kita bisa keliru menganalisa pasar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Masing-masing analisa, baik fundamental maupun teknikal, yang digunakan untuk ber-trading memiliki kelemahan dan kelebihan. Walaupun kita sering menemukan kelebihan, tapi kelemahannya pun akan muncul. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan kedua analisis tersebut, artikel ini membahasnya.

kelebihan dan kelemahan analisa teknikal

 

Seorang trader umumnya akan berpikir untuk melakukan hal lain yang lebih dari sekedar memprediksi berjam-jam mencari rumus atau prediksi yang paling tepat atau juga mengumpulkan setumpuk berita yang tidak akan pernah habis. Mereka pasti tahu bahwa pasar bergerak bebas. Entah pasar mau naik maupun turun, mau seratus atau lima ratus poin, semuanya adalah urusan pasar dan bukan urusan kita.

Kelemahan utama kedua analisis tersebut adalah keduanya hanya "memperhitungkan data masa lampau". Dari data masa lampau itu kemudian dilakukan prediksi apakah harga saham akan naik atau turun. Karena hanya dengan memperhitungkan data masa lampau dan asumsi, banyak hal-hal yang tidak masuk ke dalam perhitungan.

Misalnya kemungkinan adanya fraud, seperti perusahaan tidak memunculkan informasi yang benar kepada publik, manajemen yang amburadul, penggelapan yang dilakukan, dan lain-lain. Faktor lain seperti bencana alam, terjadinya bubble economy juga luput dari analisa. Bahkan niat "bandar" yang bisa menggoreng saham pun tidak bisa dimasukkan ke dalam analisis.

Tidak semua berita mampu menggerakkan harga apalagi menggerakkan secara signifikan. Kriteria berita yang digolongkan mampu menggerakkan harga adalah berita yang meliputi bidang ekonomi serta kondisi politik suatu negara. Misalnya: Ppengumuman Suku bunga bank sentral Negara yang bersangkutan (the Fed di AS misalnya), Serangan teroris di WTC AS tahun 2001, bencana tsunami besar di Jepang tahun 2011, dan lain-lain.

Begitu juga dengan teknikal, ketika kita menganalisa harga dan kebetulan harga naik maka kondisi bias bullish akan membayangi, kemudian ketika pasar bergerak turun maka kondisi teknikal akan mengindikasikan turun. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena semua analisis teknikal adalah mengikuti harga. Coba bayangkan, Anda melihat grafik dan indikator yang menginformasikan naik kemudian Anda melaksanakan transaksi beli tetapi beberapa menit selanjutnya harga berbalik turun dan indikator merubah arahnya menjadi turun.

Analisis Fundamental ataupun Analisis Teknikal tidak bisa 100% diterapkan di dalam pasar yang tidak efisien dan diselingi intervensi seperti BEI. Misalnya kebijakan Auto Rejection (AR) bisa mempengaruhi hasil analisis data pergerakan harga saham di BEI. Suspensi saham yang cukup lama juga bisa mengakibatkan perhitungan indikator yang meleset.

Kalaupun kita menyebutkan analisa fundamental mampu memberikan arah tren besar (big trend) pergerakan harga berdasarkanberita. Ini karena konsep analisa fokus pada "penggerak harga".

Jika tujuan kita adalah memprediksi pergerakan harga di masa mendatang, maka masuk akal untuk memfokuskan pada pergerakan harga baik data harga masa lalu atau yang sedang terjadi. Seorang teknikalis menganggap bahwa pergerakan harga yang terjadi adalah refleksi dari perilaku dipasar yang ditunjukkan dengan pergerakan harga.

Dengan memfokuskan hanya kepada pergerakan harga, maka hal ini akan jelas mempersingkat waktu dan kita tidak banyak dipusingkan dengan banyak berita-berita. Namun harga pasar ini ditentukan oleh sikap para trader yang bertransaksi di dalamnya. Ini berarti bahwa pasar (price trends) digerakkan oleh psikologi tradernya (serakah, rasa takut, harapan, putus asa) bukan dari kepastian analisa.

Parmadita mengenal forex mulai tahun 2010. Sejak saat itu, menggali beragam pengetahuan dan pengalaman terkait forex dari berbagai sumber, baik tentang indikator teknikal biasa, psikologi trading, maupun Expert Advisor.