Strategi Hedging Bisa Berbuah Profit Trading, Mitos Atau Fakta?

282803

Fungsi utama strategi hedging adalah untuk meminimalisir risiko. Namun dengan memastikan 5 hal berikut, strategi hedging bisa mendatangkan profit trading

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pernahkah Anda mencoba strategi hedging? Cara ini sering menjadi alternatif favorit bagi para trader yang enggan cut loss. Mereka berdalih bahwa hedging perlu dilakukan untuk meminimalisir kerugian. Namun ternyata, tak sedikit juga trader yang menggunakan strategi hedging untuk mendatangkan profit trading. Jika sifat alamiah strategi hedging adalah pelindung risiko, benarkah hal itu bisa diwujudkan?

 

Strategi hedging mendatangkan profit, bisakah?

 

 

Untuk mendapatkan jawaban, mari kita simak dulu beberapa faktor penunjang kesuksesan strategi hedging berikut ini:


1. Situasi Pemicu Strategi Hedging

Banyak trader menyebut strategi hedging adalah teknik trading di level lanjutan. Namun disadari atau tidak, sebagian besar pemula sudah melakukan hedging secara impulsif. Contohnya ketika mereka 'penasaran' dengan order yang tidak bisa profit, kebanyakan akan membuka posisi baru untuk mengejar harga yang berlari di arah berlawanan dari order pertama.

Di sisi lain, para trader berpengalaman melakukan hedging sebagai strategi terencana. Mereka tidak terpacu memburu profit trading atau ingin membuktikan diri. Bagi trader pro, strategi hedging merupakan bagian dari Trading Plan yang sudah diperhitungkan; apakah akan melakukan hedging di satu pair atau dua pair berbeda, apakah langsung menerapkan hedging atau baru membuka posisi berlawanan saat order pertama sudah loss, atau berapakah lot, Stop Loss, dan Take Profit yang ditentukan untuk masing-masing order.

Strategi hedging terencana jelas akan dimaksimalkan agar bisa (paling tidak) mengamankan trading dari loss besar. Jika sudah berpengalaman dan terbiasa mengantisipasi pergerakan market, seorang trader bahkan bisa menyusun strategi hedging yang mendatangkan profit trading.

Sementara itu, trader pemula yang melakukan hedging karena terjerat emosi, lebih berisiko bertindak gegabah. Mereka tidak melakukan analisa terhadap volatilitas harga, dan biasanya sering terjebak saat posisi-posisi hedging sudah terkunci (locked). Kebingungan untuk memutuskan mana posisi yang bisa dilepas dan dipertahankan pun mulai menyeruak, sehingga tak jarang mereka akhirnya malah membiarkan posisi terus ter-floating, atau bahkan mengakhiri hedging tanpa dasar yang logis.

Untuk memperjelas pemahaman Anda, berikut adalah contoh strategi hedging terencana dan tidak terencana:


A. Strategi Hedging Terencana

Katakanlah EUR/USD saat ini berada di 1.20000. Anda melakukan open buy dan sell dengan lot yang sama di level tersebut. Sehari kemudian, harga turun ke 1.19500. Saat melihat oscillator, harga sudah berada di level oversold dan ada beberapa tanda bullish reversal dari pembacaan Price Action.

Untuk mengamankan posisi sell yang sudah profit, Anda bisa menutupnya, kemudian membiarkan posisi buy untuk menyambut peluang kenaikan dari bullish reversal. Ketika harga kemudian benar-benar naik, Anda sudah bisa mendapat profit saat harga baru sampai ke level 1.19530. Bagaimana bisa? Posisi buy Anda memang rugi 70 points atau 7 pips, tetapi order sell Anda sudah profit trading 500 points atau 50 pips. Artinya, Anda sudah mendapat keuntungan sebesar 43 pips.

Dalam skenario ini, ada 3 tindakan yang bisa Anda pilih:

  1. Menutup posisi buy di level 1.19530 dan mendapat keuntungan 43 pips.
  2. Menutup order buy di level breakeven (1.20000) dan mendapat profit 50 pips.
  3. Menutup order buy di atas 1.20000 untuk bisa meraih profit trading lebih tinggi.

Pada akhirnya, semua skenario hedging di atas bisa mendatangkan profit. Tentu saja ada risiko harga berbalik turun sebelum benar-benar menyentuh level yang ditargetkan. Oleh karena itu, pemahaman akan kekuatan tren sangat diperlukan di sini, agar Anda tak menetapkan target profit trading yang kelewat jauh.

Strategi dan indikator yang digunakan juga tidak harus sama dengan contoh di atas, yang menggunakan oscillator dan Price Action untuk melihat sinyal reversal. Ada baiknya Anda menggunakan sistem yang sudah teruji berdasarkan pengalaman dan pemahaman trading sendiri.


B. Strategi Hedging Tidak Terencana

Anda melihat peluang kenaikan harga saat EUR/USD menyentuh 1.20000. Tak lama kemudian, order buy pun dibuka untuk mendapatkan profit dari perkiraan tersebut. Ketika harga malah turun ke level 1.19500, Anda panik dan merasa analisa sebelumnya telah keliru. Anda pun membuka order sell di level tersebut, tetapi harga selanjutnya malah naik di 1.19530.

Dalam posisi terkunci seperti itu, posisi buy dan sell Anda sama-sama menderita loss. Karena semua dilakukan tanpa rencana dan analisa, Anda tak tahu apakah harus membiarkan keduanya tetap terbuka, menutup salah satu posisi tersebut, atau mengakhiri keduanya?

 

Skenarionya seperti ini:

  1. Dua posisi dibiarkan terbuka: Jika harga naik, floating loss dari posisi sell akan terus bertambah, sedangkan posisi buy baru akan breakeven jika harga kembali menyentuh 1.20000. Sementara Anda menanti kemungkinan mana yang memiliki probabilitas paling tinggi, posisi hedging yang sudah terkena dua kali spread itu bisa dibebani lagi oleh bunga swap.

  2. Menutup salah satu posisi: Anda harus benar-benar tahu posisi mana yang harus ditutup, dan di level mana sebaiknya order di-close. Jika kurang perhitungan di salah satu aspek, maka Anda justru bisa menutup posisi yang salah. Mengingat tindakan hedging sebelumnya sudah dilakukan tanpa rencana, maka penutupan posisi pun kemungkinan besar tidak diperhitungkan dengan matang.

    Katakanlah saat harga sudah berada di 1.19530, Anda masih ragu apakah harga sudah memantul dan bisa bergerak naik lebih lanjut, karena sebelumnya sudah begitu dikecewakan oleh penurunan harga sampai 50 pips. Pergerakan naik yang sebenarnya diawali oleh sinyal oversold dan Bullish Reversal Price Action itu pun hanya terlihat sebagai koreksi di mata Anda. Sehingga pada akhirnya, yang ditutup justru open buy. Ketika harga melesat sampai ke 1.20000, kerugian Anda jelas makin berlipat; sekitar -7 pips dari posisi buy, ditambah -50 pips dari order sell. Itupun belum diakumulasikan dengan spread dan (kemungkinan) swap negatif.



2. Pemahaman Strategi Hedging

Sekalipun Anda sudah berniat merencanakan trading dengan strategi hedging, Anda masih perlu mendalami pemahaman lebih lanjut tentang strategi hedging. Situasi di atas tidak selalu terjadi, karena ada kalanya sinyal trading meleset dan Anda malah rugi dua kali.

Di samping itu, strategi hedging terencana kebanyakan memiliki aturan yang tidak sederhana, apalagi jika sudah melibatkan penempatan entry berdasarkan Pending Order, perhitungan lot, juga pengukuran Stop Loss dan Take Profit. Berikut adalah contoh skema strategi hedging terencana yang 'dianggap' simpel:

 

Strategi forex hedging sederhana

Sumber gambar: forex-central[dot]net



Apakah Anda bingung? Jika tidak, maka selamat! Karena Anda sudah berada di jalur yang benar untuk belajar strategi hedging. Namun apabila Anda belum terlalu paham, maka sebaiknya belajarlah lagi untuk mengetahui seluk-beluk strategi hedging terencana.

Selain itu, setiap perhitungan dan keputusan dalam strategi hedging sebaiknya dilakukan dengan kepala dingin dan diambil dengan keputusan se-objektif mungkin. Inilah ujian bagi para trader pendatang baru, karena biasanya mereka sulit berpikir rasional, di kala posisi trading masih terkunci dan dua-duanya floating loss.


3. Pengetahuan Risiko Hedging

Meskipun strategi hedging terencana bisa diatur sedemikian mungkin untuk mendatangkan profit trading, esensi awalnya tetaplah untuk melindungi trading dari risiko loss besar. Dalam menyusun rencana hedging, Anda perlu mengetahui cara meminimalisir risiko dengan strategi hedging lebih dulu, sebelum mengupayakannya untuk mendapat profit trading lebih.

Mengapa demikian? Jika Anda amati sekali lagi, konsep dasar hedging yang membuka 2 posisi berlawanan di satu waktu hanya akan berakhir impas. Kecuali Anda menggunakan lot berbeda, atau sengaja membuka posisi di level yang tidak sama, maka anggapan tersebut masih berlaku. Banyak pihak justru menganggap strategi hedging lebih berisiko, karena Anda akan dikenai spread 2 kali.

Jika seperti itu, lantas mengapa hedging masih dilakukan? Mereka yang menggemari strategi hedging terencana memiliki cara-cara tersendiri untuk membedakan ukuran lot dan pemasangan entry, Stop Loss, serta Take Profit.

Apabila Anda melihat lagi skema strategi hedging di atas yang 'dianggap' mudah, terlihat bahwa order Sell Stop diatur dengan lot yang lebih besar dari posisi Buy: Sell Stop dibuka dengan 0.3 lot, sedangkan Buy bermuatan 0.1 lot. Perbandingan Stop Loss dan Take Profit antara dua posisi tersebut ditentukan dalam tingkatan yang sama, yakni 1:2 (30 pips : 60 pips). Ini menandakan bahwa trader yang menggunakan strategi tersebut lebih meyakini proyeksi penurunan setelah harga menembus target entry Sell Stop.


4. Jenis Strategi Hedging

Setelah mengetahui pemahaman hedging, tahap berikutnya adalah menerapkan jenis strategi yang tepat. Perlu Anda ketahui, strategi hedging terdiri dari berbagai macam jenis, ada hedging satu pair, hedging korelasi pair, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kelemahan yang bisa disesuaikan dengan pemahaman dan toleransi risiko Anda.

Misalnya saja, hedging satu pair bisa dilakukan dengan lebih mudah, karena Anda tak perlu mecari korelasi, melakukan analisa tambahan untuk pair satunya, atau mengantisipasi perbedaan spread antar pair. Akan tetapi, kecenderungan terkunci di 'posisi yang impas' akan lebih besar, dan ada beberapa broker yang membatasi kebebasan hedging satu pair.

 

Jenis strategi hedging

 


Di sisi lain, hedging korelasi pair bisa menjadi solusi atas keterbatasan yang diberlakukan oleh kebijakan broker. Di samping itu, Anda bisa mendapat selisih hedging yang lebih besar. Namun demikian, cara hedging korelasi pair lebih rumit daripada hedging satu pair, karena Anda perlu mencari korelasi terbaik, melakukan analisa di (setidaknya) dua pair, serta mampu mengatasi risiko kesenjangan spread dan swap antara dua pair tersebut.

Penggunaan jenis strategi hedging yang tepat sangat penting, karena Anda tak akan mendapat hasil apapun jika memaksakan cara hedging yang tidak sesuai dengan pemahaman Anda.


5. Dukungan Broker

Satu aspek terakhir yang tak kalah penting adalah kondisi dan spesifikasi broker. Untuk bisa mengolah strategi hedging terencana yang bisa mendatangkan profit trading, tentu sangat diperlukan dukungan layanan dari broker.

Percuma saja Anda susah payah merencanakan strategi hedging satu pair, jika ternyata broker yang Anda gunakan tidak memperbolehkan teknik tersebut. Untungnya, saat ini ada lebih banyak broker yang memperbolehkan ketimbang melarang hedging. Mereka yang tidak memperkenankan hedging biasanya adalah broker teregulasi di AS, karena terkekang oleh aturan NFA yang tidak memperbolehkannya.

Namun demikian, Anda perlu memperhatikan lagi ketentuan-ketentuan broker dalam kondisi tertentu. Hal ini karena ada broker forex yang memperbolehkan hedging untuk trading dalam kondisi normal, tapi melarangnya saat klien mengikuti program bonus, kontes, atau promo broker tertentu.

Selain aturan broker, beberapa spesifikasi broker lain yang perlu diperhatikan adalah:

  • Spread ketat, untuk meminimalisir biaya trading dari posisi-posisi hedging.
  • Platform trading, karena ada platform tertentu, seperti MetaTrader 5 yang tidak bisa digunakan untuk hedging satu pair. MT5 hanya dapat memfasilitasi hedging jika broker mengaktifkannya dalam mode hedging, bukan netting.
  • Eksekusi order, untuk memastikan kelancaran strategi hedging sesuai rencana. Jika broker sering terlambat mengeksekusi order, juga kerap memberlakukan slippage dan requote, maka cara hedging sebaik apapun tak akan mendatangkan profit trading yang diinginkan.


Kesimpulan

Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi hedging yang mendapatkan profit bisa menjadi mitos jika:

  • Dilakukan tanpa perencanaan.
  • Tidak paham dengan mekanismenya.
  • Tidak mendahulukan perlindungan risiko.
  • Salah menerapkan jenis strategi hedging.
  • Dilakukan di broker yang kondisi-kondisinya tidak mendukung hedging.

Di sisi lain, strategi hedging yang mendatangkan profit trading bisa menjadi fakta jika:

  • Dilakukan dengan rencana.
  • Sudah paham seluk-beluknya.
  • Mengetahui dan mengedepankan faktor risikonya.
  • Diterapkan dengan jenis yang tepat.
  • Mengandalkan dukungan broker yang optimal untuk hedging.

Jadi sebenarnya, strategi hedging profit yang menjadi mitos atau fakta ada di tangan Anda sendiri. Kuncinya adalah menggunakan aspek-aspek di atas sebagai parameter, lalu memastikan bahwa semuanya sudah terpenuhi.

 

Jika Anda ingin mendapat profit trading dari strategi hedging yang sudah terstruktur, ikuti langkah-langkahnya di panduan Strategi Hedging Sederhana.

Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang sekarang menjadi pengisi konten artikel di seputarforex.com. Aktif menulis tentang informasi umum mengenai forex, juga terinspirasi untuk mengulas profil dan kisah sukses trader wanita.