OctaFx

iklan

Strategi Trading Dengan Scalping - Bagian 2

105413

Pada bagian 1 disebutkan bahwa dalam scalping kita mengumpulkan beberapa profit yang tidak begitu besar hingga bila dijumlahkan seluruhnya jadi cukup besar. Walau demikian scalping bukanlah cara trading yang ngawur dengan sembarangan masuk pasar dan bersifat untung-untungan. Seorang scalper yang berhasil justru sangat memperhitungkan apa yang diharapkan dari perubahan gerak harga pasar dan

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pada bagian 1 disebutkan bahwa dalam scalping kita mengumpulkan beberapa profit yang tidak begitu besar hingga bila dijumlahkan seluruhnya jadi cukup besar. Walau demikian scalping bukanlah cara trading yang ngawur dengan sembarangan masuk pasar dan bersifat untung-untungan. Seorang scalper yang berhasil justru sangat memperhitungkan apa yang diharapkan dari perubahan gerak harga pasar dan keputusan yang diambil. Mereka mengkombinasikan berbagai fitur khas yang ada dalam pasar forex untuk mendapatkan satu kondisi yang pas dan profitable untuk trading. Semua karakter dan fitur dasar yang ada di pasar dimanfaatkan seperti trend harga, formasi dasar candlestick, pola pergerakan harga (pattern) serta tak ketinggalan event rilis berita fundamental dan peristiwa ekonomi penting lainnya. Itulah yang membedakan strategi scalping dengan strategi lainnya semisal swing trading.

                           Strategi Trading Dengan Scalping -


Memanfaatkan pergerakan harga yang tajam
     
Sebagian besar scalper fokus pada pergerakan harga tajam yang sering terjadi di pasar forex. Dalam hal ini tujuannya adalah memanfaatkan perubahan yang tiba-tiba terjadi pada likuiditas pasar untuk memperoleh profit dengan cepat. Tipe scalping yang ini tidak begitu mempedulikan apakah pergerakan harga pasar sedang trending atau sideways, yang lebih penting adalah volatilitasnya. Tujuannya adalah mengidentifikasi ketidak seimbangan permintaan dan penawaran harga pasar yang memberi peluang buka posisi. Ketidak seimbangan ini disebabkan oleh kekurangan likuiditas (bisa pada sisi buyer atau seller) yang bisa terjadi sementara dan bisa dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan dalam waktu yang singkat.

Ambil contoh  bila trading pada EUR/USD, dalam keadaan biasa spreadnya cukup kecil dan pasar cukup likuid hingga jarang terjadi perbedaan (gap) yang berarti antara harga bid dan ask-nya. Tetapi pada keadaan tertentu misalnya akibat rilis berita fundamental yang penting, likuiditas bisa sangat berkurang hingga terjadi perbedaan yang signifikan antara sisi bid dan ask, katakan misalnya bid pada harga 1.3010 sementara ask pada 1.3050. Dalam momen yang sangat singkat spread harga bid dan ask akan menjadi sempit dan harga cenderung bergerak ke salah satu sisi (bid atau ask). Scalper akan memanfaatkan momen fluktuasi yang cepat ini untuk meraup profit. Ketika harga telah mencapai 1.3030 dan spread harga bid dan ask kembali menyempit seperti keadaan normal, scalper tersebut akan buka posisi misalnya sell, dan akan ditutup ketika harga turun di 1.3020 karena volatilitas. Dalam hal ini scalper tersebut mendapatkan profit dari reaksi emosional pasar. Gap yang terjadi saat rilis berita fundamental yang penting sering dimanfaatkan oleh para scalper.

Pengaruh besarnya leverage
Karena scalper mengumpulkan profit yang tidak begitu besar dan bila dijumlahkan jadi cukup berarti, tetapi sering para scalper tidak merasa puas pada hasil yang diperoleh dalam beberapa minggu atau beberapa bulan dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang terbuang untuk trading. Untuk mengatasi hal ini, scalper menggunakan beberapa ukuran leverage ketika trading, tentu saja tergantung dari peraturan broker tempat mereka trading. Leverage yang semakin besar akan menyebabkan margin trading (jumlah jaminan) kecil dan bisa menggunakan lot yang semakin banyak. Tetapi banyak scalper yang telah berpengalaman menyarankan agar menggunakan leverage kecil pada 3 bulan pertama trading sampai menemukan sebuah metode yang cocok dan teruji untuk digunakan. Jika cara yang tepat dan teruji telah didapat, ukuran leverage bisa ditingkatkan sedit demi sedikit dengan tidak lupa selalu menggunakan setting stop loss dan target profit.

Menguasai analisa teknikal dan aliran gerak harga (order flow) dengan baik
Trading dengan cara scalping yang umumnya dilakukan pada time frame 1 menit dan 5 menit memerlukan pengetahuan analisa teknikal yang agak mendalam terutama untuk menerapkan indikator dan setting parameter yang pas. Selain indikator teknikal, kemampuan membaca dan interpretasi aliran gerak harga (order flow) seperti yang ditampilkan oleh formasi candlestick sangat membantu dan diperlukan. Misalnya pada chart 5-menit dibawah ini (hanya sekedar contoh):

  Strategi Trading Dengan Scalping -


Seorang scalper harus rajin, teliti dan disiplin untuk terus memperhatikan gerak harga dan megikuti metode yang digunakan karena kecerobohan kecil bisa berdampak besar. Peran analisa fundamental dalam scalping sangat kecil dan hampir terabaikan. Walaupun saat rilis berita fundamental, fokus scalper yang sedang terpaku pada indikator teknikal dan order flow candlestick kecil kemungkinannya untuk menganalisa rilis data non farm payrolls misalnya.

Pada keadaan tertentu scalper juga menggunakan analisa trend dengan melihat pada time frame yang lebih tinggi untuk mengetahui trend utama, tetapi tetap menggunakan time frame 1 menit dan 5 menit dalam trading.


Sumber : www.forextraders.com

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Raka
apa bedanya scalper dengan news trader? apa news trader itu salah satu scalper juga yg analisanya dng fundamental? atau apa keduanya berbeda? sya penasaran karna dua-duanya sama2 trading dng range waktu yg sempit, dan lebih suka memanfaatkan pergerakan harga singkat utk mengmabil keuntungan.
Martin S
@ raka:
Setahu saya scalper bukan news trader. Scalping biasanya murni berdasarkan analisa teknikal, dan menghindar ketika ada rilis data fundamental penting karena volatilitas yang tinggi dan sulit memperkirakan arah pergerakan harga. Kalau news trader memang sengaja entry menjelang, ketika atau sesudah news dirilis, dan metodenya tidak seperti scalping.
Septian Andara
Bisa kesulitan bagi fokus kalo scalpingnya teknikal & mantengin chart terus. Trading apapun tetep butuh kerja keras biar bisa profit. Cara scalping di kondisi sideway seperti apa ya kalo boleh tau? Yg banyak diperhatiin selalu peluang dari tren, breakout, dan semacamnya, tapi cara memanfaatkan ranging buat scalping apakah ada?
Martin S
@ Septian Andara:
Untuk kondisi sideways caranya sama saja selama range tradingnya jelas, yaitu batas resistance dan support-nya jelas. Kalau rangenya sempit dan tidak jelas maka pergerakannya cenderung choppy atau tidak beraturan, sebaiknya hindari untuk entry.
Gus.wahyu
melanjutkan dari @septian, saya juga ingin menambahkan pertanyaan tentang hal yang berkaitan. kalau scalper mengandalkan volatilitas, apa ini artinya scalper akan kesulitan memperoleh sinyal saat volatilitas harga sedang rendah? atau scalper bisa mengakalinya dengan menahan posisinya lebih lama, membuka lebih banyak posisi, atau lebih baik tidak entri saja?
Martin S
@ gus.wahyu:
Kalau volatilitasnya sedang rendah, range tradingnya sempit dan pergerakan harganya choppy (tidak beraturan) maka sebaiknya tidak entry. Scalping paling bagus memang saat harga sedang trending.
Roysaputra
koreksi kl ane ada slh,
tp bukanny scalper itu bnyk dipilih krn resikony yg kecil?
jd kl ada kesalahan kerugianny jg gg akan terlalu fatal, kecuali kl kesalahanny berulang dn dlm jngk wkt yg pnjng.... ane rasa slm scalper bs lngsng bljr dr kesalahan & improve sistemny dampak kerugianny gg akan terlalu signifikan....
mskpn ini bs brbhy jg kl newbie blm bs melihat ni sbg ksmptn utk mmperbaiki sistemny...
Martin S
@ roysaputra:
Kalau resiko tergantung dari kesepakatan Anda. Resiko adalah jumlah kerugian dalam satuan uang yang Anda tentukan sendiri. Jadi meskipun Anda main scalping dengan stop loss yang sempit resikonya akan tetap sama seperti yang Anda sepakati. Misal Anda berani rugi sekian USD per trade, jadi stop lossnya disesuaikan. Untuk penjelasan lebih lanjut bisa baca: Belajar Memahami Money Management.
Gus.wahyu
@roy, sebenarnya tergantung volume yang ditradingkan, karena kalau lotnya besar tetap saja resiko ruginya juga akan besar. malah ini tergolong lebih berbahaya karena dengan scalping lossnya itu terjadi dalam waktu yang sebentar dan kemungkinan untuk membatasi resiko lebih kecil karena posisi hanya terbuka dalam waktu yang singkat.

maka dari itu kemudian scalper cenderung membuka posisi baru untuk mengganti kerugian tersebut, padahal order yang demikian belum tentu dilengkapi dengan analisa dan sistem yang terencana. jika tetap ditempatkan dengan ukuran lot besar yang sama maka potensi kerugiannya bisa 2 kali lipat besarnya