Advertisement

iklan

Strategi Trading Supply and Demand untuk Trader Pro

Penulis

+ -

Ingin lebih pandai dalam memanfaatkan Supply and Demand agar dapat menemukan profit lebih tinggi? Artikel lanjutan mengenai strategi trading menggunakan Supply and Demand untuk tingkatan trader pro.

iklan

iklan

Apabila Anda belum membaca artikel sebelumnya, saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu di artikel berjudul "Panduan Dasar Trading Menggunakan Supply and Demand", barulah masuk ke dalam pembahasan lanjutan di artikel ini.

Supply and Demand

Pada artikel tersebut, Anda telah belajar mengenai panduan dasar trading menggunakan Supply and Demand. Mulai dari konsep dasar, cara entry, hingga menggambar zona keseimbangan, dan sistem tradingnya. Jadi, pada artikel ini, saya akan membahas cara trading tingkat lanjutan menggunakan strategi Supply and Demand.

 

Zona Keseimbangan Supply And Demand

Mari mengulang sedikit pembahasan tentang zona keseimbangan agar tak lupa. Zona keseimbangan merupakan kondisi di mana jumlah pembeli dan barang yang tersedia sama besarnya. Tidak ada kekurangan maupun surplus yang bisa menyebabkan perubahan harga secara signifikan.

Secara bahasa sederhana, zona keseimbangan adalah kondisi pasar yang sedang sideways. Di mana kondisi sideways menunjukkan kondisi pasar yang belum ada dominasi dari pihak buyer maupun seller.

Hal ini tentu sama saja dengan zona keseimbangan, di mana jumlah ketersediaan barang dan permintaan seimbang dan tetap. Maka, dapat disimpulkan bahwa kondisi sideways adalah zona keseimbangan.

Lalu, bila dalam pasar ditemukan zona keseimbangan, apakah zona ketidakseimbangan juga ada? Bila ada, bagaimana kaitannya dengan cara trading menggunakan Supply and Demand? Nah, inilah yang hendak dibahas tuntas dalam artikel ini. Mari kita mulai saja!

 

Zona Ketidakseimbangan Supply And Demand

Berkebalikan dari zona keseimbangan, zona ketidakseimbangan adalah zona ekstrim di mana harga dapat bergerak secara signifikan. Pada zona ekstrim tersebut, terdapat kecenderungan perbedaan besar antara jumlah pasokan dengan peminatnya.

Zona ketidakseimbangan inilah yang sering dimanfaatkan untuk melihat titik-titik penting Reversal maupun Retracement pada pasar. Kok bisa demikian?

Perlu Anda ingat, bahwa zona keseimbangan terjadi akibat adanya tawar-menawar antara penjual dan pembeli, namun berbeda halnya dengan zona ketidakseimbangan. Zona ini terbentuk justru akibat terjadinya kecenderungan dan bias perihal ke mana harga itu akan bergerak.

Tak heran apabila zona ini banyak digunakan trader ritel maupun bank untuk menempatkan order-order besarnya. Dan karena jumlah order pada zona ini sangat besar, maka zona ini juga sering disebut dengan area likuiditas tinggi.

Baca Juga: Pentingnya Likuiditas Market

High Liquidity Zone atau zona likuiditas tinggi memang mampu menawarkan tingkat eksekusi dengan risiko kecil dan peluang yang besar.

Meski zona ini terlihat sangat baik untuk dijadikan patokan dalam menentukan titik reversal maupun penerusan pada pasar, namun bukan berarti zona ini merupakan area sempurna. Ingat, tidak ada yang benar-benar tahu ke mana harga pada pasar akan bergerak.

Lalu bagaimana contoh zona ketidakseimbangan dalam sebuah candlestick? Berikut struktur dasar zona ketidakseimbangan dalam sebuah candlestick.

Pertama, Anda harus memahami bahwa terdapat 3 bagian utama penyusun candlestick tersebut. Bagian Body candle melambangkan zona keseimbangan, sedangkan 2 sumbu candle melambangkan zona ketidakseimbangannya.

Seperti yang dapat diperhatikan pada gambar anatomi di bawah, terdapat 2 jenis zona ketidakseimbangan, yaitu zona Supply dan Zona Demand. Zona Supply adalah zona yang terdapat banyak penjual siap menjual barangnya, sedangkan zona Demand adalah zona di mana terdapat banyak pembeli yang siap membeli barang.

Supply and Demand

Sekarang coba perhatikan sebuah candlestick Pin Bar dengan buntut panjang di atas seperti gambar anatomi candlestick itu. Menurut Steve Nison, Pin Bar seperti itu melambangkan kuatnya minat para seller dalam suatu pasar.

Anda pun juga disarankan untuk entry posisi sell bila melihat ada Pin Bar baru terbentuk. Dan semakin besar perbedaan panjang sumbu dengan body-nya, makin besar pula tekanan jual tersebut.

Dalam perspektif Supply and Demand, anatomi candle tersebut telah dapat menggambarkan bagaimana perbandingan antara jumlah barang dengan jumlah permintaannya. Semakin panjang sumbu candle, maka makin jauh pula perbedaan antara jumlah barang dengan peminatnya.

Semakin panjang sumbu atas (Supply) dibandingkan dengan sumbu bawah (Demand), maka harga akan makin tertekan untuk turun dengan kuat. Begitupun sebaliknya.

Konsep ini sebenarnya juga hampir mirip dengan konsep dasar penggunaan garis Support dan Resistance. Pada level Support, kecenderungan harga untuk naik menjadi lebih besar, begitupun sebaliknya pada level Resistance, yaitu kecenderungan harga untuk turun pun lebih besar.

Namun tak hanya sama pada hal tersebut, pada area Supply and Demand, juga bisa terjadi breakout ataupun breakdown.

 

Jenis-Jenis Zona Ketidakseimbangan

Secara umum terdapat 2 buah jenis zona ketidakseimbangan, yaitu zona Supply dan zona Demand. Kedua zona Supply And Demand ini juga terbagi dalam zona penerusan harga dan zona pembalikan harga.

 

Zona Penerusan Harga

Dengan kecenderungan harga untuk terus melanjutkan perjalanan, zona ketidakseimbangan ini biasanya muncul setelah pergerakan kuat ke satu sisi terjadi pada pasar. Waktu yang dibutuhkan harga untuk meneruskan bisa beragam.

 

1. Zona Drop Base Drop Supply

Zona ini merupakan daerah yang menandai akan terjadinya penurunan harga lanjutan secara signifikan. Zona Drop Base Drop Supply (DBD Supply) sering digunakan karena harga kerap melakukan pullback ke zona ini, setelah menembus Support ataupun suatu zona keseimbangan.

Supply and Demand

 

2. Zona Rally Base Rally Demand

Zona ini merupakan daerah yang menandai akan terjadinya kenaikan harga lanjutan secara signifikan. Sama seperti zona DBD Supply, zona ini juga menjadi tempat pullback harga setelah menembus suatu Resistance atau zona keseimbangan. Untuk selanjutnya, zona ini akan disebut RBR Demand.

Supply and Demand

 

Zona Pembalikan Harga

Dengan kecenderungan harga untuk berbalik arah, zona ketidakseimbangan ini muncul saat harga pada pasar mencapai titik level Support atau Resistance tertentu. Harga yang mencapai level itu akan memutuskan untuk berbalik dan menjauhi zona tersebut. Waktu yang dibutuhkan harga untuk berbalik dan menjauhi zona pembalikan bisa beragam.

 

1. Zona Rally Base Drop Supply

Zona ini merupakan daerah yang menandai pembalikan harga dari sebuah kenaikan ke penurunan. Setelah menyentuh zona ini, harga bisa saja tidak kembali, atau malah berbalik menembus zona Demand. Zona ini disebut RBD Supply.

Supply and Demand

 

2. Zona Drop Base Rally Demand

Kebalikan dari RBD Supply, zona ini merupakan daerah yang menandai pembalikan harga dari sebuah penurunan ke kenaikan. Setelah menyentuh zona ini, harga bisa saja tidak pernah kembali, atau malah berbalik menembus setelah mencari penjual di Supply terdekat. Untuk selanjutnya, zona ini akan disebut DBR Demand.

Supply and Demand

 

Cara Menggambar Zona Ketidakseimbangan

Menggambar zona ketidakseimbangan itu jauh lebih mudah daripada menggambar zona keseimbangan biasa. Sebab dalam menggambarkannya, Anda akan dibantu menggunakan pola-pola candlestick yang sudah terkenal.

Selain Pin bar seperti yang telah dicontohkan di atas, terdapat beberapa pola candlestick lain yang dapat menjadi patokan dalam menggambar zona ketidakseimbangan, seperti Engulfing, Harami, Piercing, dan Doji.

Supply and Demand

 

Sistem Trading Dengan Supply And Demand Zona Ketidakseimbangan

Sebelum membahas lebih dalam mengenai trading menggunakan zona ketidakseimbangan, selalu ingat 4 aturan penting yang telah dipelajari sebelumnya, yaitu:

  • Sell hanya di Supply.
  • Buy hanya di Demand.
  • Selalu lihat ke kiri.
  • Selalu perhitungkan risiko dengan detail.

Sebenarnya, sistem trading ini akan difokuskan hanya pada Entry Pullback, atau Retest, maupun Retracement saja. Selain itu, Anda juga dapat entry dengan gaya Counter Trend maupun Follow Trend. Berikut perlengkapan lengkap sekaligus setup-nya.



Market Filter

Dalam menyaring market, tandai terlebih dahulu zona ketidakseimbangan yang ada pada time frame daily atau weekly. Ini untuk memudahkan Anda dalam melihat posisi harga saat ini, jika dilihat dari skala besar. Perhatikan contoh di bawah berikut ini, yang merupakan grafik EUR/USD time frame daily sebagai gambaran besar.

Supply and Demand


Setup Trading

Kondisi Setup yang dibutuhkan bukan melihat tren secara keseluruhan, namun melihat posisi harga saat ini dalam time frame besar. Itulah kenapa dalam market filter Anda diminta untuk menandai zona ketidakseimbangan berdasarkan time frame daily atau weekly.

Melihat harga terkini berada di zona Demand, maka Anda harus fokus mencari peluang entry buy pada time frame yang lebih kecil. Sesuaikan time frame dengan gaya trading Anda, misalnya swing trader ataupun day trader, maka gunakan time frame H4 dan H1.

Supply and Demand

 

Entry

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, entry dalam strategi ini bisa dari Pullback, Retracement, maupun Retest pada zona ketidakseimbangan Supply And Demand. Ketentuan entry sebenarnya tidak sulit, semakin sering zona tersebut muncul, maka semakin tidak valid pula zona itu.

Jadi, apabila dilihat dari chart time frame H4, maka zona tersebut baru muncul untuk pullback ke dua kalinya. Dengan demikian, Anda bisa menggunakan pending order untuk entry buy pada zona tersebut.

Supply and Demand

Bahkan, sebagian trader Supply and Demand, memasang pending order hingga beberapa lapis di zona-zona tersebut. Ada yang memasangnya beberapa pip sebelum harga memasuki zona, sebagian lagi memasangnya di harga dekat batas akhir zona.

Tidak ada yang tahu kapan harga benar-benar akan ditolak atau zona. Saran saya, lebih baik Anda memasang pending order di harga dekat batas akhir zona, hal ini bisa meminimalisir risiko yang ditanggung, namun memiliki potensi keuntungan lebih besar. Dan satu hal yang tak boleh lupa, yaitu pasti SL sudah Anda pasang beberapa pip setelah batas akhir zona.

 

Exit Market: Trailing Stop Vs BEP

Untuk aturan exit pada strategi trading ini, para trader biasanya menggunakan Trailing Stop atau memindahkan SL ke BEP (Breakeven Point). Namun, manakah yang terbaik untuk digunakan pada sistem trading ini?

Menurut Sam Seiden, trader Support And Demand terkenal, BEP adalah cara exit yang paling baik untuk strategi ini. Anda bisa mengaplikasikannya berdasarkan perhitungan Risk and Reward Ratio.

Misalnya, Anda menggunakan rasio perbandingan Risk dan Reward sebesar 1:3. Maka, menurut Sam, Anda baru boleh memindahkan SL ke Breakeven Point saat harga running dengan floating profit sebesar 2 kali risk yang telah ditetapkan. Cara ini diklaim telah digunakan oleh Sam setelah bertahun-tahun melakukan riset menggunakan sistem trading ini.

 

Pada strategi Supply and Demand lanjutan ini, cara entry yang paling sering digunakan adalah pullback. Untuk memudahkan sekaligus menambah konfirmasi strategi ini, Anda bisa memasang indikator pemberi sinyal pullback dan memasangnya di MT4 secara gampang dengan mengikuti langkah-langkahnya di artikel berikut ini.

298149
Penulis

Lulusan Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Menggeluti dunia penulisan sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa tahun 2009. Mulai tertarik dengan dunia forex dan kripto, setelah lulus kuliah hingga sekarang sembari trading.

Tuba
Gambarkan yang akan terjadi pada gold minggu ini sampai hari jumat
Adiananta
Kita lihat saja news nanti malam akan berdampak apa bagi XAU. Kalau XAU berhasil breakdown hingga di bawah harga $1780, maka akan ada penurunan lanjutan. Tapi kalau tidak berhasil, kemungkinan emas akan kembali ke hingga $1720-an untuk retest resistance.