Advertisement

iklan

Tiga Mitos Seputar Investasi Saham

185805

Banyak orang yang mungkin saja sudah mengetahui apa itu investasi di bursa saham. Namun, kebanyakan diantara mereka hanya asal tahu saja, tidak mencoba ikut menjadi investor.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Banyak orang yang mungkin saja sudah mengetahui apa itu investasi di bursa saham. Namun, kebanyakan diantara mereka hanya asal tahu saja, tidak mencoba ikut menjadi investor (orang yang berinvestasi disebut investor), menanamkan dananya di bursa. Mereka lebih memilih menjadi penonton. Padahal, imbal hasil yang diharapkan dari investasi di bursa saham selalu lebih besar daripada investasi di aset lain. Namun, mereka tetap saja tidak mau ikut menjadi investor aktif maupun pasif di bursa saham.

Investasi Saham - ilustrasi

Risikonya Besar

Banyak alasan mengapa mereka belum mau menjadi investor saham. Pertama, mereka masih terbayang-bayang jika berinvestasi di saham risikonya besar. Ya, memang pada prinsipnya saham itu high risk high return. Jadi, alasan investasi saham risikonya besar memang benar. Namun, dibalik risiko yang besar itu ada imbal hasil yang bisa saja nilainya lebih besar dari risikonya.

Kenyataannya, investasi saham itu harus menghasilkan jumlah yang terus bertambah banyak. Kita tidak mungkin berinvestasi, tetapi jumlah modal investasi kita masih tetap sama dari waktu ke waktu. Kalau demikian, itu bukan investasi namanya. Dalam tujuan investasi kita adalah keuntungan, keuntungan, dan keuntungan. Kalau tidak untung, apa itu masih bisa disebut investasi!?

Investasi Saham Sama Dengan Judi

Alasan kedua, investasi saham masih dianggap sebagai judi. Orang yang berpendapat seperti itu mungkin saja masih menganggap bahwa investasi di saham penuh dengan spekulasi. Padahal, investasi dan spekulasi sangat jauh perbedaannya. Investasi itu bukan spekulasi.

Investasi Bukan Judi
Kita menginginkan keuntungan dari hasil investasi. Karenanya, investasi itu menuntut keahlian dan hasil akan diperoleh dari kemahiran. Hal ini dikarenakan yang kita lakukan adalah investasi, bukan spekulasi. Kalau spekulasi, kita hanya menebak nebak saja, mana saham yang bisa menghasilkan keuntungan tanpa dasar perhitungan dan analisis yang jelas. Sedangkan, investasi saham menuntut kita menganalisis berbagai macam aspek. Mulai dari prospek perusahaan kedepan, analisis laporan keuangan, analisis pengelolaan yang dilakukan manajemen, dan menganalisa bagaimana pengaruh kondisi perekonomian nasional, regional dan global terhadap kinerja perusahaan kedepannya. Jadi investasi butuh keahlian dan kemahiran bukan?

Karena investasi itu menganalisis data semua aspek, maka investasi akan selalu masuk akal. Ada banyak alasan ilmiah yang bisa kita sampaikan dari alasan kita memilih saham A, B atau C sebagai investasi kita. Dan tentunya, saham yang kita pilih mengandung kemungkinan gain diatas 50%. Dan inilah yang bisa menjadi pembeda investasi dan spekulasi. Maksudnya, kalau spekulasi itu tingkat keuntungan dan kerugiannya 50:50. Sedangkan investasi itu dari hasil analisis yang mendalam, sehingga kemungkinan berhasil diatas 50%. Seandainya tingkat keberhasilan kurang dari 50%, tentu saja kita akan menganalisis dan memilih saham lain yang tingkat kepastian keberhasilannya lebih tinggi.

Hanya saja, meskipun kita yakin jika tingkat keberhasilan lebih dari 50%, tetapi hasil akhir dari investasi saham tidak dapat diketahui hasilnya terlebih dahulu. Berbeda dengan tabungan ataupun deposito di bank. Investasi saham itu diawal tidak bisa dihitung berapa hasil akhir keuntungan yang bisa kita dapatkan nanti. Karena keuntungan pada hasil akhir nanti bergantung dari banyak faktor yang sifatnya labil, bukan stabil.

Investasi Saham Butuh Modal Besar

Alasan ketiga, bagi sebagian orang mungkin saja masih berpikiran jika kalau mau investasi saham diperlukan modal yang cukup besar. Padahal, per Januari kemaren Bursa Efek Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan berupa pengurangan jumlah saham per lot saham. Tahun 2013 dan tahun sebelum-sebelumnya, kita beli saham minimal 1 lot yang terdiri dari 500 lembar saham. Sedangkan, sejak awal Januari 2014, kita bisa membeli saham 100 lembar saja, karena 1 lot sama dengan 100 lembar. Sehingga, jika kita ingin investasi di saham Ciputra Development misanya, kita cuma perlu mengeluarkan uang 90.000,- rupiah saja, dan kita sudah tercatat sebagai investor. Kok bisa hanya 90 ribu? Harga saham Ciputra di bursa dihargai 900. Pembelian minimal 1 lot atau 100 lembar. Tinggal dikalikan saja antara harga dengan jumlah lembar yang kita beli atau 900 dikali 100. Hasilnya 90 ribu bukan? Jadi, masih berpikir investasi saham membutuhkan modal yang besar?

Lot Saham
Selain itu, investasi saham itu memutar uang dingin (uang nganggur), bukan uang panas yang keluar masuk dompet dengan cepat. Karena, investasi di saham fluktuasinya sangat cepat. Penulis sering saat baru membeli saham, tiba-tiba saham yang dibeli harganya turun dan terus mengalami penurunan. Dengan harga yang lebih rendah dari harga waktu kita beli, kita tidak mungkin menjualnya. Kalau terpaksa menjualnya, maka kita akan mengalami kerugian. Sedangkan, tujuan investasi itu untuk mendapatkan keuntungan, bukan rugi.

Karenanya, kalau harga saham sedang turun, biasanya penulis tahan dan tidak menjualnya dulu. Tahan dan disimpan untuk jangka waktu yang lama. Penulis tidak khawatir kalau nantinya dapur tidak bisa mengepul, karena uang yang diinvestasikan adalah uang nganggur, bukan uang yang biasa dipakai untuk keperluan sehari-hari. Lantas, bagaimana jika seandainya uang yang dipakai investasi saham adalah uang yang seharusnya dipakai buat belanja kebutuhan dapur?

Kalau itu, bukan investasi namanya. Karena, seandainya saja harga saham yang kita beli terus turun, maka mau tidak mau kita harus menjual saham tersebut daripada anak dan istri kelaparan. Kerugian akibat harga yang turun tersebut adalah risiko yang harus ditanggung.  Makanya, investasi itu adalah memutar uang dingin (uang nganggur) bukan uang panas yang keluar masuk dompet dengan cepat.


Masih banyak alasan lain yang terpikir oleh kebanyakan orang. Penulis pikir, masih wajar jika orang-orang yang belum paham memiliki anggapan yang demikian buruk terhadap investasi saham. Tetapi tentunya dengan mendapatkan lebih banyak pengetahuan, pemahaman itu akan berubah.

Selamat berinvestasi.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.