Tips Investasi: Karena Dalam Jangka Panjang, Kita Semua Mati

Banyak orang yang menyarankan investasi jangka panjang sebagai formula ajaib untuk meraih kebebasan finansial. Padahal, ini bisa jadi nasehat yang menyesatkan. Kenapa? karena dalam jangka panjang, kita semua akan mati.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Banyak orang yang menyarankan investasi jangka panjang sebagai formula ajaib untuk meraih kebebasan finansial. Padahal, ini bisa jadi nasehat yang menyesatkan. Kenapa? karena dalam jangka panjang, kita semua akan mati. Masalah utama dengan praktek investasi jangka panjang 'beli lalu pegang terus' adalah: kita bisa jadi gagal menikmati profit yang diharapkan karena umur kita terbatas.

Investasi Jangka Panjang - ilustrasi

 

Hidup Hingga 122 Tahun

Sebuah kisah nyata dari buku "Gents With No Cents" menyoroti ketidakpastian investasi jangka panjang ini.

"Mari berkenalan dengan Jeanne Louise Calment. Ia lahir di Arles, Perancis, pada 21 Februari 1875. Pada 1965, ketika ia berumur 90 tahun, ia menilai bahwa itu adalah waktunya untuk pensiun dan mencairkan investasinya. Jadi Calment menjual apartemennya kepada pengacaranya, Francois Raffray. Bagi Raffray yang baru berumur 47 tahun, jual beli itu dipandang menguntungkan. Itu adalah investasi jangka panjang ideal yang tentunya akan menghasilkan profit. Ia setuju untuk membayar cicilan bulanan pada Calment hingga ia meninggal. Sebagaimana 99.9 persen investor jangka panjang lainnya, Raffray sudah menganalisa, memproyeksikan, dan menganalisa ulang profit yang belum diperolehnya, karena menganggap bahwa waktu ada di pihaknya."

"10 tahun berlalu, tahun 1975 tiba, dan Calment masih hidup. Raffray pun terpaksa harus terus membayarnya. Investasi jangka panjangnya belum juga berbuah, tetapi ia yakin segera akan menuai hasil. Sementara itu, ia terus menganalisa, memproyeksi, dan menganalisa keuntungan yang akan didapatnya di masa depan."

"Hingga akhirnya tahun 1985 tiba, dan secara mengejutkan Calment bukan cuma masih hidup, melainkan juga melakukan segala hal yang orang berumur 110 tahun tidak bisa melakukannya!. Ia bermain anggar, memasak, bersepeda. Dan Raffray pun harus terus membayar cicilan pada Calment."

"Ketika 10 tahun lagi berlalu dan 1995 tiba, Calment masih hidup, mementahkan statistik mortalitas, dan mengacuhkan malaikat maut. Kemudian 'permainan investasi jangka panjang' itu tiba-tiba terhenti ketika Raffray meninggal karena kanker pada umur 77, meninggalkan jandanya untuk terus membayar cicilan hingga Calment akhirnya meninggal 20 bulan kemudian."

Ekonom tenar JM Keynes pernah mengakui keterbatasan perencanaan jangka panjang dengan mengatakan, "Dalam jangka panjang, kita semua mati". Sepintas, menanamkan modal dengan target beberapa tahun atau puluh tahun ke depan mungkin kelihatan mapan, tetapi sejatinya investasi jangka panjang penuh dengan ketidakpastian. Kita bisa saja beruntung berumur panjang hingga 122 tahun seperti Calment, tetapi kita juga bisa saja tak punya cukup waktu untuk memanen hasilnya. Menunggu beberapa dekade untuk meraup profit jelas berisiko tinggi.

 

Awas Volatilitas

Banyak yang salah kaprah, menganggap investasi jangka panjang akan terlindung dari jatuh-bangunnya harga yang dialami trader dan investor jangka pendek. Namun, investasi jangka panjang juga bukan pelindung aset dari volatilitas. Ambil contoh investasi saham. Dengan harapan saham yang dipegang lama-lama makin menjulang harganya, maka menumpuk terus lembar demi lembar saham. Tanpa memperhitungkan kalau pasar bisa saja crash, perusahaan bisa saja gulung tikar.

Volatilitas, atau naik-turunnya harga aset di pasar finansial, bisa membuat investor susah untuk mencairkan dananya. Jika di tengah-tengah krisis tiba-tiba kita perlu menjual saham-saham itu, maka jarang ada yang mau membelinya; atau jikalaupun terbeli maka kita mesti menanggung rugi. Jadi meskipun investasi jangka panjang mengurangi risiko kita mengalami rugi, tetapi tidak lantas berarti kita 100 persen aman.

Ketidak-amanan ini menjadi dobel kalau kita pertimbangkan investasi tanah atau properti yang relatif jauh lebih susah lagi dijual ketimbang aset finansial. Inilah kenapa pandangan nenek moyang kita yang membeli tanah banyak-banyak kini dianggap sudah ketinggalan jaman.

Yang terpenting di hari tua adalah berapa banyak uang yang sudah kita kumpulkan untuk pensiun, BUKAN berapa banyak uang yang masih ada di tangan. Dalam hal ini, maka strategi yang perlu diterapkan adalah merencanakan investasi yang terdiversifikasi sesuai dengan seberapa besar risiko yang mampu kita tanggung. Intinya, jangan menyerahkan uang pensiun kita pada satu jenis aset saja, dan selalu kenali kapan waktu yang paling strategis untuk beli dan jual. Karenanya, tidak ada salahnya untuk membeli Emas sembari juga bertrading forex. Atau bertrading forex, tetapi juga menanamkan dana di pasar saham dan jual-beli properti.

Aisha telah melanglang buana di dunia perbrokeran selama nyaris 10 tahun sebagai Copywriter. Saat ini aktif sebagai trader sekaligus penulis paruh waktu di Seputarforex, secara khusus membahas topik-topik seputar broker dan layanan trading terkini.


Mentari
wow, bisa seperti itu juga ya kasusnya nyicil apartemen sampai pemiliknya meninggal, eh tapi sebelum pemiliknya meninggal, pemohonnya dah mati duluan.... nasib... saya juga baca2 artikel saat ini orang2 sudah semakin susah mengumpulkan kekayaan, jika di-awal 70an kita bisa dijamin kaya hanya dengan membeli obligasi, maka saat ini di era globalisasi dan modernitas, kita harus lebih banyak membeli aset2 finansial (bonds, saham, emas, forex, dsb) untuk mengejar "jaminan" seperti era2 dulu. wah bener apa kata millenial, di masa depan kita akan semakin mendapat "earning" lebih kecil dari generasi sebelumnya (sudah termasuk inflasi) karena persaingan ketat dengan teknologi, dsb, tapi justru kemungkinan untuk lebih bahagia akan semakin besar... nah loh... soalnya satu2nya workforce dan frontier kita di masa depan adalah industri kreatif, jadi generasi X dan di atas mereka harus terpaksa "be cool or die tryin"
Agus Bastian
hmm wah masa depan itu sulit kita prediksikan, jangankan jauh2 kesana, hari ini aja mau makan apa masih ada yang bingung tuh wkwkwk Tapi emang bener sih kemungkinan industri kreatif di masa depan mungkin bisa jadi jauh lebih besar pasarnya, tapi bukan berarti sektor2 konvensional akan total dikuasai oleh teknologi2 otomatis (maksudnya robot kan yah?) Nah di masa depan pilihan hidup kita makin jelas: mau jadi nerds (buat kembangin teknologi) atau jadi jocks sama artisan (be cool tadi lah) wkwkwk, slamat berjuang! Gwa jadi geeks aja dah, forex geeks hahaha