Tips Trading Menggunakan Strategi Crossing MA

290678

Strategi crossing MA bisa dimanfaatkan sebagai acuan entry posisi. Di samping itu, Anda juga bisa mencoba trading saat terjadi crossing indikator MACD dan Stochastic.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Ada banyak sekali strategi trading yang bisa dijadikan pilihan saat berburu cuan. Mulai dari sekedar memanfaatkan pola-pola candlestick, hingga naik setingkat lebih menantang menggunakan beragam model analisa. Beberapa trader mungkin lebih mengidolakan strategi trading Price Action, atau Naked Trading yang "bersih" dari garis-garis indikator. Apabila Anda termasuk penggemar indikator teknikal, maka strategi crossing MA (Moving Average) bisa menjadi trik andalan tiap kali hendak entry posisi. 

Memanfaatkan Crossover Indikator

Crossing merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan perpotongan antar dua indikator MA, sekaligus memberi tahu titik entry yang tepat. Hal ini karena crossing cenderung menunjukkan indikasi terjadinya reversal, yang mana peluang tersebut bisa dimanfaatkan untuk meraup profit.

Meskipun demikian, bukan berarti trading dengan strategi crossing MA dianggap cukup sebagai panduan entry lho, traders... Ada juga crossing indikator MACD atau Stochastic yang bisa Anda jadikan alternatif lain saat sedang bertrading. Lantas bagaimanakah cara penggunaannya? Mari simak ulasan selengkapnya berikut ini.

 

1. Strategi Crossing MA (Moving Average)

Anda tentu sudah mengenal indikator Moving Average, bukan? Indikator satu ini dikenal sebagai tool paling sederhana dalam chart, tetapi multifungsi. Selain itu, indikator MA juga tersedia hampir di semua platform trading, bahkan menjadi indikator default yang terpasang dalam chart. Umumnya, indikator Moving Average terdiri atas 3 jenis, yaitu SMA (Simple Moving Average), EMA (Exponential Moving Average), dan WMA (Weighted Moving Average).

Meski terdiri atas berbagai jenis, tetapi fungsi utama indikator MA adalah sebagai pendeteksi arah tren sekaligus penentu titik entry dari crossing antar dua indikator MA, yakni MA berperiode pendek dan MA berperiode panjang. Periode MA yang digunakan ini bervariasi dan tergantung kebutuhan masing-masing trader. Namun, periode yang lazim digunakan antara lain SMA-20 dan SMA-50, SMA-20 dan SMA-100, atau SMA-50 dan SMA-200. Terjadinya crossing antara dua indikator MA juga disebut sebagai death cross atau golden cross.

Adapun contoh aplikasi strategi crossing MA bisa Anda lihat pada chart berikut ini:

Memanfaatkan Crossover Indikator Moving Average

Dengan melihat gambar di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadinya death cross bisa dimanfaatkan untuk entry Sell. Sebaliknya, golden cross umumnya menandakan entry Buy. Meski titik entry sudah diketahui dari strategi crossing MA di atas, tetapi ada baiknya Anda menggunakan konfirmator tambahan, seperti indikator RSI atau dengan menggunakan pola candle Heiken Ashi.

 

A. Gabungan Indikator MA Dan RSI

RSI (Relative Strength Index) adalah salah satu indikator teknikal yang populer digunakan untuk mendeteksi kondisi overbought dan oversold. Harga dinyatakan oversold apabila berada di bawah level 30, sementara level overbought dinyatakan bila harga berada di atas level 70. Mengenai kaitannya dengan penggunaan strategi crossing MA, indikator RSI dapat digunakan sebagai konfirmator, agar titik entry semakin terkonfirmasi dengan valid. Adapun contoh penerapannya bisa dilihat pada chart AUD/USD berikut ini:

Memanfaatkan Crossover Indikator MA dan RSI

 

B. Indikator MA Dan Heiken Ashi

Heiken Ashi adalah salah satu jenis chart yang tampilannya mirip grafik candlestick. Namun, jenis chart satu ini tampak lebih jelas dalam menggambarkan kekuatan tren yang terbentuk, serta mampu menyaring noise yang dapat menganggu trader saat trading tren. Penggunannya pun jauh lebih mudah bila dibandingkan candlestick biasa. Cukup perhatikan panjang shadow pada Heiken Ashi, maka Anda dapat menyimpulkan kekuatan tren saat itu.Trend trader umumnya juga menggunakan karakter bearish dan bullish Heiken Ashi sebagai cara entry berdasarkan pullback.

Dalam kaitannya dengan strategi crossing MA, pola Heiken Ashi biasanya memancarkan sinyal trend lebih dulu dibandingkan MA. Pada contoh chart EUR/USD di bawah ini, dapat Anda lihat bahwa terbentuknya candle bearish Heiken Ashi sudah menandakan Downtrend. Namun, pullback pertama dari trend tersebut justru bergerak dalam konsolidasi, sehingga kurang maksimal untuk dijadikan acuan entry sell. Baru setelah muncul crossing MA, pullback Heiken Ashi menandakan sinyal Downtrend yang lebih menjanjikan.

Memanfaatkan Crossover Indikator MA dan Heiken Ashi

 

2. Crossing Indikator MACD

Tak hanya Moving Average, indikator lain yang juga digunakan oleh trader adalah indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence). Indikator yang dibuat oleh Gerald Appeal pada tahun 1979 ini dinilai sangat sederhana dan fleksibel. Indikasinya pun tak jauh berbeda dengan Moving Average, karena MACD juga dapat menunjukkan arah pergerakan tren. Namun, MACD dianggap jauh lebih "matang" karena dapat sekaligus mengukur kekuatan (momentum) harga, serta menunjukkan titik entry berdasarkan crossing.

Sescara komponen, indikator MACD ini tersusun atas dua garis EMA, yaitu EMA berperiode 12 (EMA-12) dan EMA berperiode 26 (EMA-26). Kedua garis indikator ini bila berpotongan dapat dimanfaatkan untuk entry posisi. Adapun contohnya bisa Anda lihat pada chart GBP/USD berikut ini:

Memanfaatkan Crossover Indikator MACD

Meskipun titik entry sudah bisa diketahui bahkan hanya dengan menggunakan indikator MACD saja, tetapi akan lebih baik jika Anda menambahkan indikator lain seperti Parabolic SAR (PSAR). Selain indikator tambahan, entry posisi juga bisa dilihat berdasarkan sinyal divergen dari MACD.

 

A. MACD Dan Parabolic SAR

Parabolic SAR (PSAR) adalah indikator teknikal yang dibuat oleh Welles Wilder untuk digunakan saat pasar sedang trending. Kata SAR sendiri merupakan singkatan dari Stop And Reverse, yaitu penanda tempat berhenti dan berbaliknya arah market. Namun pada dasarnya, indikator ini berfungsi untuk menentukan arah tren, patokan entry, patokan exit. dan Trailing Stop.

Jika Anda memanfaatkan crossing indikator MACD sekaligus PSAR, maka titik crossing biasanya akan menandai perubahan posisi PSAR. Apabila candle berada di bawah titik-titik PSAR, maka kondisi tersebut menunjukkan Downtrend. Sebaliknya bila harga sedang Uptrend, candle akan berada di atas titik-titik PSAR. Contoh gabungan antara indikator PSAR dan MACD dapat Anda lihat pada chart berikut ini:

Memanfaatkan Crossover Indikator MACD dan PSAR

 

B. MACD Dan Sinyal Divergen

Ada dua jenis Divergen yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk entry, yaitu Bullish Divergence untuk Entry posisi Buy, dan Bearish Divergence untuk Entry posisi Sell. Contoh chart XAU/USD di bawah ini menunjukkan kondisi Bullish Divergence, sehingga bisa dimanfaatkan untuk entry Buy setelah terbentuknya pola Bullish Engulfing.

Konvergen dan Divergen dalam MACD

 

3. Crossing Indikator Stochastic

Stochastic termasuk indikator pertama yang digunakan para analis untuk memprediksi arah pergerakan harga. Indikator ini merupakan salah satu jenis indikator oscillator yang dibuat oleh George Lane dan mulai diperkenalkan pada akhir tahun 1950-an. Tingkat akurasi indikator ini pun tak perlu diragukan lagi, mengingat "usia"nya yang telah mencapai setengah abad. Oleh sebab itu, Stochastic Oscillator hingga kini masih digunakan oleh tak hanya trader forex sukses, tetapi juga saham, futures maupun komoditi.

Jika dilihat dalam chart, indikator Stochastic tampak sekilas mirip dengan RSI. Namun, indikator Stochastic terdiri dari dua komponen yang ditampilkan secara bersamaan, yaitu Garis %K yang mengukur tingkat perubahan harga saat ini, dan garis %D yang merupakan nilai rata-rata (Moving Average) dari garis %K, atau %K yang diperhalus. Garis ini disebut juga dengan garis sinyal.

Sama halnya dengan indikator lain, Anda juga bisa memanfaatkan crossing indikator Stochastic untuk entry posisi. Kuncinya yaitu:

  1. Jika %K memotong %D dari arah bawah ke atas, maka mengisyaratkan sinyal untuk buy.
  2. Bila garis %K memotong %D dari arah atas ke bawah, berarti mengisyaratkan sinyal untuk sell.

Chart USD/JPY berikut ini menunjukkan contoh entry posisi dengan memanfaatkan crossing indikator Stochastic:

Memanfaatkan Crossover Indikator Stochastic

 

Akhir Kata

Strategi crossing MA memang menjadi "juara" bagi mayoritas trader teknikal. Kesederhanaan penggunaan serta indikasi yang ditunjukkannya menjadi alasan indikator Moving Average memperoleh tempat tertinggi di hati para trader. Namun, jika Anda tak ingin trading dengan strategi crossing MA, Anda juga bisa memanfaatkan crossing indikator MACD atau Stochastic.

Meskipun demikian, strategi trading memanfaatkan crossing indikator teknikal akan lebih baik jika didukung oleh beberapa konfirmator, misalnya indikator lain, pola candlestick tertentu, hingga pembacaan sinyal Divergen.

Apapun jenis crossing yang Anda pilih, pastikan untuk selalu memperhatikan Trading Plan dan Money Management yang telah dibuat. Selain itu, manajemen emosi juga perlu diterapkan agar tak menyesal di tengah jalan. Happy Trading, Everyone!

 

Tahukah Anda? Indikasi reversal tak hanya bisa dikonfirmasi melalui crossing indikator teknikal. Jika Anda adalah tipe trader yang ogah ribet karena indikator, maka Anda bisa membaca indikasi reversal melalui pola-pola Price Action. Lantas, pola apa sajakah yang bisa menunjukkan pembalikan arah tren tersebut? Mari simak ulasan selengkapnya di artikel "Memanfaatkan Pola Pin Bar Reversal Dalam Trading".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.