Uang dalam Pandangan Al Ghozali

92852

Dalam ilmu ekonomi tradisional uang didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efesien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efesiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Uang memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.

Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.

Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri: singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.


Pandangan Al Ghozali

Dalam dunia islam Al-Ghozali terkenal dengan pemikiran filsafat dan tasawwufnya. Buku fenomenalnya, Ihya’ Ulumuddin pun dianggap sebagai salah satu buku yang banyak membahas mengenai filsafat dan tasawwuf. Sekalipun demikian, banyak dalam bukunya dibahas masalah-masalah yang berkenaan dengan kemasyarakatan, pendidikan hingga permasalahan ekonomi. Salah satu dari pembahasan beliau adalah pembahasan mengenai fungsi uang.

uang dalam pandangan al ghazali
Dalam pembahasan tentang fungsi uang, Al-Ghozali memulai dengan mengumpamakan uang sebagaimana cermin yang memantulkan berbagai macam warna dan cermin sendiri tidak berwarna. Dengan kata lain, uang menurut Al-Ghozali tidak memiliki nilai intrinsic atau bias dikatakan tidak memberikan fungsi kepuasan langsung (direct utility function). Uang hanyalah suatu representasi nilai dari suatu benda. Beliau mengutarakan demikian karena melihat fenomena masyarakat yang terjadi dalam barter, di mana ketika seseorang membutuhkan sesuatu, maka ia harus mencari orang yang memiliki barang yang dibutuhkannya dan menukarkannya dengan barang yang dimilikinya. Dan seringkali barang yang ingin ditukarkannya tidak sama nilainya dengan apa yang dimilikinya. Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki unta dan membutuhkan beras, maka ia harus menukarkan untanya dengan beras, sedangkan nilai unta ketika ditukarkan dengan beras tidak begitu jelas, sehingga memicu timbulnya gharar dan spekulasi yang diharamkan dalam Islam. Maka untuk menjaga dari hal tersebut, maka diperlukanlah uang sebagai satuan nilai (unit of account).

Setelah itu, Al-Ghozali kembali menganalisis bahwa proses barter memiliki banyak kelemahan dan ketidak praktisan, maka beliau kembali menyuarakan bahwasanya dinar dan dirham merupakan rahmat dari Allah SWT dan keduanya yang di sini merupakan mata uang zaman tersebut, cocok untuk digunakan sebagai alat tukar (medium of exchange).

Berangkat dari argumen di atas, beliau sangat menentang penimbunan uang. Selain karena adanya larangan secara eksplisit dari Allah SWT, beliau juga mengutarakan jika terjadi penimbunan uang, maka perekonomian akan mengalami kemunduran karena jumlah uang beredar berbanding lurus dengan transaksi yang terjadi di masyarakat. Semakin sedikit uang yang beredar di pasaran, maka semakin sedikit volume perdagangan yang terjadi. Dan lebih parah lagi, jika jumlah uang beredar tidak sebanding dengan jumlah komoditas yang ada, maka akan memicu terjadi inflasi di masyarakat.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Al-Ghozali juga tidak setuju dengan perdagangan uang, karena perdagangan uang dapat memicu kelangkaan jumlah uang beredar di masyarakat dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang berimplikasi pada penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Para ekonom senantiasa membohongi publik bahwa resesi dan depresi adalah bagian alami dari siklus bisnis. Namun kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Resesi dan depresi selalu terjadi bila Bank Sentral memanipulasi jumlah uang beredar, yang tujuan akhirnya adalah memastikan semakin banyak kekayaan yang ditransfer dari masyarakat ke tangan mereka. Bank sentral sendiri merupakan metamorfasa dari pedagang uang di zaman dahulu

Konon dikabarkan Julius Caesar mengambil kembali hak untuk untuk membuat koin emas dari tangan pedagang uang di zamannya untuk kepentingan masyarakat. Dengan suplai uang baru yang berlimpah, dia memulai banyak proyek konstruksi dan pekerjaan umum. Dengan jumlah uang yang banyak, Caesar memenangkan hati dari rakyatnya. Tetapi para pedagang uang membencinya dan karena itu Caesar dibunuh. Setelah kematian Caesar, suplai uang berkurang, pajak naik, demikian juga korupsi. Pada akhirnya suplai uang di Roma berkurang sampai 90%, yang menyebabkan rakyat jelata kehilangan tanah dan rumahnya.

Yesus (Isa Almasih) untuk pertama kalinya menggunakan kekerasan untuk mengusir para pedagang uang keluar dari bait Allah. Ketika orang Yahudi membayar pajak ibadah di Yerusalem, mereka harus membayar dengan koin khusus, setengah shekel (setengah ounce perak murni) Koin jenis itu adalah satu satunya koin perak murni tanpa gambar Raja, karenanya bagi Yahudi itu adalah satu-satunya koin yang bisa diterima oleh Tuhan. Sayangnya koin ini jumlahnya tidak banyak, para pedagang uang mengumpulkan hampir semuanya, dan harga dari koin ini menjadi sangat mahal karenanya. Mereka memaksa orang-orang Yahudi untuk membayar mahal koin ini dan mendapatkan keuntungan yang besar. Yesus mengusir para pedagang uang ini karena tindakan monopoli mereka yang merusak kesucian rumah Allah. Orang Yahudi membencinya, hingga akhirnya mengejar dan berusaha membunuhnya.

kita bisa mengambil kesimpulan, aang dipandang sangat berharga saat ini. Orang bekerja untuk mendapatkan uang. membeli sesuatu harus dengan uang. Orang bertengkar bahkan saling membunuh karena uang. Istri ngamuk karena Tidak ada uang.

Sampai ada pribahasa/slogan Ada uang Abang Disayang, Tak Ada uang Abang Ditendang
Ada apa dengan uang? padahal uang hanya kertas dan logam yang bertuliskan angka-angka?

Mulai terjun di dunia trading akhir tahun 2009. Pertama kali belajar konsep Money Management dari seorang trader Jepang, kemudian berlanjut otodidak. Strategi trading berpatokan pada level Support dan Resistance (Supply and Demand), dengan dasar High Low yang pernah terjadi, ditunjang range market yang sedang berlangsung dan pembatasan risiko.