AUD/USD Melemah Ke Level Terendah 32 Bulan, Ini 3 Sebabnya

Dampak perang dagang, prospek kenaikan suku bunga as, dan naiknya Yields Obligasi AS menekan AUD/USD ke level terendah 32 bulan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

AUD/USD menutup perdagangan hari Rabu kemarin (10/10) dengan penurunan tajam ke area level terendah 32 bulan. Dampak negatif perang dagang AS-China semakin terasa setelah pasar saham AS mengalami kejatuhan dan menyeret mata uang komoditas seperti Dolar Australia.

Selama dua hari berturut-turut, AUD sempat reli hingga menyentuh level 0.7130 terhadap Dolar AS. Namun demikian, rebound tersebut tidak mampu bertahan lama, karena Dolar Australia kemudian terperosok saat memasuki sesi Eropa. Penurunan AUD semakin dalam di sesi New York kemarin malam.

AUD bahkan sempat menyentuh level 0.7043, yang merupakan posisi terendah sejak awal 2016, dan berada di dekat level psikologis 0.7000 terhadap Dolar AS. Pada saat berita ini ditulis, pair AUD/USD berada di kisaran 0.7078, sedang berusaha menguat dari penurunan tajam yang diderita pada perdagangan hari Rabu.

AUD/USD - 11 Oktober 2018

Selain terhadap USD, Dolar Australia juga diketahui melemah terhadap major currencies lain. Pada pukul 08:00 pagi waktu Sydney, AUD/JPY melemah -1.36 persen, AUD/CNH melemah -0.67 persen, AUD/EUR turun -1.02 persen, dan AUD/GBP melemah -1.15 persen. Akan tetapi, AUD ternyata mampu menguat tipis sebesar 0.08 persen terhadap Dolar Kanada.

 

Faktor-Faktor Yang Menekan Dolar Australia

  1. Perang dagang antara AS dan China telah berdampak negatif terhadap sebagian besar perusahaan AS. Alhasil, kondisi tersebut menyeret bursa saham AS dan Eropa dengan penurunan cukup dalam. Kejatuhan pasar saham AS menyita perhatian banyak kalangan. Perlu diketahui, Bursa Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencatatkan penurunan lebih dari 3 persen dalam satu hari perdagangan. S&P 500 juga ikut terperosok hingga mencatatkan penurunan harian terbesar sejak bulan Februari. Namun menurut Pejabat Gedung Putih, hal tersebut hanya koreksi dari tren bullish, sehingga pasar saham secara umum masih dalam kondisi baik.
  2. Prospek kenaikan suku bunga AS semakin mantap, ditunjang oleh Laporan Inflasi Produsen AS yang tumbuh stabil pada bulan September, dan komentar hawkish pejabat Fed.
  3. Yields Obligasi kembali naik mendekati level tertinggi 7 tahun, sehingga menekan pergerakan saham dan harga komoditas. Dolar Australia yang sangat bergantung pada harga komoditas pun ikut terkena dampak tersebut.
285676

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.