Dasar - Dasar Dan Aneka Jenis Investasi

Investasi adalah proses meluangkan atau memanfaatkan waktu, uang, dan tenaga dengan ekspektasi akan mendapatkan keuntungan berupa uang atau materi lain yang bernilai lebih banyak lagi di masa depan. Jadi pada dasarnya orang berinvestasi dengan membeli sesuatu yang diharapkan bisa dijual kembali di masa yang akan datang dengan nilai harga yang lebih tinggi.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Beberapa cara investasi yang umum dikenal masyarakat diantaranya membeli properti, emas, saham, obligasi, dan lain sebagainya. Namun, tahukah Anda bahwa masyarakat Indonesia masih jarang berinvestasi? Ini karena kurangnya pemahaman mengenai dasar - dasar investasi, termasuk soal mengapa kita perlu berinvestasi, risiko investasi, serta aneka jenis investasi apa saja yang dapat dipilih. Nah, dalam artikel ini kita akan mengupas tuntas dasar - dasar investasi ini.


Mengapa Kita Perlu Investasi?

Pada dasarnya, melakukan investasi berarti menyiapkan masa depan dengan merencanakan keuangan kita saat ini. Untuk berinvestasi, seseorang harus mengalokasikan pendapatannya saat ini menjadi beberapa pos, minimal pos konsumsi dan pos investasi (tabungan). Mengapa tidak kita habiskan saja pendapatan yang terbatas itu untuk memenuhi kebutuhan sekarang?

Umumnya, ada lima alasan mengapa orang-orang berinvestasi:

1. Kesadaran bahwa daya beli uang akan susut dari waktu ke waktu karena adanya inflasi.
Pada era 90-an, uang sebesar 50 Rupiah dapat dibelikan dua permen enak. Namun, saat ini, untuk menebus permen dengan ukuran yang sama dibutuhkan beberapa ratus Rupiah. Bahkan, uang pecahan 50 Rupiah saja sudah sangat sulit ditemukan.

Anekdot ini menunjukkan betapa daya beli uang berkurang dari waktu ke waktu. Penyusutan daya beli ini dikarenakan oleh inflasi, yaitu fenomena kenaikan harga barang dan jasa secara terus menerus di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. Adanya kenaikan harga membuat perekonomian berkembang karena dengan demikian maka industri dapat berekspansi dan lapangan kerja baru terus bertambah. Namun, di saat yang sama ada efek negatif berupa penyusutan daya beli uang yang kita miliki.

Oleh karena itu, pepatah "menabung pangkal kaya" sebenarnya salah kaprah. Upaya menabung dalam celengan ayam jago atau menyimpan uang di bawah bantal, sejatinya justru membuat kita merugi. Ungkapan yang lebih tepat adalah "investasi pangkal kaya".

2. Ada kebutuhan atau keinginan yang belum dapat dipenuhi dengan dana yang kita miliki sekarang.
Apakah Anda ingin punya mobil? ingin naik haji? ingin jalan-jalan ke luar negeri? ingin sekolah lagi? Dapatkah gaji Anda saat ini memenuhi keinginan-keinginan tersebut? Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, ketika ada kebutuhan yang tak terpenuhi maka solusinya adalah mencari pinjaman (kredit bank). Padahal, jumlah uang yang harus kita bayarkan justru bertambah karena kita harus membayar bunga.

Daripada ambil kredit dan berdampak kena bunga, mengapa tidak berinvestasi saja agar kita yang mendapatkan bunga? Beberapa jenis investasi yang akan memberikan bunga bagi kita antara lain obligasi dan deposito. Jenis - jenis investasi lainnya bahkan dapat memberikan keuntungan dalam jumlah lebih besar, meskipun bukan berbentuk bunga.

3. Ada keinginan untuk meningkatkan jumlah aset (baca: jadi kaya dan makin kaya).
Hasrat untuk memperbaiki nasib itu lazim terbersit dalam benak siapa saja. Namun, jika kita ingin menjadi kaya, sementara gaji saat ini hanya 2 jutaan, maka berapa lama waktu yang akan dibutuhkan? Atau katakanlah ingin memiliki rumah senilai 2 milyar, tetapi gaji saat ini hanya 4 jutaan? Sekali lagi, kredit bukanlah solusi.

Apabila Anda ingin jadi kaya dan makin kaya, maka sisihkanlah sebagian pendapatan saat ini untuk investasi. Tak usah terlalu besar; bahkan hanya 100,000 Rupiah per bulan pun dapat diinvestasikan. Ingat pepatah, "sedikit demi sedikit menjadi bukit". Nah, jika dana tersebut terkumpul dalam produk investasi setelah beberapa waktu, maka kelak Anda bukan hanya akan dapat menarik kembali keseluruhan dana yang telah ditanamkan, melainkan juga ada prospek keuntungan yang membuat jumlahnya makin besar.


Dasar dan Jenis Investasi


4. Ada keinginan untuk melindungi nilai aset yang telah dimiliki. Setelah menyimak poin-poin di atas, barangkali Anda berpikir, "Ah, saya sudah punya gaji besar kok, naik setahun dua kali pula. Tak ada hal yang tak mampu saya beli". Ya, tapi itu kan sekarang.

Bagaimana jika nilai riil gaji Anda ternyata diam-diam berkurang karena inflasi? Atau bagaimana jika kelak rumah Anda terkena gempa, sementara Anda baru saja kena PHK? Masa depan itu tak ada yang tahu, sehingga lebih baik bila kita melakukan upaya untuk melindungi aset-aset kita sejak dini.

5. Berjaga-jaga mengantisipasi kebutuhan besar di masa depan.
Kebanyakan orang menjalani kehidupan dengan pola pikir, jika pendapatan sekian, maka pengeluaran sekian itu juga. Tak terpikir bahwa kelak anak-anak akan perlu masuk perguruan tinggi, atau orang tua ingin pergi berhaji, dan lain sebagainya. Nah, jika saat ini Anda sudah mulai memikirkannya, maka ketahuilah bahwa investasi merupakan opsi terbaik untuk menyiapkan anggaran guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan besar tersebut.

Risiko Investasi

Investasi termasuk salah satu jenis usaha yang tak hanya mengandung kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan, melainkan juga mengandung kemungkinan rugi.

Katakanlah Anda membuka restoran dengan ekspektasi akan laris manis dan jadi pusat kuliner terbaru. Namun, ada pula kemungkinan restoran kalah bersaing hingga akhirnya bangkrut. Demikian pula, jika Anda menanamkan dana dalam investasi berbentuk saham misalnya, tentu mengharapkan nilai saham terus meningkat seiring dengan makin makmurnya perusahaan penerbit saham tersebut. Namun, ada pula kemungkinan perusahaan bangkrut dan investasi Anda merugi.

Pada umumnya, probabilitas untung dan rugi dalam investasi mengikuti ungkapan "high risk, high return; low risk, low return". Dengan kata lain, makin tinggi risikonya, makin besar pula kemungkinan untungnya; makin rendah risikonya, makin rendah pula kemungkinan untungnya. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, investasi merupakan seni menimbang seberapa besar risiko yang dapat kita tanggung, diseimbangkan dengan berapa besar prospek keuntungannya.

Selain itu, karena adanya aspek risiko ini pula, kita sebaiknya hanya menanamkan "uang dingin" sebagai modal investasi. Apa maksudnya "uang dingin"? Uang dingin adalah dana yang belum dibutuhkan atau takkan dipergunakan dalam waktu dekat. Kasarnya, uang untuk investasi itu seharusnya bukan uang makan minggu depan, bukan uang untuk bayar sewa rumah bulan depan, bukan pula uang untuk membayar sekolah anak semester depan.

Jenis - Jenis Investasi

1. Deposito

Tak semua kegiatan menyimpan uang di bank termasuk investasi. Umpama Anda punya rekening tabungan di bank, kemudian setiap bulan memasukkan uang Rp100,000 di situ, maka tiap akhir bulan Anda akan menemukan bahwa jumlahnya susut menjadi Rp80,000-90,000 saja, karena dipotong biaya administrasi, sedangkan bunganya teramat kecil. Karenanya, "menabung di bank" tak bisa dikatakan sebagai investasi.

Berbeda halnya dengan deposito. Rekening deposito di bank tidak bisa diambil kapan saja seperti tabungan biasa, tetapi tak ada potongan biaya administrasi, sementara jumlah bunga lebih besar. Umpama Anda menyimpan Rp10,000,000 selama setahun pada deposito dengan bunga 5%, maka tahun depan dapat mengambil kembali uang Rp10,000,000 tersebut plus bunganya sekitar Rp394,000. (Baca juga: Apa Bedanya Menyimpan Uang Di Deposito dan Tabungan

Deposito merupakan jenis investasi dengan risiko terendah. Pendapatan yang bisa diperoleh dari investasi deposito relatif kecil jika dibandingkan dengan jenis investasi lainnya, tetapi biasanya cukup mampu mengimbangi laju inflasi. Meski demikian, Deposito umumnya dianggap kurang likuid karena harus ditahan selama beberapa waktu, baru kemudian dapat dicairkan.

2. Obligasi

Obligasi adalah sejenis surat hutang dengan jangka waktu tertentu yang telah disekuritisasi. Obligasi dapat diterbitkan oleh perusahaan ataupun pemerintah. Imbalan dari obligasi adalah modal pokok investasi plus kupon bunga.

Besarnya kupon bunga sudah ditentukan sekian persen dan umumnya lebih tinggi dibanding bunga deposito, karena risiko obligasi yang relatif lebih tinggi. Pembayaran kupon bunga dilakukan secara berkala, misalnya 3 bulan atau 6 bulan atau tahunan. Dana pokok investasi baru dapat ditarik saat obligasi jatuh tempo (maturity), yaitu tanggal ketika obligasi habis masa berlakunya.

Jika Anda perlu menarik dana pokok sebelum jatuh tempo, maka bisa menjual kembali obligasi pada orang lain, apabila ada yang berminat. Namun, biasanya obligasi sulit dijual kembali, sehingga pemiliknya harus siap menunggu hingga jatuh tempo.

3. Investasi Logam Mulia

Emas merupakan sarana investasi populer di kalangan masyarakat Indonesia. Selain bisa dijual kembali dengan mudah, pembelian emas pun dapat melindungi harta Anda dari risiko penurunan daya beli uang, karena harga emas meningkat seiring dengan inflasi.

Meski demikian, peningkatan nilai emas tidak stabil, bisa lambat maupun cepat. Bahkan, ada tahun-tahun ketika harga emas cenderung menurun. Biasanya, emas baru menunjukkan kenaikan cukup besar setelah 5 tahun atau lebih.



4. Investasi Properti

Properti (tanah dan bangunan) merupakan salah satu pilihan investasi yang relatif aman, selama tidak ada resiko gejolak politik, perubahan kebijakan pemerintah, atau konflik bersenjata. Selain itu, potensi hasil investasi berupa nilai jual yang terus meningkat dan hasil dari sewa cukup besar.

Meskipun demikian, berinvestasi di properti memerlukan jumlah dana relatif besar dan komitmen jangka panjang. Nilainya akan terus meningkat, tetapi ada kendala likuiditas, yaitu penjualan kembali properti yang tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama.

5. Investasi Kolektibel

Investasi dalam bentuk benda-benda koleksi seperti karya seni, juga sering menjadi pilihan. Meskipun banyak pertimbangan non-ekonomi dalam investasi di bidang ini (misalnya, hobi), tetapi jelas bahwa nilai barang kolektibel bisa menjadi tinggi sekali setelah bertahun-tahun berlalu. (Baca juga: Lima Investasi Anti Inflasi Selain Emas)

Investasi barang kolektibel bukan untuk semua orang, karena:
  • Kenaikan harga barang kolektibel biasanya tak bisa dipastikan. Harga tergantung hasil lelang, sehingga sukar memperkirakan nilai jualnya.
  • Ada kendala likuiditas. Sulit menjual barang kembali, karena tak semua orang menganggapnya berharga.
  • Tak semua benda seni yang layak dikoleksi akan mengalami kenaikan harga di masa depan. Contohnya euforia batu akik di kisaran tahun 2015-2016 memang menguntungkan sebagian orang, tetapi banyak pula yang merugi.

6. Investasi Reksadana

Reksadana merupakan produk investasi yang cocok bagi orang yang ingin investasi di pasar uang, obligasi atau saham; tetapi tidak mempunyai keahlian ataupun waktu. Reksadana adalah produk investasi yang menghimpun dana dari para investor untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi.

Manajer Investasi akan menyusun sebuah portofolio berisi berbagai instrumen investasi, mengukur risiko dan proyeksi return sehingga mencapai imbal hasil optimal. Umumnya, dikenal empat tipe Reksadana:
  • Reksadana Pasar Uang
  • Reksadana Pendapatan Tetap (berisi Obligasi)
  • Reksadana Pasar Modal
  • Reksadana Campuran
  • Reksadana Syariah (hanya berisi produk-produk investasi yang telah diverifikasi sesuai syariah)
Besaran imbal hasil yang bisa diperoleh investor dari reksadana bervariasi tergantung instrumen investasinya. Biasanya, Reksadana Pasar Modal memberikan return tertinggi, tetapi risikonya juga cukup besar. Selain itu, Manajer Investasi biasanya memotong fee saat bergabung ataupun saat mencairkan Reksadana.

7. Saham

Saham merupakan bukti kepemilikan pada sebuah perusahaan. Membeli saham berarti memiliki sebagian dari perusahaan penerbit saham (emiten) tersebut. Setiap tahun, perusahaan akan membagikan sebagian keuntungannya kepada pemilik saham, sesuai dengan proporsi kepemilikan masing-masing, dalam bentuk dividen.

Selain itu, saham dapat diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia untuk memperoleh Capital Gain, karena nilai per lembarnya bisa meningkat dari waktu ke waktu apabila kinerja perusahaan dinilai bagus. Jual-beli di Bursa dapat dilakukan sesuai dengan jam kerja hari Senin-Jumat.

Kekurangannya, investasi saham membutuhkan kecermatan dalam memilih saham yang diterbitkan perusahaan-perusahaan berkualitas serta menyusun portofolio yang ideal. Perlu diketahui, tak sedikit dana investasi ludes gara-gara seseorang menanamkan uangnya pada satu saham tertentu dari perusahaan berkinerja jelek. Jika sudah demikian, saham jelek itu pun belum tentu dapat dijual kembali, karena orang-orang enggan membelinya. (Baca juga: Bagaimana Cara Menjadi Investor Saham?)

8. Membuka Usaha Baru

Membuka usaha baru juga merupakan salah satu bentuk investasi. Alasan mengapa orang membuka usaha baru, selain potensi hasil yang tak terhingga, seringkali juga agar bisa melakukan pekerjaan yang benar-benar disukai, mengembangkan kreativitas individual dan mencapai kemandirian finansial. Akan tetapi, risiko membuka usaha baru relatif besar.

Dampak kerugian usaha bisa mengakibatkan seseorang mengalami kebangkrutan; bukan hanya modal habis, tetapi juga menanggung banyak hutang. Selain itu dibutuhkan juga dedikasi waktu, ketrampilan, keseriusan, determinasi dan mungkin juga bakat.

9. Trading di Pasar Berjangka

Pasar Berjangka muncul dari timbulnya transaksi futures (kontrak berjangka); yaitu transaksi dilakukan hari ini, tetapi pembayaran dan penyerahan komoditas dilakukan di kemudian hari berdasarkan harga yang telah ditetapkan. Transaksi ini melindungi pembeli dan penjual dari fluktuasi harga yang tidak diharapkan. Namun, perbedaan waktu antara transaksi dengan penyerahan komoditas yang sampai berbulan-bulan dimanfaatkan oleh para spekulan untuk memperdagangkan kontrak futures tersebut.

Spekulan ikut memperjualbelikan kontrak berjangka, tetapi tak benar-benar membutuhkan produk tersebut. Kontrak diperdagangkan dengan harapan mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga. Pasar berjangka ini semula hanya berlangsung pada produk komoditas, tetapi kemudian meluas ke derivatif (turunan) valas dan indeks saham.

Perdagangan komoditas di Pasar Berjangka ini pula yang mengawali berkembangnya trading forex online seperti yang kita kenal sekarang. Karena merupakan salah satu produk investasi modern, maka menjadi yang terbaik dari segi potensi return maupun likuiditas. Keuntungan pun dapat diperoleh dengan sangat cepat (dalam tempo beberapa jam saja), dan tak butuh masa investasi yang panjang. Namun, risikonya juga lebih besar dibandingkan produk investasi lainnya, dan biasanya hanya dipilih oleh orang-orang yang suka tantangan. (Baca juga: Cara Belajar dan Menguasai Trading Forex)

Simpulan Mengenai Dasar - Dasar dan Jenis Investasi

Secara singkat, jenis - jenis investasi dan karakteristiknya dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut:

Jenis Investasi Potensi Return
(Per Juli 2018)
Risiko Likuid Masa Investasi
Deposito

Rendah (4-5% p.a.)

Rendah Tidak Min. 1 bulan
Obligasi Rendah (6-7% p.a.) Rendah Tidak Min. 1-3 tahun 
Emas Mengimbangi Inflasi Rendah Tidak Min. 5 tahun
Properti Menengah Menengah Tidak Lama
Kolektibel Bervariasi Bervariasi Tidak Lama
Reksadana Bervariasi Bervariasi Ya Bervariasi
Saham Tinggi Tinggi Bervariasi Bervariasi
Usaha Baru Tinggi Tinggi Tidak Bervariasi
Produk Derivatif
(Pasar Berjangka)
Tinggi Tinggi Ya Bervariasi

Nah, manakah mode investasi yang jadi pilihan Anda? Sudah jelas bahwa investasi merupakan sesuatu yang perlu dilakukan oleh kita semua. Aneka ragam investasi bermacam-macam, dapat dipilih sesuai dengan kepribadian dan selera Anda.

Kalaupun saat ini belum memahami fitur-fitur produk investasi yang diinginkan, Anda dapat mempelajarinya dulu sebelum benar-benar menanamkan dana di dalamnya. Contohnya, bila Anda ingin trading forex online, maka dapat belajar dari artikel-artikel di situs ini dan berlatih dulu di akun demo yang bisa diperoleh dengan gratis.


Nurul
Saya tertarik dengan tulisan anda diatas mengenai tips strategi dasar investasi. Informasi diatas sangat membantu pemula dalam mempelajari investasi. Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat menambah wawasan kita mengenai cara berinvestasi. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pasar Modal yang bisa anda kunjungi di Komunitas Pasar Modal
M. Rasyid Nur
Saya tertarik untuk belajar dan mempelajarinya. Sebagai PNS saya memang harus memilih dan memilah waktu untuk belajar forex agar tidak mengganggu pekerjaan utama saya. Terima kasih atas semua artikel di atas. Suatu saat, semoga mampu ikut usaha ini. Terima kasih.