Berita Ekonomi Jepang Berakhir Mixed, Yen Amburadul

Keluarnya beberapa data ekonomi Jepang pagi ini, termasuk Tingkat Pengangguran dan Penjualan Ritel, berdampak kurang baik bagi Yen.

acy

iklan

FirewoodFX

iklan

Japanese Yen kembali melemah di sesi awal perdagangan Asia hari ini (30/Januari). Melemahnya Yen ini diiringi dengan keluarnya beberapa berita ekonomi dari Jepang seperti Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate), Belanja Rumah Tangga (Household Spending), dan Penjualan Ritel (Retail Sales). Hal ini membuat USD/JPY terbang bebas hingga 0.15% dari sesi pembukaan market tadi pagi.

 

Fresh Graduate Jepang sedang mengantri untuk jobfair

 

Data Campur Aduk, Yen Amburadul

Keluarnya beberapa data ekonomi Jepang hari ini memaksa Japanese Yen untuk menyerah lebih lanjut terhadap dolar AS yang telah menguat sepanjang hari Senin kemarin.

Dilaporkan dari Badan Statistik Lokal, Household Spending turun 0.1% secara year-on-year. Penurunan ini dinilai sangat jauh jika dibandingkan dengan hasil perhitungan bulan lalu yang meningkat hingga 1.7%. Penurunan utamanya dikarenakan belanja rumah tangga Jepang bulan Desember kemarin turun sebesar 2.5%.

Selain belanja rumah tangga, penurunan lain terjadi pada Unemployment Rate. Tingkat Pengangguran Jepang bulan Desember tahun lalu naik dari 2.7% ke 2.8%. Namun, bertambahnya pengangguran di Jepang ini dianggap tidak akan terlalu berpengaruh pada ekonomi Jepang, mengingat jumlahnya masih berada di kisaran terendah sejak awal 1990 silam.

Berbeda dari kedua berita ekonomi yang rilis sebelumnya, data Retail Sales meningkat drastis sebanyak 3.6% YoY, meskipun awalnya diekspektasikan tetap sama dengan periode sebelumnya yang hanya mencatat 2.1%. Kenaikan ini diiringi dengan peningkatan penjualan di bidang makanan dan aksesoris, sedangkan peningkatan tertinggi ada pada penjualan kendaraan bermotor yang naik dari 4.3% ke 7.8%. 

 

Ke Depan Ditentukan Upah 

Rob Carnell, Chief Economist dari ING Bank Singapore, berpendapat, "Penjualan Ritel merupakan indikator yang lebih baik dalam menyajikan data tingkat konsumsi daripada Household Spending. House Spending itu terlalu banyak menyajikan variabel, sehingga tidak dapat menampilkan gambaran yang jelas tentang kondisi yang terjadi saat itu."

Carnell juga menambahkan, "Dengan data ini, kita dapat melihat konsumen di Jepang cukup suportif terhadap ekonomi, dan tampaknya hal ini akan terus berlanjut."

Pendapat lain diajukan oleh Takeshi Minami, Chief Economist di Norinchukin Research Institute, "Naiknya tingkat penjualan Ritel banyak dipengaruhi dengan naiknya harga sayuran di pasar saat ini."

"Tingkat konsumsi masyarakat akan kembali meningkat, hanya dengan fase yang sedikit pelan," sambung Minami. Selain itu, Minami menganggap bahwa tingkat Household Spending akan banyak dipengaruhi oleh hasil dari rapat menentukan upah musim panas. Jika nilai upah naik, maka dapat dipastikan tingkat pengeluaran pun akan naik.

Hingga berita ini ditulis, USD/JPY sedang bertengger di kisaran 109.16, telah naik 0.20% dari awal pembukaan pasar hari ini. Jika dilihat dari pembukaan pasar minggu ini, USD/JPY telah naik sekitar 0.47%. Selain itu, Indeks Dolar AS, sebagai alat ukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang mayor lainnya, telah naik 0.15% hari ini.

282146

Meski berlatar belakang jurusan Biomedical Engineering, Muh Nuzul sudah menjadi trader forex sejak tahun 2013. Dengan dasar tekniknya, penulis ahli dalam membuat indikator dan Expert Advisor Metatrader. Hobi membaca dan menulis sejak kecil dan mulai aktif menulis di Seputarforex karena ingin membagikan pengetahuan selama menjadi trader.