Advertisement

iklan

EUR/USD 1.082   |   USD/JPY 150.360   |   GBP/USD 1.264   |   AUD/USD 0.651   |   Gold 2,045.96/oz   |   Silver 22.91/oz   |   Wall Street 38,996.39   |   Nasdaq 16,091.92   |   IDX 7,271.19   |   Bitcoin 61,198.38   |   Ethereum 3,341.92   |   Litecoin 79.94   |   PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) bidik ekspansi hingga 45 cabang, siapkan capex Rp30 miliar, 1 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Pertamina Geothermal Energy (PGEO) membukukan laba bersih Rp2.53 Triliun sepanjang 2023. Angka tersebut naik 28.47% secara year-on-year (YoY), 1 jam lalu, #Saham Indonesia   |   PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menilai laba atau bottom line yang dihasilkan dari bisnis infrastruktur lebih stabil dibandingkan petrokimia, 1 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Laba bersih Japfa Comfeed (JPFA) turun 34.52% YoY menjadi Rp929.71 miliar sepanjang 2023, 1 jam lalu, #Saham Indonesia
Selengkapnya

2 Faktor Bikin Sterling Sengsara Pasca Kenaikan Suku Bunga

Penulis

Walaupun BoE menaikkan suku bunga Inggris sebanyak 50 basis poin sesuai ekspektasi konsensus, GBP/USD melemah lebih dari dua persen.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex - Pound sterling ambles seusai pengumuman suku bunga Bank of England (BoE) kemarin. Walaupun BoE menaikkan suku bunga Inggris sebanyak 50 basis poin sesuai ekspektasi konsensus, GBP/USD terjungkal lebih dari dua persen dalam waktu kurang dari 24 jam. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa hari Jumat (16/Desember), GBP/USD telah mencapai rentang 1.2150-an dan EUR/GBP menjangkau level tertinggi satu bulan.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via TradingView

Dua faktor berkontribusi dalam aksi jual pound sterling kali ini. Pertama, pasar menganggap pengumuman BoE kemarin kalah hawkish dibandingkan ECB dan The Fed. Kedua, sentimen pasar memburuk akibat tren kenaikan suku bunga global yang kembali agresif.

The Fed, BoE, dan ECB secara beriringan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin kemarin. Ketiganya juga sama-sama mengisyaratkan niat untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa waktu mendatang demi menanggulangi kenaikan inflasi. Akan tetapi, BoE kurang blak-blakan dalam memaparkan proyeksi suku bunga ke depan.

The Fed menegaskan perlunya kenaikan suku bunga tambahan sampai tingkat 5.1 persen dalam tahun 2023. Presiden ECB Christine Lagarde juga menyuarakan niat untuk menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis poin beberapa kali lagi. Di sisi lain, BoE "sekedar" mengiaskannya pada salah satu paragraf utama dalam pernyataan kebijakan.

"Mayoritas anggota Komite menilai bahwa, apabila perekonomian berkembang secara luas sejalan dengan proyeksi Laporan Kebijakan Moneter November, kenaikan suku bunga bank lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi yang berkelanjutan ke target," demikian bunyi pernyataan BoE.

Pernyataan seperti itu tak memuat kejutan baru bagi pelaku pasar, sehingga gagal menyokong kurs pound sterling. Apalagi, dua dari sembilan anggota komite kebijakan BoE mengungkapkan harapan agar suku bunga tidak dinaikkan. Dampak positif dari pengumuman kenaikan suku bunga itu pun relatif minim. Alih-alih, sterling malah lebih terpengaruh oleh sentimen global yang memburuk.

"Sejauh ini, kejutan besarnya adalah sikap hawkish ECB. Kontras antara pengumuman BoE dan ECB terlihat dalam pergerakan yield obligasi 2Y yang meningkat 24 bps di Eropa dan turun 5 bps di Inggris," kata Derek Halpenny, Kepala Riset Global di MUFG, "Pesan hawkish dari The Fed dan ECB akan menghasilkan risiko kenaikan untuk sentimen suku bunga pasar ke depan, khususnya ECB. Hal ini selanjutnya dapat melemahkan minat risiko yang telah memburuk dan bisa semakin buruk mulai sekarang."

Sebagaimana diketahui, pound sterling termasuk mata uang yang peka risiko dan cenderung melemah seiring dengan ekuitas global. Ketika minat risiko global buruk, sterling biasanya tertekan.

"EUR/GBP yang lebih tinggi juga selaras dengan sentimen risiko yang memburuk," pungkas Halpenny.

Download Seputarforex App

298702
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.