AISA: Kemelut Membelit Saham Dan Obligasi Tiga Pilar Sejahtera

PT Tiga Pilar Sejahtera (kode saham AISA) sempat menjadi salah satu perusahaan prospektif karena aneka produk makanannya. Namun, kini para pemilik saham dan obligasi justru terbelit masalah rumit akibat kurangnya transparansi perusahaan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Kabar tak sedap kembali menerpa PT Tiga Pilar Sejahtera (kode saham AISA). Setelah pada bulan lalu RUPSLB ricuh akibat dana perusahaan mengalir ke perusahaan-perusahaan lain tanpa justifikasi yang jelas, kemarin (28/Agustus) Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dilaporkan gagal kuorum karena alasan konyol: sebagian besar pemegang obligasi dilarang masuk.

Saham AISA

 

Aliran Dana Kurang Transparansi

Pada akhir bulan Juli lalu, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sempat ricuh hingga disepakati untuk memberhentikan dewan direksi. Masalahnya, pemegang saham tidak puas pada penjelasan direksi terkait aliran dana investasi ke sejumlah perusahaan berbeda. Total nilai investasi sebesar Rp1.76 Triliun dialokasikan ke perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung dimiliki oleh Joko Mogoginta, sang bos AISA, seperti PT Semar Sukses, PT Semar Kencana, dan PT Jom Prawarsa Indonesia.

Menurut laporan Kontan, Mogoginta berdalih transaksi tersebut berhubungan dengan rencana divestasi bisnis beras AISA tahun lalu yang gagal karena skandal beras premium. Namun, masalah tersebut mengungkap kurangnya transparansi dalam pelaporan keuangan emiten ini.

 

Obligasi Gagal Bayar, Gagal Kuorum

Problema serupa kembali mengemuka pada RUPO untuk membahas Obligasi TPS Food I/2013 dan Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 yang gagal bayar (default). Komisaris AISA, Hengky Koestanto, dan sebagian pemegang obligasi tidak diizinkan masuk dan tertahan di meja resepsionis. Padahal, komisaris diundang khusus oleh wali amanat. Akibatnya, rapat dipimpin oleh dewan direksi saja yang diragukan oleh pemegang obligasi lantaran ada anggapan dana malah dialihkan ke berbagai perusahaan milik Joko Mogoginta, bukannya digunakan untuk membayar utang. Tak pelak, pertemuan tersebut gagal mencapai kesepakatan bulat.

Sejak pertengahan Mei 2018, harga saham AISA telah merosot drastis dari kisaran Rp570 per lembar menjadi Rp168 per lembar saja. Lebih lanjut, pasca ricuh RUPSLB pada 30 Juli, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberhentikan sementara perdagangan saham AISA (suspensi) di pasar tunai dan pasar reguler, karena emiten ini belum menyampaikan laporan keuangan kuartal I/2018 dan belum melakukan pembayaran denda.

285076

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.