iklan

Ancaman Resesi Jerman Mengekang Euro, Merkel Tolak Stimulus Fiskal

Data GDP Zona Euro stagnan 1.1 persen, tetapi pertumbuhan kuartalan Jerman tergelincir ke area negatif. Akibatnya, topik resesi Jerman kembali jadi sorotan pasar.

iklan

iklan

Euro mencetak kenaikan tipis 0.15 persen terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (15/Agustus), tetapi posisinya belum jauh dari level terendah sepekan yang tercapai pasca rilis data GDP kemarin. Laporan GDP (Gross Domestic Product) kuartal II/2019 menunjukkan pertumbuhan tahunan Zona Euro stagnan 1.1 persen (Year-on-Year), tetapi pertumbuhan kuartalan Jerman tergelincir ke area negatif dan Kanselir Angela Merkel menolak ide stimulus fiskal.

EURUSD Daily

Kantor Statistik Jerman melaporkan bahwa pertumbuhan GDP menciut sebesar -0.1 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal kedua, setelah sempat melonjak 0.4 persen pada kuartal pertama. Tak pelak, laporan ini meningkatkan kekhawatiran investor dan trader mengenai probabilitas resesi di negara terbesar Zona Euro tersebut.

Kemerosotan GDP Jerman terutama disebabkan oleh perlambatan perdagangan internasional dan memburuknya sektor konstruksi. Ekspor Jerman jatuh lebih cepat dibandingkan impor, seiring dengan eskalasi dampak perang dagang AS-China dan berlanjutnya ketidakpastian brexit. Inggris merupakan salah satu destinasi utama untuk ekspor otomotif Jerman, sehingga ketidakpastian brexit juga berdampak buruk terhadap permintaan pabrikan.

Bank sentral Eropa (ECB) tengah menyiapkan serangkaian paket kebijakan moneter longgar baru, termasuk memangkas suku bunga deposit lagi, guna menanggulangi perlambatan ekonomi Zona Euro. Paket kebijakan baru tersebut diperkirakan akan diluncurkan secara resmi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, pemerintah negara-negara anggota Zona Euro tampaknya enggan mendukung upaya ECB dari sisi fiskal.

Sejumlah ekonom bersama lembaga Federation of German Industries yang mewakili 100,000 perusahaan Jerman, baru-baru ini menghimbau Kanselir Angela Merkel untuk meluncurkan stimulus fiskal guna menggairahkan perekonomian. Namun, kemarin Merkel menolak saran tersebut. Ia berdalih belanja publik Jerman tidak memiliki masalah dalam hal besaran maupun timing investasi pemerintah, melainkan menghadapi kebuntuan dalam hal seperti kurangnya tenaga ahli dan lamanya proses perencanaan.

289682

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


16 Des 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone