Advertisement

iklan

Ancaman Resesi Paman Sam Menajam, Dolar AS Tertekan

Penulis

+ -

Penjualan ritel AS menunjukkan minat belanja masyarakat yang merosot di tengah kenaikan suku bunga dan maraknya PHK. Akibatnya, kurs dolar AS ambles.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) tersungkur ke rekor terendah sembilan bulan pada kisaran 101.52 dalam perdagangan hari Rabu (18/Januari). Greenback tertekan oleh rilis serangkaian laporan ekonomi Amerika Serikat yang amat mengecewakan pada sesi New York, serta arah kebijakan beberapa bank sentral lain yang kemungkinan lebih hawkish.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

 

Konsumsi & Produksi Melorot, PHK Makin Marak

Penjualan ritel AS membukukan kejatuhan tajam sampai -1.1% (Month-over-Month) pada Desember 2022. Data periode November juga direvisi turun dari -0.6% menjadi -1.0%. Semuanya menandakan minat belanja masyarakat yang merosot di tengah kenaikan suku bunga sepanjang tahun lalu.

Laporan-laporan berikutnya tak kalah mengecewakan. Inflasi produsen (PPI) tercatat -0.5% (Month-over-Month), jauh di bawah estimasi konsensus yang dipatok pada -0.1% saja. Data produksi manufaktur ambles sampai -1.3% (Month-over-Month) dalam rentang waktu yang sama.

Data produksi industri AS juga jatuh untuk ketiga kalinya di penghujung tahun lalu. Data merekam penurunan sebesar -0.7% (Month-over-Month) pada Desember 2022, padahal konsensus mengharapkan perbaikan terbatas dari -0.6% ke -0.1%.

"Keluar setelah laporan penjualan ritel, (data produksi industri) itu memperkuat pesan bahwa resesi sudah mendekat dan kita bahkan kemungkinan sudah mengalaminya," kata James Knightley, kepala ekonom internasional di ING, "Perhatikan pengumuman PHK Microsoft sebanyak 10 ribu karyawan pagi ini (hampir 5% dari angkatan kerjanya). Ingat bahwa ketenagakerjaan selalu menjadi hal terakhir yang berbalik dalam satu siklus (ekonomi) karena data tenaga kerja merupakan indikator lagging."

 

USD/JPY Melempem, GBP/USD Unjuk Gigi

Depresiasi dolar AS bertepatan dengan penguatan beberapa mata uang rival utamanya. Yen tetap tersokong oleh ekspektasi pasar yang lebih hawkish, meskipun bank sentral Jepang terus berupaya menumpas spekulasi seputar perubahan kebijakannya. USD/JPY sempat melambung sampai level tertinggi 131.58 pada sesi Asia, tetapi kemudian anjlok ke kisaran 128.30-an saat memasuki sesi New York.

EUR/USD mempertahankan posisi dalam rentang tertinggi multibulan pada kisaran 1.0820-an, meskipun laporan inflasi Zona Euro menunjukkan penurunan tipis. Pasalnya, mayoritas pelaku pasar masih berharap Presiden ECB Christine Lagarde akan mewujudkan retorikanya tentang kenaikan suku bunga 50 basis poin pada bulan depan.

GBP/USD meroket ke level tertinggi satu bulan. Data inflasi Inggris terbaru menunjukkan penurunan tipis, tetapi inflasi inti masih bertahan pada level tinggi dan melampaui estimasi pasar. Konsekuensinya, pasar semakin yakin bank sentral Inggris (BoE) akan menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis poin dalam waktu dekat.

"Penurunan kecil dalam inflasi CPI... dan inflasi inti yang tak berubah... menandakan masih terlalu dini bagi BoE untuk mendeklarasikan kemenangan dalam pertempurannya melawan inflasi," kata Ruth Gregory, ekonom Inggris senior di Capital Economics, "Dengan inflasi dasar, aktivitas, dan pertumbuhan gaji mengakhiri tahun lalu sedikit lebih kuat daripada ekspektasi, kami ragu BoE akan menghentikan kenaikan suku bunga."

Download Seputarforex App

298854
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.