Advertisement

iklan

Angka Penjualan Ripple Merosot Tajam Pada Q4 2019

Angka penjualan Ripple anjlok hingga 80.2 persen dari kuartal sebelumnya. Meskipun demikian, perusahaan tetap optimis dengan perluasan mitra yang gencar dilakukan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Angka penjualan Ripple (XRP) pada kuartal keempat 2019 mengalami kemerosotan signifikan secara kuartalan, dari $66.24 juta menjadi $13.08 juta. Penurunan sebesar 80.2 persen ini secara khusus terjadi setelah perusahaan yang bermarkas di San Fransisco ini mengurangi penjualan XRP dan menghentikan penjualan terprogram pada kuartal ketiga tahun lalu.

Sebagai informasi, penjualan terprogram XRP pada Q3 2019 menyumbang pendapatan sekitar $16.12 juta, dan angkanya turun menjadi nol di Q4 2019. Untuk mengevaluasi angka penjualannya, Ripple dikabarkan akan bergerak ke pendekatan yang lebih konservatif.

"Di Q4, CCTT mengubah metodologi yang digunakan untuk menentukan bursa mana yang dicantumkan sebagai top-tier. Ripple terus mengevaluasi bursa seiring adanya beberapa tantangan, seperti volume perdagangan palsu yang terus ada di industri ini," ungkap laporan yang mengulas penjualan Ripple secara berkala.

Rata-rata volume perdagangan harian XRP di pasar juga dilaporkan terus menurun. Sempat mencapai $198.10 juta pada Q3, volumenya pada Q4 turun menjadi $187.3 juta. Bahkan jika dibandingkan dua kuartal terakhir, volume harian rata-rata Ripple sebelumnya dilaporkan berada pada angka $429.51 juta.

Hal ini cukup disayangkan, mengingat dengan kapitalisasi pasar lebih dari $10 juta, XRP telah menjadi mata uang digital terbesar ketiga di dunia.

Angka Penjualan Ripple Q4 2019 Merosot

 

Pertahankan Praktik Escrow Dan Perluas Jangkauan Mitra

Laporan pasar juga mengungkapkan bahwa pada Q4 2019, Ripple telah merilis 3 miliar token XRP dari escrow. Namun di saat yang bersamaan, perusahaan juga mengembalikan 1 miliar token yang beredar ke escrow.

Sementara itu, perusahaan terus menambahkan lebih banyak mitra untuk menggunakan solusi berbasis Blockchain miliknya. Pada bulan November saja, Ripple dikabarkan berhasil menambahkan "dua lusin" perusahaan termasuk MoneyGram, goLance, dan Viamericas sebagai pelanggan On Demand Liquidity.

"Pada 2019, nilai Dolar AS yang ditransaksikan melalui ODL antara Q1 dan Q4 meningkat lebih dari seratus kali, dan khususnya dari Q3 ke Q4 sebesar 650%... Jumlah transaksi ODL dari Q3 ke Q4 juga meningkat sebesar 390%, menunjukkan tingginya permintaan pelanggan terhadap aset digital, khususnya XRP, dalam transaksi antar negara," tegas perwakilan Ripple.

291775

Rama berstatus sebagai mahasiswa aktif tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Kembang. Awal mula perkenalan dengan dunia trading dimulai pada tahun 2014, saat masih mahasiswa baru. Instrumen trading yang pertama kali dikenal adalah saham Indonesia. Seiring berjalannya waktu, tertarik mengikuti trading forex juga. Strategi trading yang banyak digunakan diantaranya Harmonic Pattern dan Chart Pattern.