Apa Artinya Resesi Jepang Bagi Dunia Dan Pasar Forex?

Awal pekan ini, laporan pendahuluan GDP Jepang kembali menunjukkan laju pertumbuhan minus untuk kedua kali berturut-turut. Sementara itu, besarnya skala dan pengaruh ekonomi negeri asal AKB48 ini berarti bahwa resesi Jepang pasti akan berdampak pada Dunia. Berikut beberapa jalur dampak yang ditimbulkan oleh terpuruknya ekonomi Jepang

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Awal pekan ini, laporan pendahuluan GDP Jepang kembali menunjukkan laju pertumbuhan minus untuk kedua kali berturut-turut. Setelah di periode sebelumnya mencatat -7.3% secara tahunan, pertumbuhan Jepang di kuartal tiga tahun 2014 ternyata masih berkontraksi dengan besaran -1.6%. Laju pertumbuhan minus pada dua periode berturut-turut meresmikan status Jepang sebagai negara dalam kondisi resesi.


Pertumbuhan GDP JepangData Pertumbuhan GDP Annualized Jepang Kuartal I/2013-III/2014

Perangkap Resesi Jepang

Jepang merupakan negara ekonomi terbesar ketiga di Dunia  setelah Amerika Serikat dan China, atau keempat terbesar jika Uni Eropa dihitung sebagai entitas tunggal (Uni Eropa memiliki GDP total lebih besar dari AS dan China). Jepang adalah negara terdepan pemegang paten karena termasuk negara paling inovatif di Dunia. Jepang juga memiliki industri elektronika terbesar di Dunia, dan menempati kursi negara produsen otomotif terbesar ketiga. Lebih luar biasa lagi, negara asal AKB48 ini tergolong negara kreditor berkat investasi internasional-nya yang surplus dan statusnya sebagai salah satu pemegang aset finansial terbesar di Dunia bersama AS, Jerman, dan Inggris.

Ekonomi Jepang - ilustrasi
Walaupun termasuk raksasa ekonomi Dunia, tetapi selama satu dekade terakhir Jepang bergulat dengan deflasi dan beberapa kali terpeleset masuk resesi. Resesi Jepang telah menjadi penyakit yang bercokol dan sulit disingkirkan. Pada akhir tahun 2012, PM Shinzo Abe meluncurkan strategi pemulihan ekonomi yang kemudian dikenal sebagai Abenomics. Abenomics terdiri dari serangkaian kebijakan, termasuk peluncuran paket stimulus moneter dan fiskal, serta reformasi struktural. Stimulus moneter besar-besaran disuntikkan ke perekonomian oleh Bank of Japan guna mendepresiasi nilai tukar Yen. Hal ini selain ditujukan untuk meningkatkan daya saing produk Jepang juga untuk mendorong investor berinvestasi di pasar saham Jepang. Hasilnya, pasar saham melesat, dan hingga awal tahun 2014 ini nampak berada dalam jalur pemulihan yang tepat.

Namun demikian, kelesuan ekonomi Jepang yang berkepanjangan dan upaya-upaya pemulihan telah mengakibatkan tanggungan hutang pemerintah membengkak. Dalam periode 2008-2014 saja, persentase hutang pemerintah per GDP Jepang telah meningkat dari 167% menjadi 227.2%, yang berarti besar tanggungan hutang negara dua kali lipat lebih besar daripada total GDP-nya. Guna mengatasi krisis ini, Pemerintah butuh pemasukan tambahan dari pajak yang belum pernah naik selama 20 tahun sebelumnya. Oleh karena itu, PM Abe menjadwalkan kenaikan pajak konsumsi (kadang disebut juga pajak penjualan) dua kali, yaitu dari 5% ke 8% pada April 2014 dan dari 8% ke 10% pada Oktober 2015.

Membaiknya ekonomi Jepang di awal tahun 2014 memantapkan pemerintahan PM Abe untuk menaikkan pajak di bulan April 2014 lalu. Namun, dampaknya ternyata dahsyat. Dalam kuartal yang sama, pertumbuhan ekonomi Jepang langsung minus, dan terus berlanjut hingga kini. Menurut para analis, masalahnya adalah karena pemulihan ekonomi sebelumnya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Menurut Associated Press, kenaikan pendapatan perusahaan-perusahaan Jepang dari peningkatan harga saham dan melejitnya profit gagal disalurkan menjadi peningkatan gaji karyawan. Laman time.com juga melansir bahwa gaji masyarakat belum berubah banyak, padahal harga barang dan jasa sudah meningkat; akibatnya, kesejahteraan rumah tangga rata-rata belum membaik. Sehingga ketika pajak naik, masyarakat malah mengurangi pengeluarannya. Inilah sebab mengapa kenaikan pajak konsumsi bulan April malah disalahkan sebagai pemicu resesi Jepang saat ini.

Dampak Global Resesi Jepang

Sementara itu, besarnya skala dan pengaruh ekonomi negeri ini berarti bahwa resesi Jepang pasti akan berdampak pada Dunia. Berikut beberapa jalur dampak yang ditimbulkan oleh terpuruknya ekonomi Jepang: 

1. Merosotnya Konsumsi Masyarakat Jepang
Sebagaimana disebutkan diatas, pemulihan sementara ekonomi Jepang di awal 2014 hanya menguntungkan orang-orang tertentu. Gaji masyarakat belum meningkat, dan akibatnya ketika harga barang-barang naik karena pajak, maka kemampuan masyarakat untuk membeli barang jadi merosot. Ini berpotensi buruk bagi perusahaan-perusahaan domestik dan negara-negara yang banyak mengekspor produknya ke Jepang. Konsumsi masyarakat yang rendah akan menekan permintaan barang impor juga.

2. Potensi Pembatalan Kenaikan Pajak Kedua
Jebloknya pertumbuhan GDP Jepang meningkatkan spekulasi bahwa PM Shinzo Abe akan segera mengumumkan penundaan kenaikan pajak babak dua dan membubarkan parlemen guna mengadakan pemilu dadakan pada Desember mendatang. Dalam hal ini, pembubaran parlemen dan pemilu dadakan masih belum tentu terjadi, tetapi pajak jelas tak mungkin dinaikkan lagi selama kondisi ekonomi Jepang resesi.

3. Tertundanya Pemulihan Ekonomi Jepang
Resesi kali ini bukan pertama kalinya Jepang tercebur dalam kubangan saat berupaya bangkit dari keterpurukan. Jatuh-bangun ini membuat Jepang selalu harus memulai strategi pemulihan dari awal lagi. Terlebih, apabila parlemen dibubarkan dan pemilu dadakan sungguh dilaksanakan, maka hampir pasti agenda-agenda Abenomics selanjutnya akan tertunda dan memperlama proses pemulihan ekonomi. Reformasi struktural yang tertunda pun dipastikan mandeg hingga waktu yang belum bisa diperkirakan.

4. Jepang Berpotensi Menambah Stimulus
Rangkaian program Abenomics memang belum seluruhnya dilaksanakan, tetapi sejauh ini program-programnya masih gagal mencapai target. Stimulus raksasa yang digadang-gadang akan memulihkan perekonomian, ternyata hingga kini belum membuahkan hasil. Di sisi lain, dalam kondisi saat ini, BoJ tak memiliki jalan lain kecuali mempertahankan, atau malah menambah besar stimulus guna menopang daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Associated Press kemarin (11/17) juga melaporkan bahwa PM Abe kemungkinan akan mengumumkan subsidi senilai 3-4 triliun Yen untuk membantu keluarga ekonomi lemah dan UMKM.

5. Memperparah Carry Trade Yen
Yen tergerus ke level rendah tujuh tahun terhadap Dolar AS pada hari Senin kemarin akibat ekspektasi pasar bahwa BoJ akan mempertahankan stimulus lebih lama lagi karena resesi. Hal ini memperlebar kesenjangan antara arah kebijakan moneter Jepang dengan negara-negara lain, khususnya AS. Ditambah lagi dengan suku bunga acuan 0%, Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat bunga terendah di Dunia.

Suku Bunga Dunia
6. Volatilitas Yen Meninggi
Volatilitas pergerakan Yen juga diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa waktu kedepan. Walaupun saat ini USDJPY bullish, tetapi pair ini biasanya bearish ketika pasar saham Tokyo surut, sedangkan kondisi ekonomi yang buruk akan tercermin pula pada harga saham di bursa. Martin Schserdtfeger dari TD Securities di Toronto mengatakan pada Reuters, "Akan ada beberapa hal yang diamati pasar, dan kami bisa memperkirakan kejatuhan saham dan penguatan Yen". Padahal, tren carry trade akan semakin menyemarakkan aksi jual Yen. Intinya, tarik-ulur Yen akan kian ramai berkat kabar resesi Jepang.

7. Perlambatan Ekonomi Asia
Jepang merupakan salah satu investor terbesar di Asia, termasuk di Indonesia. Investasi Jepang bisa ditemukan di berbagai sektor; mulai dari manufaktur kendaraan bermotor, teknologi, hingga pembuatan roti. Dengan demikian, resesi Jepang bisa ikut menyeret perekonomian Asia. Apalagi, resesi Jepang saat ini terjadi ketika China mengalami perlambatan pertumbuhan dan Eropa menderita stagnasi. Perlambatan ekonomi Asia, pada gilirannya akan berimbas pada wilayah-wilayah lain, khususnya yang berlokasi di Pacific Rim. Di sisi lain, AS akan menikmati dampak positif karena investor yang cari aman akan cenderung membawa dana-nya masuk negara adidaya tersebut.

211849

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Nasichun Amin
mantap