Advertisement

iklan

AS Tunda Perang Dagang Versus China, Harga Minyak Terdongkrak

Pelaku pasar menilai, ditundanya perang dagang AS - China berdampak positif bagi harga minyak. Namun, proyeksi harga minyak akan melandai lagi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak terdongkrak naik pada awal perdagangan hari Senin ini (21/Mei), karena kabar bahwa China dan Amerika Serikat menangguhkan perang dagang antara keduanya. Pada hari Kamis minggu lalu, kedua harga minyak acuan dunia tersebut sempat mencapai rekor harga tertinggi sejak 2014, tetapi mengalami koreksi pada hari Jumat. Meski demikian, melonggarnya ketegangan perang dagang mendorong Brent diperdagangkan naik 0.62% ke USD79.11, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menanjak 0.64% ke USD71.82 saat berita ditulis.

 

AS Tunda Perang Dagang Versus China,

 

 

Pada hari Minggu, Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, menyatakan bahwa perang dagang antara AS dan China ditunda, karena keduanya sepakat membatalkan ancaman bea impor masing-masing sementara negosiasi bilateral berlangsung. Masih ada banyak ketidakpastian mengenai negosiasi tersebut, karena belum diketahui pasti apa yang ditawarkan kedua belah pihak dan kapan kesepakatan akan dicapai. Namun, pernyataan Mnuchin melegakan pasar minyak.

 


"Amerika Serikat dan China setuju untuk tidak (melakukan) perang dagang akan positif bagi harga minyak, karena kemungkinan perang dagang total bisa menghantam pertumbuhan global secara siginifikan," kata Stephen Innes, pimpinan perdagangan Asia-Pasifik di OANDA Singapura.


 

Terlepas dari itu, harga minyak diperkirakan masih akan menjauh dari rekor harga tertinggi sejak November 2014 yang dicapai minggu lalu. Sejumlah pelaku pasar dan analis yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa ada cukup pasokan untuk memenuhi permintaan minyak global; meskipun pemangkasan output yang dipelopori OPEC masih berlangsung, krisis di Venezuela menyusutkan produksi Amerika Selatan, dan AS kemungkinan menerapkan sanksi atas Iran.

"Tanpa adanya eskalasi risiko geopolitik lebih lanjut, harga minyak kemungkinan akan mengalami pullback," ujar Greg McKenna, pimpinan strategi pasar di AxiTrader.

Faktor lain yang turut membebani harga minyak adalah limpahan produksi minyak shale AS. Pada akhir pekan lalu, Baker Hughes melaporkan bahwa jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam tetap berada pada angka 844, sama dengan periode penghitungan sebelumnya. Ini merupakan angka tertinggi sejak Maret 2015.

283752

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.