Advertisement

iklan

Bank Sentral Beraksi, USD/JPY Reli 2 Persen

Penulis

+ -

Lonjakan USD/JPY terjadi lantaran bank sentral Jepang (BoJ) mengambil tindakan drastis untuk membendung kenaikan yield obligasi JGB.

iklan

iklan

Seputarforex - Kurs Dolar AS sempat meroket pesat hingga 2.5% ke kisaran 125.11 terhadap yen Jepang dalam perdagangan sesi Asia hari Senin ini (28/Maret), meskipun kemudian termoderasi ke kisaran 123.35 pada awal sesi New York. Lonjakan USD/JPY terjadi lantaran bank sentral Jepang (BoJ) mengambil tindakan drastis untuk membendung kenaikan yield obligasi JGB.

USDJPY Daily Grafik USD/JPY Daily via TradingView

Kenaikan suku bunga acuan berbagai bank sentral telah memicu tren bullish dalam yield obligasi global. Kendati BoJ tak menaikkan suku bunga seperti bank-bank sentral mayor lain, yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) turut melambung. Padahal, BoJ menerapkan kebijakan penargetan yield (Yield Curve Control) pada kisaran nyaris nol dengan batas atas 0.25%.

Demi membendung kenaikan yield, BoJ hari ini mengumumkan penawaran untuk membeli JGB bertenor 5 sampai 10 tahun dalam jumlah tak terbatas. Tawaran tersebut akan berlaku sampai tiga hari ke depan.

Langkah BoJ belum mampu menekan yield JGB 10Y, tetapi sontak memicu kemerosotan dalam nilai tukar yen. Yen bukan hanya rontok versus dolar AS, melainkan juga terhadap euro yang notabene masih terbebani oleh ketidakpastian perang Rusia-Ukraina.

"Secara neto, sebagian besar JGB mengabaikan tindakan yang cuma pengulangan upaya melindungi batas atas yield 10Y, tetapi sinyal (langkah BoJ ini) mengarah pada ekspansi jumlah uang beredar (money supply) yang berkontribusi pada pelemahan yen bersama-sama dengan efek (kenaikan suku bunga Federal Reserve) yang lebih dominan pada dolar," kata Derek Holt, kepala ekonomi pasar modal di Scotiabank Economics, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Colin Asher, ekonom senior dari Mizuho, juga mengatakan bahwa tagihan impor komoditas energi yang meningkat dan kemerosotan pendapatan pariwisata Jepang kemungkinan membuat yen tetap lemah sepanjang tahun depan. Patut untuk diperhatikan bahwa Jepang termasuk negara importir energi neto, karena pasokan dari mancanegara memenuhi sekitar 94% kebutuhan energinya.

Situasi fundamental yen dan euro yang kritis justru menguntungkan bagi dolar AS. Indeks dolar AS yang mengukur nilai tukar greenback versus sekelompok mata uang mayor, kini kembali mendaki ke atas ambang 99.00 -rentang tertinggi sejak Mei 2020-. Tren bullish dolar AS berpotensi makin menajam jika rilis data Non-farm Payroll AS pada hari Jumat mendatang menunjukkan angka-angka yang cemerlang.

Download Seputarforex App

297542
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.