Advertisement

iklan

Bank Sentral Jepang Naikkan Proyeksi Pertumbuhan, Tak Ubah Suku Bunga

Gubernur bank sentral Jepang, Haruhiko Kuroda, bersikeras mempertahankan suku bunga rendah demi mencapai target inflasi 2 persen.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga negatif dalam penyampaian hasil rapat kebijakan hari ini (21/Januari), sehingga pengumuman tidak berdampak besar terhadap nilai tukar Yen. Namun, BoJ menunjukkan secercah optimisme untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi ke depan, berbekal stimulus fiskal pemerintah dan berkurangnya kekhawatiran seputar konflik dagang AS-China.

Haruhiko Kuroda - Bank Sentral Jepang

Sesuai ekspektasi, sebanyak 7 dari 9 peserta rapat kebijakan BoJ sepakat mempertahankan suku bunga jangka pendek pada level -0.1 persen serta target yield obligasi bertenor 10-tahunan pada kisaran 0 persen. BoJ juga kembali mengutarakan komitmen untuk menjaga suku bunga tetap pada level ultra-rendah, atau bahkan memangkasnya lagi, demi tercapainya target inflasi 2 persen. Perdebatan seputar risiko suku bunga rendah tetap dikesampingkan oleh mayoritas anggota rapat.

Dalam konferensi pers pasca rapat, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda mengatakan, "Memang benar bahwa BoJ harus berhati-hati terhadap dampak suku bunga ultra rendah yang berkepanjangan bagi intermediasi keuangan. Namun, manfaat kebijakan kami masih mengungguli kekurangannya. BoJ akan terus menjalankan pelonggaran moneter tangguh untuk mencapai inflasi 2 persen."

Meski demikian, BoJ merevisi naik proyeksi pertumbuhan untuk tahun fiskal yang akan dimulai pada bulan April mendatang. Pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan bakal meningkat 0.9 persen, lebih tinggi ketimbang estimasi 0.7 persen yang dirilis pada bulan Oktober lalu.

Faktor utama yang mendorong optimisme BoJ adalah diluncurkannya paket stimulus fiskal masif oleh PM Shinzo Abe baru-baru ini. BoJ juga mengisyaratkan sedikit harapan untuk perekonomian global yang lebih baik, meski menilai risiko pasar masih cukup besar.

"Kemajuan dalam perundingan dagang AS-China dan brexit telah menimbulkan perbaikan dalam sentimen risiko, meningkatkan harga saham dan tingkat suku bunga jangka panjang di berbagai negara. Namun, ketidakpastian masih menjadi takdir perundingan dagang AS-China. Ada pula risiko geopolitik di Timur Tengah," kata Kuroda, "Meskipun risiko yang melingkupi pertumbuhan global telah sedikit berkurang, jumlahnya masih besar."

291722

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?

Lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone