Advertisement

iklan

Berharap Bank Sentral Jepang Ubah Kebijakan, USD/JPY Ambles

Penulis

+ -

Kenaikan inflasi mendorong makin banyak pemain pasar meyakini bank sentral Jepang (BoJ) akan mengubah kebijakan moneternya pada awal tahun depan.

iklan

iklan

Seputarforex - Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang menghantam greenback paling keras dalam beberapa waktu belakangan. USD/JPY sempat menggeliat naik menyusul rilis data ekonomi AS pada awal pekan, tetapi kembali layu pada hari-hari berikutnya. Pasalnya, makin banyak pemain pasar yang meyakini bank sentral Jepang (BoJ) akan mengetatkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan.

Pelaku pasar beramai-ramai melancarkan aksi short-selling atas obligasi Jepang. Aksi tersebut menahan yield obligasi 10Y pemerintah Jepang pada batas teratas yang ditentukan BoJ, yakni 0.25%. Nilai tukar yen pun menguat sampai hampir menyentuh 137.00 terhadap dolar AS dalam perdagangan sesi Asia hari Jumat (9/Desember).

USDJPY Daily Grafik USD/JPY Daily via TradingView

Kebijakan BoJ menggariskan suku bunga jangka pendek pada tingkat 0.1 persen dan mengontrol yield obligasi 10Y pada kisaran 0% dengan batas atas pada 0.25%. Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda telah berulang kali menegaskan pentingnya mempertahankan kebijakan moneter longgar yang unik ini demi mendorong kenaikan laju inflasi pada tingkat 2 persen secara berkelanjutan. Namun, sejumlah perkembangan terbaru mulai menggugat keyakinan pasar pada keteguhan BoJ.

Data inflasi di Tokyo pada bulan November 2022 menunjukkan kenaikan paling pesat dalam 40 tahun terakhir. Perkembangan tersebut menandakan bahwa BoJ semakin mendekati pencapaian target inflasinya. Muncullah spekulasi seputar perubahan kebijakan moneter BoJ.

"Dengan harga-harga meningkat, semakin menguatlah spekulasi bahwa BoJ mungkin mengubah (kebijakan) kontrol kurva yield-nya," ujar Masayuki Koguchi dari Mitsubishi UFJ Kokusai Asset Management.

"Bank sentral mungkin menyesuaikan kebijakan kontrol kurva yield-nya sebelum Maret. Keputusan tersebut berpotensi dibuat setelah 'shunto', tetapi BoJ mungkin juga bertindak lebih cepat," kata Ayako Fujita, chief Japan economist at JPMorgan Securities.

Shunto adalah ajang diskusi di mana perusahaan-perusahaan blue chip Jepang berunding dengan serikat pekerja untuk memutuskan gaji karyawan pada tahun fiskal berikutnya. Acara tersebut biasanya diadakan setiap Maret.

Komentar dari sejumlah pejabat BoJ mendukung beberapa spekulasi tersebut. Anggota Dewan BoJ Asahi Noguchi yang terkenal dovish, pekan lalu mendadak bersikap lebih hawkish. Ia mengatakan bank sentral dapat menarik stimulus moneter lebih awal jika tren inflasi (yang memperhitungkan harga jasa dan gaji) melampaui ekspektasi dan bertahan di atas target 2 persen. Seorang anggota dewan lain, Naoki Tamura, mengungkapkan bahwa bank sentral perlu mengevaluasi ulang kelebihan dan kelemahan dari kebijakan kontrol kurva yield.

Sejumlah pihak merujuk pergantian kepemimpinan BoJ mendatang sebagai momen yang perlu diperhatikan. Haruhiko Kuroda akan mengakhiri masa jabatannya pada April 2023. Ia mungkin akan menghindari perubahan drastis pada detik-detik terakhir masa jabatannya, tetapi ia bisa bertindak sebaliknya. Sementara itu, pengganti Kuroda kelak juga dapat memilih arah kebijakan yang berbeda dari pendahulunya.

Download Seputarforex App

298661
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.