Advertisement

iklan

Cegah Kenaikan Harga, AS Jual Cadangan Minyak Strategis

Dalam rangka menanggulangi kemungkinan kenaikan harga minyak dunia akibat sanksi atas Iran, Amerika Serikat melepas cadangan minyak strategisnya.

Advertisement

iklan

Xm

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak dunia sempat menanjak naik pada hari Senin (20/Agustus), tetapi bergerak beragam pada pembukaan hari Selasa ini (21/Agustus). Saat berita ditulis, harga minyak Brent dari Laut Utara Inggris stabil di kisaran USD72.08 per barel, tetapi harga minyak WTI yang berasal dari AS anjlok nyaris 2 persen ke USD65.44 per barel. Hal ini disebabkan karena langkah Amerika Serikat melepas sebagian kecil cadangan minyak strategisnya guna mencegah kenaikan harga.

Harga Minyak WTI dan Brent

Kenaikan harga minyak di awal pekan ditunjang oleh ekspektasi akan mulai berdampaknya sanksi AS atas Iran yang bakal berlaku per bulan November mendatang. Bank investasi kawakan asal Prancis, BNP Paribas, memperkirakan sanksi tersebut akan mengakibatkan produksi total Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merosot dari rata-rata 32.1 Juta barel per hari (bph) pada tahun 2018 menjadi 31.7 Juta bph saja pada 2019. Apabila hal itu benar-benar terjadi, maka kenaikan harga minyak tak terelakkan lagi.

Dalam upaya untuk mencegah kenaikan harga minyak yang dapat mengacaukan kepentingan politik Presiden Donald Trump, AS memutuskan untuk menawarkan 11 Juta barel minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk pengiriman antara 1 Oktober-30 November 2018. SPR adalah cadangan minyak darurat terbesar di dunia yang dikelola oleh Departemen Energi AS, berlokasi di bawah tanah Louisiana dan Texas dengan kapasitas total 727 juta barel. Biasanya, cadangan minyak SPR hanya dilepas untuk mengatasi masalah energi terkait bencana alam, perang, atau kendala pada pipa penyaluran.

Sementara itu, pelaku pasar juga mengamati kelanjutan negosiasi perdagangan antara China dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, konflik perdagangan antara kedua negara ekonomi terbesar dunia tersebut dikhawatirkan dapat berimbas negatif bagi permintaan minyak global. Namun demikian, Presiden Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters bahwa ia tak mengekspektasikan akan ada banyak kemajuan, karena pencapaian solusi dengan China akan memakan waktu cukup lama.

284973

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.