iklan

China Bersikeras Minta AS Pangkas Tarif Impor Demi Kesepakatan Dagang

Amerika Serikat dan China masih terus tarik-ulur tentang poin-poin apa saja yang akan dimuat dalam kesepakatan dagang fase pertama.

iklan

iklan

Saga sengketa dagang AS-China terus berlanjut. Terlepas dari merebaknya secercah optimisme dari sisi AS pada sesi New York kemarin, Kementerian Perdagangan China tadi pagi (5/Desember) menyatakan bahwa tarif impor harus dipangkas demi tercapainya kesepakatan dagang fase pertama.

Laporan tersebut memperkeruh outlook kesepakatan dagang AS-China lagi, tetapi tak berpengaruh terlampau besar di pasar keuangan global. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa, Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan melemah sekitar 0.15 persen di kisaran 97.48, sedangkan USD/CNY tergelincir ke kisaran 7.04.

Kesepakatan Dagang AS China

Kesepakatang dagang fase-1 antara AS-China awalnya direncanakan akan dicapai pada bulan November, sebelum diberlakukannya kenaikan tarif impor ronde berikutnya oleh AS terhadap sekitar USD156 Miliar produk asal China pada tanggal 15 Desember mendatang. Namun, kedua belah pihak menghadapi kebuntuan dalam sejumlah isu krusial. Amerika Serikat juga bersikeras sumbang suara dalam masalah-masalah internal China, seperti demonstrasi Hong Kong dan minoritas Muslim Uighur.

Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa diskusi dengan China berlangsung lancar; mengoreksi pernyataan sebelumnya yang mengisyaratkan kesediaannya untuk menunda kesepakatan hingga Pilpres 2020. Akan tetapi, beberapa jam kemudian, Beijing malah menegaskan lagi prinsip dasar mereka tentang diperlukannya pengurangan tarif sebagai itikad baik untuk pencapaian kesepakatan tersebut.

"Pihak China meyakini bahwa jika kedua belah pihak mencapai kesepakatan dagang fase pertama, maka tarif harus dikurangi selaras dengan itu," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng, sembari menekankan bahwa kedua belah pihak masih terus berkomunikasi.

Bulan lalu, Reuters melaporkan komentar narasumber internal bahwa Presiden AS Donald Trump dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighhizer enggan memangkas tarif impor bagi produk-produk China sebelum terselesaikannya masalah perlindungan hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi paksa. Kesepakatan yang memuat pemangkasan tarif tanpa memberikan solusi mengenai kedua isu krusial tersebut dinilai sebagai bukan "good deal" bagi Amerika Serikat.

291200

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone