Advertisement

iklan

China Luncurkan Acuan Harga Minyak Baru Untuk Asia

China meluncurkan Shanghai Crude Oil Futures yang berpotensi menjadi acuan harga minyak baru, bersanding dengan Brent dan WTI.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada perdagangan hari Senin ini (26/Maret), harga Minyak melanjutkan kenaikan yang telah dicapai pada akhir pekan lalu. Minyak Mentah Berjangka tipe Brent kembali dibuka di atas harga USD70 per barel, sementara West Texas Intermediate diperdagangkan di atas USD65 per barel. Kekhawatiran mengenai hubungan Amerika Serikat-Iran dan keinginan Arab Saudi untuk memperpanjang pemangkasan output minyak OPEC, turut menunjang kenaikan harga. Sementara itu, China meluncurkan Shanghai Crude Oil Futures yang berpotensi menjadi acuan harga minyak baru, bersanding dengan Brent dan WTI.

 

Shanghai Futures Exchange

 

 

Brent Capai USD70 Per Barel Lagi

Saat berita ditulis, harga Minyak Mentah Berjangka tipe WTI berada di kisaran USD65.62, telah menurun 0.14 persen dari harga pembukaaan tertinggi sejak Januari. Sedangkan Brent di kisaran USD70.36 per barel, masih dalam status meningkat 0.17 persen.

 

"Harga Minyak meningkat karena digerakkan oleh peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah," kata Stephen Innes dari OANDA Singapura, pada Reuters. Lanjutnya, "Presiden Donald Trump terus mensinyalkan bahwa AS akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, hal mana mencuatkan kemungkinan kembali diterapkannya sanksi atas negeri itu dan membatasi kemampuan Teheran untuk mengekspor Minyak Mentah."

 

Selain itu, harga Minyak juga didukung oleh pernyataan-pernyataan dari Arab Saudi, pimpinan de-facto Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Para pejabat Saudi berulangkali menyampaikan bahwa pemangkasan output yang telah berlangsung sejak tahun 2017, bisa jadi diperpanjang hingga tahun 2019.

Sebagaimana diketahui, sebuah kesepakatan pemangkasan output yang diikuti semua negara OPEC dan sejumlah negara produsen minyak Non-OPEC telah dilaksanakan sejak Januari 2017 dan dijadwalkan berlanjut hingga akhir tahun 2018. Kesepakatan tersebut mengharuskan negara-negara partisipan, termasuk Arab Saudi, untuk menahan laju produksi dalam kuota tertentu, dalam rangka menyusutkan limpahan surplus minyak global dan mendongkrak harga.

 

Harga Minyak Acuan Baru Di Shanghai

Di tengah kenaikan harga Minyak, China memperkenalkan standar harga Minyak baru untuk pasar Asia. Selama ini, meski sudah terdapat beberapa harga standar sebagai acuan harga Minyak, tetapi Brent dari Eropa dan WTI dari Amerika cenderung menjadi rujukan pasar. Sedangkan pasar Asia (Timur dan Tenggara) belum memiliki harga Minyak acuan tertentu, meskipun berstatus sebagai kawasan dengan pertumbuhan konsumsi Minyak terbesar. Dalam hal ini, China sebagai salah satu negara produsen sekaligus konsumen, dinilai sebagai sebuah lokasi potensial untuk merilis harga Minyak acuan.

 

"Pemerintah (China) nampaknya sungguh-sungguh ingin mendukungnya, dan saya dengar beberapa perusahaan diminta atau dipaksa untuk melakukan perdagangan dengannya (harga Shanghai Crude Oil Futures), hal mana bisa membantu (menjadikannya harga Minyak acuan baru -red)," kata Jeff Brown, presiden lembaga konsultan FGE.

 

Di saat yang sama, Brown mengungkapkan ada kekhawatiran mengenai intervensi regulator, sebagaimana telah terjadi pada komoditas finansial China lainnya, termasuk Bijih Besi dan Batu Bara. Paparnya, "Fakta bahwa pemerintah (China) mendorong perdagangan dan tak malu-malu tentang ikut campur untuk sesekali merubah aturan, bisa jadi mengecilkan minat pemain pasar internasional."

Terlepas dari itu, harga Shanghai Crude Oil Futures melonjak enam persen saat debut tadi pagi. Kontrak untuk pengiriman bulan September dibuka pada 440.4 yuan (sekitar USD69.78) per barel dari harga referensi awal 416 yuan, dan sempat naik hingga 447.1 yuan dalam beberapa menit pertama setelah pembukaan pasar.

Menurut Chen Tong, analis Minyak Mentah senior di First Futures, likuiditas digerakkan oleh investor institusional dan spekulan. Katanya, "Dalam jangka pendek, kami meyakini fluktuasi harga akan merefleksikan permintaan dan penawaran Minyak Mentah domestik. (Namun) dalam jangka panjang, harga Minyak Mentah (dalam) yuan akan merefleksikan pergerakan Brent."

282976

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone