Advertisement

iklan

CPI China Sedikit Turun, PPI Terjebak Di Zona Deflasi

Minimnya pasokan bahan makanan seperti daging babi membuat tingkat Inflasi Konsumen China tetap di level tinggi meski mengalami penurunan tipis.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada hari Selasa (10/Maret), Departemen Statistik China mempublikasikan data Inflasi Konsumen (CPI) bulan Februari yang tumbuh 5.2 persen secara tahunan (Year-over-Year). Meski sedikit melambat dibandingkan data CPI bulan sebelumnya yang sebesar 5.4 persen, capaian inflasi kali ini masih bertahan di kisaran tinggi beberapa tahun terakhir.

Inflasi Konsumen China Sedikit Turun,

Tingkat inflasi konsumen yang masih solid disebabkan oleh masih tingginya kebutuhan masyarakat China terhadap daging babi, di tengah wabah virus Corona yang sempat membuat aktivitas ekonomi di beberapa kota lumpuh total. Kelangkaan pasokan daging babi sendiri telah terjadi sejak tahun lalu karena wabah demam babi Afrika yang menghabiskan setengah dari total populasi babi.

 

Inflasi Produsen Di Zona Deflasi, Outlook Ekonomi Tak Meyakinkan

Dalam rilis terpisah, Departemen Statistik China juga melaporkan data Inflasi Produsen (PPI) untuk periode bulan Februari. Sayangnya, laporan ini merosot ke -0.4 persen YoY dan berada di zona deflasi, lebih buruk dari forecast ekonom yang memprediksi -0.3 persen, juga melemah dari level periode sebelumnya yang 0.1 persen.

Kemerosotan Inflasi Produsen bulan lalu disinyalir karena dipicu oleh turunnya permintaan pasar terhadap beberapa barang seperti produk manufaktur dan alat berat, akibat merebaknya wabah virus Corona. Tidak tertutup kemungkinan, trend PPI China akan tetap berada di zona deflasi pada bulan Maret. Pasalnya, sejumlah pabrik melaporkan bahwa permintaan belum kembali normal hingga saat ini. Selain itu, trend CPI diprediksi akan tetap tinggi karena pasokan beberapa bahan makanan seperti daging masih terbatas.

Ekonomi China kuartal pertama tahun ini tengah menghadapi risiko perlambatan cukup signifikan. Bahkan, beberapa ekonom melihat data GDP berpotensi terperosok hingga berada di bawah level 6 persen secara tahunan. Padahal, pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen itu saja sudah termasuk pencapaian terendah dalam beberapa dekade terakhir.

292266

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone