Advertisement

iklan

Dampak Virus Corona Belum Terukur, Penguatan AUD Dinilai Prematur

Nilai tukar Dolar Australia menguat selama dua hari terakhir, tetapi kemungkinan reli hanya sementara. Isu virus Corona masih membebani AUD/USD saat ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar Australia menguat versus Dolar AS hingga mencapai kisaran lebih dari 0.6710 sejak awal pekan hingga perdagangan hari ini (11/Februari). Akan tetapi, sejumlah analis menilai penguatan Aussie terlalu prematur. Pasalnya, upaya penanggulangan wabah virus Corona belum membuahkan hasil. Dampak keseluruhan wabah juga belum bisa diukur, sehingga Dolar Australia sebagai proxy China masih berpotensi melemah lagi.

AUDUSD DailyGrafik AUD/USD Daily via Tradingview.com

Statistik kasus virus Corona menunjukkan pertambahan kasus semakin melambat dan jumlah penderita yang pulih kian meningkat. Banyak perusahaan China di luar wilayah yang diisolasi telah meminta karyawan kembali bekerja seperti biasa. Akan tetapi, korban meninggal akibat terjangkit virus Corona sudah mencapai 1018 jiwa di China, Hong Kong, dan Filipina. Jumlah kasus di luar China juga terus bertambah.

Estimasi sementara dari WHO menempatkan tingkat fatalitas pada 2 persen. Meski demikian, banyak pihak meragukannya, karena wabah masih terus berkembang. WHO sempat memperkirakan fatalitas SARS pada tahun 2003 hanya 3 persen, tetapi realitanya mencapai 9.6 persen.

Pada hari Senin, Joshua Mahony dari IG mencatat, "Banyak perusahaan China telah memerintahkan karyawan mereka untuk kembali bekerja hari ini, (sehingga) memicu penguatan saham-saham China, Yuan, dan Dolar Australia. Kelegaan ini bisa jadi sedikit prematur, karena kurangnya kemajuan dalam menekan penyebaran virus Corona. Dengan jumlah kematian di provinsi Hubei saja mencapai 900, dikhawatirkan banyak yang tidak dihitung di China maupun mancanegara. Meski peningkatan aktivitas bisnis jelas mengurangi dampak ekonomi dari krisis ini, tetapi hal itu juga kemungkinan meningkatkan tingkat infeksi ke depan."

Aussie juga kemungkinan reli karena opini bank sentral Australia (RBA) yang lebih optimistis tentang kebijakan moneter pada pekan lalu. Saat itu, RBA memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga dan tetap menolak untuk menjalankan Quantitative Easing. Keputusan itu disambut hangat oleh sebagian pelaku pasar, tetapi ditertawakan oleh sebagian yang lain.

Hanya beberapa saat setelah rilis pernyataan RBA, Michael Every dari Rabobank berkomentar, "RBA dengan lucu menggunakan pernyataan kebijakan moneter mereka pagi ini untuk menjelaskan suku bunga tetap untuk sekarang, dan pemangkasan suku bunga lebih lanjut bisa lebih merusak daripada menguntungkan, karena tersisa dua kali (kesempatan pemangkasan suku bunga lagi) sebelum QE harus dimulai.... Tapi momen (pernyataan RBA tersebut) merupakan komedi gelap, sama halnya dengan proyeksi mereka bahwa tingkat pengangguran akan menurun dan tidak naik pada saat pariwisata (dari) China kolaps."

291967

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.