Data Inflasi Australia Pangkas Prospek RBA Rate Cut, Aussie Reli

Laju inflasi Australia sesuai ekspektasi pada kuartal III/2019, sehingga RBA diduga tidak akan memangkas suku bunga lagi dalam waktu dekat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar Australia sempat melejit kemarin, karena pidato Gubernur RBA mendorong pelaku pasar mengubah estimasi mereka tentang prospek pemangkasan suku bunga (rate cut) dalam waktu dekat. Pasangan mata uang AUD/USD melanjutkan kenaikan sebesar 0.15 persen ke kisaran 0.6875 dalam perdagangan hari ini (30/Oktober), berkat publikasi data inflasi yang sesuai ekspektasi. Pidato Gubernur RBA dan data inflasi sama-sama menumbuhkan spekulasi bahwa bank sentral Australia (RBA) bakal mengambil jeda waktu lebih lama sebelum melakukan perubahan suku bunga lagi. 

AUDUSD DailyGrafik AUD/USD Daily via Tradingview.com

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa laju inflasi meningkat 0.5 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal III/2019. Pertumbuhan inflasi tahunan juga menanjak dari 1.6 persen menjadi 1.7 persen dalam periode yang sama. Meskipun laju masih di bawah target RBA yang dipatok pada kisaran 2-3 persen, tetapi inflasi sesuai dengan estimasi awal.

Data inflasi Australia menghapus urgensi bagi RBA untuk memangkas suku bunga lagi dalam waktu dekat. Pelaku pasar memperkirakan RBA tetap akan melakukan pemangkasan suku bunga susulan, tetapi langkah tersebut kemungkinan tidak diambil dalam rapat kebijakan pekan depan.

"Angka (inflasi) memberi (RBA) sejumlah fleksibilitas seputar waktu pemangkasan suku bunga berikutnya; dan probabilitas perubahan (suku bunga) pekan depan secara nyata kurang dari 50 persen dalam pandangan kami. Meski begitu, kami masih berpikir RBA pada akhirnya perlu melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut, jika ingin mengeliminasi kapasitas sisa dari pasar tenaga kerja dan menekan tingkat pengangguran hingga 4.5 persen," ujar David Plank dari Australia & New Zealand Banking Group (ANZ).

RBA telah memangkas suku bunga sebanyak 3 kali sejak awal tahun ini dengan tujuan untuk mendongkrak inflasi dan mengurangi pengangguran. Agresivitas pelonggaran moneter tersebut telah mengakibatkan sebagian kalangan khawatir kalau-kalau RBA bakal memangkas suku bunga hingga di bawah nol. Namun, kekhawatiran itu kini telah memudar.

Pada hari Selasa, Gubernur RBA Philip Lowe menyampaikan dalam sebuah pidato di Canberra bahwa pihaknya siap memangkas suku bunga lagi jika diperlukan, tetapi tidak akan membiarkannya jatuh ke area negatif. Dengan menunjukkan Eropa sebagai contoh kasus, Lowe menilai suku bunga negatif berdampak buruk secara signifikan terhadap sistem keuangan dan dana pensiun.

290773

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.