Advertisement

iklan

Dolar AS Lumpuh, Sentimen Pasar Memburuk Akibat Tingkah Paman Sam

Dolar AS ambruk versus Yen Jepang dan Euro, gegara data sektor manufaktur AS yang buruk dan keputusan Washington untuk membuka medan perang dagang baru.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) terpuruk pada level 97.80-an menjelang akhir sesi Eropa hari ini (3/Desember). Greenback ambruk hingga mendekati rekor terendah sepekan versus Yen Jepang dan Euro, gegara data sektor manufaktur AS yang buruk dan keputusan Washington untuk membuka medan perang dagang baru. Sementara konflik dengan China belum usai, kemarin Amerika Serikat juga mengumumkan peningkatan tarif dadakan untuk impor metal dari Brazil dan Argentina.

DXY Daily

Data perekonomian AS kuartal III/2019 telah menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, ekspektasi pasar langsung terpukul setelah menyaksikan penurunan signifikan dalam data PMI Manufaktur dan belanja konstruksi terkini. Harapan terhadap stabilisasi ekonomi semakin memudar, sehingga Dolar AS menghadapi aksi jual massal.

"Data (ekonomi AS) yang lemah memaksa banyak orang untuk melepaskan posisi long Dolar AS dan memangkas kerugian," kata Yukio Ishizuki dari Daiwa Securities, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Lanjutnya, "(Reli Dolar) mungkin sudah mendekati akhir jalurnya, tetapi tak ada alasan untuk tidak mengejar (potensi) kenaikan Dolar dari sini. Keretakan perdagangan masih menjadi ancaman, hal mana tak baik bagi sentimen pasar (dan menguntungkan mata uang safe haven -red)."

Investor semakin khawatir mengenai prospek damai dalam sengketa dagang AS-China, karena para pejabat AS lagi-lagi melontarkan ancaman akan menaikkan tarif impor pada tanggal 15 Desember mendatang. Kecemasan juga semakin menguat, setelah Presiden AS Donald Trump mendadak mengumumkan tarif impor baru untuk baja dan alumunium asal Brazil dan Argentina.

Melalui cuitannya kemarin, Trump mengatakan bahwa tarif impor tersebut "diberlakukan segera". Ia berdalih bahwa "Brazil dan Argentina telah melakukan devaluasi masif terhadap mata uang mereka, suatu hal yang buruk bagi para petani kita."

Faktanya, nilai tukar kedua negara tersebut merosot lantaran masalah krisis ekonomi domestik. Brazil dan Argentina juga menyadari dampak buruk nilai tukar yang terlalu lemah terhadap perekonomian mereka sendiri, sehingga belakangan ini mulai berupaya untuk memperkuat nilai tukar mereka versus Dolar AS. Tak pelak, pelaku pasar menganggap vonis AS sebagai sesuatu yang tidak beralasan. Seusai pengumuman Trump, nilai tukar Real Brazil malah menguat pesat terhadap Greenback, sedangkan Peso Argentina tak terusik sama sekali.

291166

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.