Advertisement

iklan

Dolar AS Masih Jadi Safe Haven Di Tengah Pandemi COVID-19

Walaupun data pengangguran AS melonjak pesat, tetapi pelaku pasar terus melanjutkan konversi aset-aset negara berkembang mereka menjadi Dolar AS.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Indeks Dolar AS (DXY) mendaki makin tinggi ke kisaran 100.50-an dalam perdagangan hari ini (3/April). Pelaku pasar mengabaikan pertambahan klaim pengangguran AS yang tembus 10 juta dalam dua pekan terakhir; masih menganggap Dolar AS sebagai mata uang paling aman menjelang resesi global akibat pandemi COVID-19 saat ini. Kenaikan harga minyak juga berkontribusi pada reli Greenback versus Euro dan mata uang konsumen migas lain, karena Amerika Serikat termasuk negara produsen migas terbesar dunia.

DXY Daily

Pergerakan Dolar AS sempat macet pada sesi Asia dan Eropa kemarin, tetapi langsung bergairah kembali setelah memasuki sesi New York. Kabar lonjakan jumlah klaim pengangguran AS cukup menggemparkan pasar, tetapi arus pelarian dana dari aset negara-negara berkembang ke Dolar AS terus berlanjut. Dinamika ini terlihat pada skor indeks MSCI Emerging Market Currency -yang membandingkan nilai tukar mata uang 25 negara berkembang versus Dolar AS- terpuruk dekat level terendah tiga tahun yang dihuni sejak bulan lalu.

"Pasar tenaga kerja AS kurang lebih sudah kolaps," ungkap Joe Capurso, analis mata uang CBA, sebagaimana dilansir oleh Reuters, "Kenaikan dalam Dolar di tengah lemahnya data ekonomi AS merefleksikan status Dolar sebagai mata uang yang counter-cyclical. Nilainya meningkat ketika perekonomian global memburuk, bahkan meski penurunan dalam ekonomi global itu (terjadi) di AS."

"Hingga (pandemi) virus memuncak, kami mengantisipasi tekanan jual (dari aset-aset negara berkembang ke Dolar AS -red) akan berlangsung dan capital outflow akan terus berlanjut, walaupun gelombang terburuk mungkin sudah terjadi pada Maret," kata Piotr Matys, pakar strategi forex negara berkembang di Rabobank London, "(Tapi) apabila sebuah resesi global yang tersinkronisasi berubah menjadi depresi, maka sulit menerka bagaimana perkembangan selanjutnya."

Sementara itu, fluktuasi pasar minyak menjadi salah satu sorotan pekan ini. Harga minyak mentah WTI sempat ambruk ke level 20 Dolar AS per barel, tetapi kini bertengger pada kisaran 25 Dolar AS per barel. Pembalikan arah pergerakan harga yang dipicu oleh komentar-komentar spekulatif Trump tersebut mengokohkan mata uang negara-negara produsen migas, termasuk Greenback dan Loonie. Saat berita ditulis, USD/CAD masih kalem melanjutkan perdagangan sideways dalam rentang 1.4116-1.4197, meski rekan-rekan major pair lain mengalami fluktuasi cukup tinggi.

292534

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.