Dolar AS Melemah, Dibebani Yield Obligasi Dan Komentar IMF

Dolar AS terkoreksi versus Euro dan Poundsterling, seusai rilis data Building Permits dan komentar IMF yang mengakibatkan penurunan yield obligasi pada hari Rabu.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) melemah sejak sesi New York kemarin hingga mencapai kisaran 97.06 pada sesi Eropa hari ini (18/Juli). Depresiasi Greenback dipicu oleh penurunan yield obligasi pemerintah AS pasca rilis data Building Permits yang mengecewakan. Selain itu, ada pula komentar terbaru dari IMF (International Monetary Fund) mengenai valuasi Dolar AS yang memberikan alasan bagi trader dan investor untuk memangkas posisi long mereka dalam mata uang ini.

DXY DailyGrafik DXY Daily via Tradingview

Pada hari Rabu malam, pemberian izin pembangunan (Building Permits) di Amerika Serikat dilaporkan merosot 6.1 persen (Month-over-Month) ke level 1.220 juta unit pada bulan Juni 2019. Ini merupakan total Building Permits terendah dalam lebih dari dua tahun terakhir. Padahal, pembangunan perumahan (Housing Starts) juga menurun 0.9 persen (Month-over-Month) dalam periode yang sama.

Tak lama berselang, lembaga IMF dalam rilisan External Sector Report menyampaikan komentar bahwa Dolar AS telah overvalue antara 6 persen hingga 12 persen berdasarkan fundamental ekonomi jangka pendeknya. Sebaliknya, IMF memandang nilai tukar Yen Jepang, Euro, dan Yuan China sudah selaras dengan kondisi fundamental masing-masing.

Serangkaian laporan itu mendorong penurunan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10-tahunan kembali ke level 2.05 persen. Pada gilirannya, situasi tersebut juga mendorong pelemahan Dolar AS terhadap beragam mata uang mayor, khususnya Euro dan Pounds. Saat berita ditulis, EUR/USD telah mencatat kenaikan harian 0.13 persen hingga level 1.1239, sementara GBP/USD meroket sekitar 0.4 persen ke level 1.1248.

"Pada dasarnya Dolar menyerahkan kembali kenaikan nilai sebelumnya, karena yield Treasury mundur dan komentar IMF, lalu kembali ke posisinya beberapa hari lalu," kata Takuya Kanda dari Gaitame.com Research Institute, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Menurutnya, berbagai data ekonomi memberikan sinyal simpang siur mengenai kondisi ekonomi AS, tetapi hal itu tak mengubah gambaran yang lebih luas dimana Dolar menghadapi tekanan akibat rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

289298

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.