Advertisement

iklan

Dolar AS Melonjak Tanggapi Ekspansi PMI ISM Manufaktur

Dolar AS menguat di sesi perdagangan Selasa pagi ini, merespon kenaikan pesat aktivitas manufaktur Amerika Serikat dan kebijakan moneter China.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Lembaga ISM tadi malam merilis laporan yang menunjukkan bahwa PMI Manufaktur AS untuk bulan Januari melonjak ke level 50.9, masuk ke level ekspansi untuk pertama kalinya sejak terkontraksi di bawah ambang 50 pada bulan Agustus 2019.

pmi-manufaktur-as

Angka tersebut lebih tinggi daripada ekspektasi kenaikan ke 48.5, serta daripada rilis bulan sebelumnya di level 47.8. Penandatanganan kesepakatan dagang parsial antara AS dan China, diperkirakan memiliki andil besar terhadap kenaikan PMI Manufaktur AS di awal tahun ini.

Akan tetapi, sebagian pakar ekonomi merasa sangsi akan keberlanjutan ekspansi tersebut. Pasalnya, meskipun kesepakatan telah diteken, AS masih menyisakan penerapan bea impor senilai $360 miliar pada barang-barang impor dari China. Para ekonom menilai bahwa sebelum tarif tersebut benar-benar dicabut, maka akan sulit bagi sektor manufaktur AS untuk mempertahankan ekspansinya.

"Ke depan, kami mengekspektasikan bahwa Indeks Manufaktur ISM AS akan kembali turun, tepatnya bulan depan, karena isu-isu musiman dan gangguan yang berkaitan dengan penyebaran virus Corona," demikian ungkap analisis dari lembaga finansial dan investasi, Stifel, yang dikutip dari Investing.com.

 

Data PMI ISM Manufaktur AS tersebut disambut dengan bullish Dolar AS. Indeks Dolar (DXY) menghapus penurunan kemarin dengan kenaikan 0.46 persen ke 97.81. Sedangkan USD/JPY diperdagangkan di 108.64, mendulang kenaikan 0.33 persen dari sesi perdagangan sebelumnya.

usdjpy

 

China Potong Suku Bunga Repo

Selain data domestik AS, pelonggaran moneter bank sentral China turut memberikan dukungan bagi bullish Dolar AS dan melemahkan mata uang-mata uang safe haven berikut mata uang China sendiri.

Virus Corona yang mewabah di Wuhan telah menghambat aktivitas ekonomi China, sehingga bank sentral negara itu pun memutuskan untuk melonggarkan moneter dengan memotong suku bunga Repo sebanyak 10 basis poin. Tak cuma itu, bank sentral juga menggelontorkan 1.2 triliun yuan ke pasar melalui operasi Repo.

"Ada pembalikan dalam sentimen risiko seiring dengan aksi jual saham dan pembelian safe haven sejak minggu lalu yang mulai berkurang," kata John Doyle, analis dari Tempus Inc. di Washington.

291870

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.