Advertisement

iklan

Dolar Australia Rebound Berkat Kenaikan Suku Bunga RBA

Penulis

+ -

RBA mengumumkan kenaikan suku bunga dalam jumlah lebih besar daripada perkiraan konsensus, sehingga memberi support bagi dolar Australia.

iklan

iklan

Seputarforex - Kurs dolar Australia melambung hingga lebih dari 0.7100 terhadap dolar AS dalam perdagangan sesi Asia hari ini (3/Mei). Reserve Bank of Australia (RBA) mengumumkan kenaikan suku bunga dalam jumlah lebih besar daripada perkiraan konsensus, serta mengisyaratkan kesiapan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut demi menanggulangi lonjakan inflasi. AUD/USD mulai surut kembali saat memasuki sesi Eropa karena para trader mempertimbangkan ulang implikasi sikap hawkish RBA di tengah berbagai risiko global, tetapi biasnya sudah sedikit lebih bullish daripada pekan lalu.

AUDUSD Daily Grafik AUD/USD Daily via TradingView

RBA tadi pagi memutuskan untuk melaksanakan "rate hike" sebanyak 25 basis poin menjadi 0.35 persen, padahal pelaku pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya sampai 0.25 persen. Pimpinan RBA juga mengungkapkan niat untuk menaikkan suku bunga terus hingga laju inflasi Australia terkendali.

"Dewan berkomitmen untuk melaksanakan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa inflasi di Australia kembali ke target dari waktu ke waktu," kata Gubernur RBA Philip Lowe, "Ini akan memerlukan kenaikan lebih lanjut dalam suku bunga selama beberapa waktu mendatang."

Seusai pengumuman tersebut, yield obligasi Australia 3Y meloncat hingga 16 basis poin ke level 2.98% (level tertinggi sejak April 2014), dan yield obligasi Australia 10Y menduduki level 3.30%. Pengumuman RBA juga memberikan landasan bagi rebound dolar Australia, sehingga kurs AUD/USD melambung hingga 1.4 persen.

"(Pasar) futures saat ini memperhitungkan siklus kenaikan (suku bunga) yang sangat agresif untuk RBA, dan AUD telah memperoleh support," kata Karl Steiner, Kepala Strategi Kuantitatif di SEB.

Agenda lain dalam rapat RBA mencakup rencana Quantitative Tightening (QT) yang akan dimulai dengan menghentikan reinvestasi atas obligasi yang sudah jatuh tempo. Hanya saja, efek QT RBA kemungkinan akan minim karena sedikit sekali jumlah obligasi dalam portofolionya yang akan jatuh tempo hingga tahun depan.

Pernyataan RBA selengkapnya menggarisbawahi ketangguhan ekonomi Australia. Mereka memuji perbaikan dalam pasar tenaga kerja yang telah menekan tingkat pengangguran ke level terendah dalam nyaris 50 tahun terakhir. RBA menegaskan pula bahwa outlook pertumbuhan Australia tetap positif meskipun terdapat sejumlah ketidakpastian terkait COVID-19 di China, perang di Ukraina, dan kemerosotan daya beli akibat inflasi yang lebih tinggi. RBA memperkirakan pertumbuhan GDP Australia akan mencapai 4.25 persen selama tahun 2022 dan 2 persen selama tahun 2023.

Download Seputarforex App

297670
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.