Advertisement

iklan

Dolar Australia Tetap Perkasa Meski Bank Sentral Beraksi

Penulis

+ -

Langkah dovish RBA tak mengusik ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga lebih cepat. Dolar Australia pun tetap tangguh pada kisaran tertinggi sejak Juli.

iklan

iklan

Seputarforex - Bank sentral Australia (RBA) hari ini (22/Oktober) terpaksa mengumumkan pembelian obligasi masif guna mempertahankan target yield-nya. Namun, langkah kebijakan yang bernada dovish tersebut tak mengusik ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga RBA yang lebih cepat. Dolar Australia pun tetap tangguh dengan posisi AUD/USD berkonsolidasi pada kisaran tertinggi sejak Juli.

AUDUSD Daily Grafik  AUD/USD Daily via Tradingview.com

Sebagaimana diketahui, RBA telah menyatakan keengganannya untuk menaikkan suku bunga sebelum semua target bank sentral tercapai atau sekitar tahun 2024 . Meski demikian, pelaku pasar "berani bertaruh" RBA bakal menaikkan suku bunga lebih cepat -mungkin pada tahun 2022-.

Keyakinan pasar itu berimbas pada melonjaknya yield obligasi pemerintah Australia hingga lebih dari 0.17 persen dalam pekan ini, meskipun RBA telah mematok target yield pada rentang 0.1 persen. Konsekuensinya, RBA terpaksa beraksi.

RBA tadi pagi mendadak mengumumkan operasi pembelian obligasi pemerintah bertanggal April 2024 senilai AUD1 miliar (USD746 juta). Ini merupakan aksi pertamanya sejak 26 Februari lalu, dan berhasil menekan yield kembali ke level 0.12 persen.

"Ini merupakan sinyal jelas bahwa RBA siap untuk mempertahankan target YCC (Yield Curve Control) dan, lebih penting lagi, masih meyakini bahwa suku bunga tidak akan naik hingga target obligasi ini mencapai maturitas pada 2024," kata Su-Lin Ong dari Royal Bank of Canada, sebagaimana dilansir oleh Bloomberg, "Ini suatu langkah yang menjadi sinyal sekaligus aksi yang sangat dibutuhkan di tengah kegelisahan pasar yang telah memperhitungkan kenaikan (suku bunga) berkali-kali mulai kuartal ketiga tahun depan (2022)."

Gubernur RBA Philip Lowe telah berulang kali menumpas spekulasi kenaikan suku bunga lebih cepat, karena ia menilai pertumbuhan gaji Australia masih lesu dan sedikit sekali sumber tekanan inflasi lainnya. Situasi Australia berbeda dengan sejumlah negara lain yang mengalami lonjakan inflasi secara luar biasa dan perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikannya, misalnya negeri jiran New Zealand yang sudah memulai rate hike pada awal bulan ini.

Di sisi lain, pasar tetap bersiteguh mempertahankan spekulasi kenaikan suku bunga RBA lebih awal. Para analis kini memantau siapa yang akan menang di tengah tarik-ulur antara bank sentral versus pasar ini.

Martin Whetton, kepala strategi forex dan pendapatan tetap di Commonwealth Bank of Australia, menyebutkan bahwa obligasi 24 April di pasar hanya tersisa sebanyak AUD12 miliar setelah aksi RBA hari ini. "Jadi, sampai berapa lama pasar akan terus mengujinya?" pungkas Whetton.

Download Seputarforex App

296638
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini