Advertisement

iklan

Dua Faktor Bikin Dolar AS Pincang Meski NFP Gemilang

Penulis

+ -

Data Non-farm Payroll pada hari Jumat mengungguli estimasi konsensus, tetapi nilai tukar dolar AS tetap tertekan.

iklan

iklan

Seputarforex - Greenback ambles makin jauh pada perdagangan sesi Asia hari Senin (5/Desember). Data Non-farm Payroll pada hari Jumat mengungguli estimasi konsensus, tetapi nilai tukar dolar AS tetap tertekan lantaran mundurnya yield obligasi US Treasury. Indeks dolar AS (DXY) kemudian jatuh lebih lanjut ke kisaran 104.20-an pagi ini, sekaligus mencetak rekor terendah sejak 28 Juni.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Laporan Non-farm Payroll AS membukukan kenaikan 263k pada periode November 2022, lebih baik daripada estimasi konsensus yang hanya sebesar 200k. Data periode sebelumnya juga direvisi naik dari 261k menjadi 284k. Sementara itu, tingkat pengangguran stagnan pada 6.7 persen dan pendapatan rata-rata per jam mencapai 5.1 persen (Year-on-Year).

Data-data tersebut mengisyaratkan sejumlah faktor pendorong inflasi dari sisi ketenagakerjaan masih tetap kuat, termasuk pertumbuhan gaji dan permintaan tenaga kerja. Padahal, The Fed membutuhkan "pendinginan" pasar tenaga kerja demi mengembalikan laju inflasi ke target 2 persen.

Dengan mempertimbangkan kesenjangan tersebut, pasar semakin yakin bahwa The Fed semata-mata hanya akan memperlambat --dan bukan menyetop-- laju kenaikan suku bunganya pada awal tahun depan. Namun, data yang sama tidak mampu mendorong kenaikan ekspektasi suku bunga The Fed lagi. Hanya berselang beberapa hari sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell telah menegaskan perlunya perlambatan "rate hike" dalam waktu dekat.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut menumpulkan imbas positif rilis data Non-farm Payroll bagi dolar AS. Di sisi lain, banyak faktor lain yang membebaninya, termasuk penurunan yield obligasi US Treasury dan perbaikan sentimen pasar.

Yield obligasi US Treasury 10Y ditutup naik ke 3.535% di penghujung sesi New York hari Jumat, tetapi masih terkurung dalam rentang terendah sejak September. Hal ini mengakibatkan USD/JPY terperosok tajam ke level terendah sejak Agustus pada kisaran 134.00-an.

Media massa dunia pagi ini mengabarkan beberapa kota di China telah melonggarkan pembatasan anti-COVID-19, sehingga membangkitkan kembali spekulasi seputar revisi kebijakan Nol COVID. Sentimen pasar kian membaik, memulihkan nilai aset-aset keuangan yang berhubungan erat dengan China. USD/CNY anjlok nyaris 1 persen sampai 6.9520-an, sementara AUD/USD menguat lebih dari 0.5 persen sampai kisaran 0.6850-an.

Download Seputarforex App

298628
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.