OctaFx

iklan

Eskalasi Perang Dagang Bisa Berdampak Pada Harga Minyak

Pada hari Jumat, harga minyak merosot drastis sekitar 2 persen. Penyebabnya, perang dagang AS - China dikhawatirkan merembet ke pasar minyak.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak kolaps pada hari Jumat, meskipun fundamental sejatinya bullish akibat kemerosotan produksi minyak OPEC. Pasalnya, indikasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian menguat, dan kini diperkirakan dapat berimbas pada pasar minyak. Harga minyak Brent dan WTI kembali mencuat pada perdagangan hari Senin pagi ini (9/April), tetapi belum mampu membalik kemerosotan dialami minggu lalu.

 

Perang Dagang Donald Trump - Xi Jinping

 

Saat berita ditulis, harga minyak WTI diperdagangkan naik 0.48% dari harga pembukaan awal pekan ke USD62.20, tetapi belum mampu meraih kembali angka 64.88 yang menjadi harga pembukaan minggu lalu. Sementara itu, harga minyak Brent naik 0.40% ke USD67.27 per barel, masih jauh dari 69.33 yang menjadi harga pembukaan minggu lalu.

 

Gayung Bersambut, Tarif Impor Berjawab 

Pada hari Jumat, harga minyak merosot drastis sekitar 2 persen. Kabar yang mendorong pergerakan ini adalah ancaman Presiden Donald Trump untuk menerapkan bea impor tambahan pada China, setelah Beijing memberlakukan bea impor balasan atas puluhan produk ekspor AS sebagai respon untuk tindakan Washington mengaplikasikan bea impor logam. Dampak perang dagang AS - China kini dikhawatirkan dapat merembet pula ke sektor migas; seusai menelan sektor manufaktur, teknologi, dan agri.

 

"Sementara eskalasi perang dagang bisa menyinggung sentimen pertumbuhan global, sumber ketakutan asli adalah China, yang jika ditekan cukup kuat maka dapat menerapkan tarif pada minyak AS yang mereka impor," kata Stephen Innes, pimpinan trading untuk Asia Pasifik di broker OANDA di Singapura, pada Reuters.

 

Hal serupa disampaikan oleh beberapa analis lainnya. "China bisa mencampakkan energi (minyak) AS kapan saja karena banyak suplai dari sumber lainnya, sedangkan bagi AS, energi adalah subjek yang sensitif," kata Will Yun, analis komoditas dari Hyundai Futures Corp, pada Bloomberg.

Lebih dari itu, "Jika China menunjukkan kesediaannya untuk menerapkan tarif impor atas minyak mentah, (maka) itu akan mengirim shock wave ke pasar," kata Min Byungyu, pakar strategi global di Yuanta Securities Co.

 

Kenaikan Ekspor AS Lampaui Penurunan Venezuela

Di sisi lain, Baker Hughes pada Sabtu dini hari melaporkan bahwa oil drilling rigs di negeri Paman Sam meningkat 11 buah pada periode perhitungan sepekan yang berakhir tanggal 6 April. Penambahan tersebut membuat total rigs mencapai 808, tertinggi sejak Maret 2015.

Oleh karenanya, Innes mengatakan, ekspor minyak AS telah melesat dalam beberapa bulan terakhir, lebih dari sekedar mengimbangi penyusutan suplai minyak akibat krisis ekonomi yang dialami Venezuela. Meski demikian, secara umum harga minyak tetap ditopang oleh permintaan minyak yang cukup sehat, serta kesepakatan pemangkasan produksi yang masih dijalankan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sejumlah negara produsen lainnya.

283142

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.