OctaFx

iklan

Euro Ambruk Akibat Kabar Rencana Stimulus Masif ECB

Rencana peluncuran stimulus moneter ECB bukan kabar baru, tetapi kali ini Euro runtuh karena skala stimulus bisa jadi lebih besar dibanding ekspektasi sebelumnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Euro merosot hingga 0.25 persen ke kisaran 1.1081 terhadap Dolar AS, dan ambruk hingga 0.7 persen ke kisaran 0.9127 terhadap Pound pada awal sesi Eropa hari ini (16/Agustus). Pemicu depresiasi Euro kali ini adalah kabar bahwa bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) tengah mempersiapkan program pelonggaran moneter dalam jumlah sangat besar.

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Lesunya inflasi dan sinyal resesi dalam pertumbuhan ekonomi Zona Euro telah meningkatkan ekspektasi pasar mengenai pelonggaran moneter ECB. Bank sentral yang dipimpin oleh Mario Draghi itu pun telah mengungkapkan rencana untuk meluncurkan paket stimulus tambahan dalam waktu dekat. Namun, kabar terbaru menumbuhkan ekspektasi skala pelonggaran moneter yang lebih besar dibandingkan perkiraan pasar sebelumnya.

Pada hari Kamis, Olli Rehn, gubernur bank sentral Finlandia yang juga termasuk anggota dewan kebijakan ECB, mengungkapkan sejumlah komentar mengejutkan. Menurutnya, perlambatan ekonomi global akan membuat ECB menggelontorkan stimulus baru yang mencakup program pembelian obligasi secara "substansial dan memadai", sekaligus pemangkasan suku bunga acuan.

"Penting bagi kami untuk menghadirkan paket kebijakan yang signifikan dan berdampak pada bulan September," kata Rehn. Lanjutnya, "Ketika Anda bekerja dengan pasar keuangan, seringkali lebih baik untuk menargetkan lebih daripada kurang dari target, dan lebih baik memiliki sebuah paket yang sangat kuat daripada (hanya) mengutak-atik."

Kebijakan moneter longgar atau stimulus moneter dalam bentuk Quantitative Easing (QE) cenderung negatif bagi Euro, karena mendorong kenaikan likuiditas dan supply mata uang, sehingga nilai tukarnya mengalami dilusi. Pemangkasan suku bunga juga dapat melemahkan nilai tukar Euro, karena mendorong investor untuk memindahkan modalnya ke kawasan lain yang menawarkan suku bunga lebih tinggi.

289701

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.