OctaFx

iklan

Euro Berupaya Rebound, Didukung Pemulihan Data Domestik

Euro merespons positif publikasi data penjualan ritel dan sektor jasa Zona Euro yang menampilkan kinerja cemerlang.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Euro menguat sekitar 0.15 persen ke kisaran 1.1090-an terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (6/November), setelah publikasi sejumlah data ekonomi domestik yang mengungguli ekspektasi pasar. Penjualan ritel terakselerasi, sementara hasil survei Purchasing Managers' Index (PMI) untuk sektor jasa direvisi naik. Euro juga didukung oleh euforia seputar prospek ditandatanganinya kesepakatan dagang AS-China fase-1. Namun, ada sedikit kekhawatiran tentang kebijakan bank sentral Eropa ke depan.

EURUSD Daily

Eurostat melaporkan bahwa penjualan ritel tumbuh 0.1 persen (Month-over-Month) pada bulan September, sesuai ekspektasi awal. Namun, data penjualan ritel tahunan meroket dari 2.7 persen menjadi 3.1 persen (Year-on-Year), walaupun sebelumnya diperkirakan bakal melorot ke 2.5 persen saja. Data ini menunjukkan bahwa permintaan konsumen Zona Euro masih cukup kuat, didukung oleh rendahnya pengangguran dan pertumbuhan gaji bertahap.

Laporan ekonomi lain dari Markit menunjukkan bahwa skor PMI untuk sektor Jasa Zona Euro bulan Oktober direvisi naik dari 51.6 menjadi 52.2. Perbaikan tersebut turut mendongkrak skor PMI Komposit dari 50.1 menjadi 50.6. Dapat disimpulkan, kondisi ekonomi Zona Euro mulai stabil walaupun sektor manufaktur masih dilanda resesi.

Euro juga ditopang oleh ekspektasi pasar yang tinggi tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang tahap awal dalam bulan ini antara AS dan China. Negara-negara anggota Zona Euro yang mengandalkan ekspor telah terpukul cukup parah gegara perang dagang AS-China, sehingga prospek damai pun ikut berdampak positif bagi Single Currency.

Di sisi lain, Euro masih dibebani oleh kekhawatiran seputar arah kebijakan bank sentral Eropa (ECB) ke depan. Dalam pidato pertamanya sebagai Presiden ECB pada hari Senin, Christine Lagarde tak menyinggung tentang kebijakan moneter. Ia juga tak menanggapi kritik mengenai program Quantitative Easing kontroversial yang dirintis oleh pendahulunya, Mario Draghi. Mantan Ketua IMF itu justru menyampaikan desakan agar Jerman menggelontorkan stimulus fiskal yang lebih besar.

290857

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.