Advertisement

iklan

Harga emas mendekati rekor tertinggi, seiring Ketua Fed Powell yang pesimis terhadap pemotongan suku bunga yang segera terjadi, 10 jam lalu, #Emas Fundamental   |   EUR/USD bertahan di bawah level 1.0900, fokus tertuju pada Neraca Perdagangan Jerman, pidato Lagarde dari ECB, 10 jam lalu, #Forex Teknikal   |   NZD/USD melanjutkan penguatannya di atas level 0.6200 berkat pelemahan USD, pemotongan suku bunga oleh Fed masih menjadi sorotan, 10 jam lalu, #Forex Teknikal   |   XAU/USD mencapai level tertinggi sepanjang masa di sekitar level $2,150, 12 jam lalu, #Emas Teknikal   |   Harga emas mundur setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa, potensi bullish tetap utuh, 12 jam lalu, #Emas Fundamental   |   Top gainers LQ45 pagi ini adalah: PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) +5.02%, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) +4.59%, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +2.35%, 16 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat di awal perdagangan hari ini sebesar 0.71% ke 7,110, 16 jam lalu, #Saham Indonesia   |   PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) melalui anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) berencana menawarkan obligasi hingga Rp1.5 triliun, 16 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Ira Noviarti menjual seluruh saham UNVR yang dimilikinya sebanyak 870,000 lembar sebelum resmi melepas kursi kepemimpinan, 16 jam lalu, #Saham Indonesia
Selengkapnya

Euro Dkk Tertekan Versus Dolar, Bank Sentral Soroti Yield Obligasi

Penulis

Bank-bank sentral dunia semakin mewaspadai perkembangan yield obligasi, sehingga memercikkan sentimen risk-off dan mendongkrak Greenback.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Indeks dolar AS (DXY) menguat lagi sekitar 0.2 persen ke kisaran 91.20-an dalam perdagangan hari ini (2/3), sementara EUR/USD merosot 0.3 persen lagi ke kisaran 1.2020. Bank-bank sentral dunia semakin mewaspadai perkembangan yield obligasi dalam otoritasnya masing-masing, sehingga memercikkan sentimen risk-off kembali dan mendongkrak Greenback.

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Yield obligasi US Treasury telah menurun dari puncaknya pekan lalu pada 1.52-an ke kisaran 1.43 awal pekan ini. Akan tetapi, pelaku pasar tetap cenderung lebih bullish pada dolar AS karena memperkirakan Federal Reserve akan bersikap lebih toleran terhadap yield obligasi yang lebih tinggi ketimbang bank-bank sentral lain.

Otoritas China baru-baru ini mulai mempertimbangkan perlunya mengambil langkah proaktif guna menstabilkan pasar perumahan, sembari mengekspresikan kewaspadaan terhadap risiko pecahnya bubble di pasar luar negeri. China telah mulai memangkas agresivitas stimulusnya tahun ini setelah berhasil mengendalikan pandemi di kawasannya, sementara negara-negara lain justru baru mengerahkan stimulus sebesar-besarnya hingga mendorong kenaikan yield yang cukup drastis.

Sementara itu, bank sentral Jepang (BoJ) hingga kini masih menjalankan kebijakan Yield Curve Control (YCC). Selaras dengan intisari kebijakan tersebut, mereka juga tentu terus memantau perkembangan yield obligasi global.

"Belum diketahui apakah aksi jual pasar obligasi sudah berakhir. Tapi orang-orang memperkirakan BoJ akan mengawasi yield obligasi, yang berarti akan ada lebih banyak premi yield untuk dolar," kata Kazushige Kaida dari State Street Bank, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Di Benua Biru, para pejabat bank sentral Eropa (ECB) mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap kenaikan yield obligasi. Presiden ECB Christine Lagarde menyatakan ECB akan mencegah kenaikan prematur pada biaya pinjaman untuk perusahaan dan rumah tangga (yang dapat terjadi sebagai konsekuensi dari lonjakan yield -red).

Rekannya, Francois Villeroy de Galhau, menyampaikan komentar lebih tajam. Katanya, kenaikan yield obligasi baru-baru ini tidak beralasan dan ECB harus melawannya dengan menggunakan fleksibilitas program pembelian obligasi mereka.

Sikap ECB sangat kontras dengan rileks-nya para pejabat The Fed. Ketua The Fed Jerome Powell tidak berkomentar sama sekali tentang yield pada komunikasi publik terakhirnya. Presiden The Fed kawasan Atlanta, Raphael Bostic, mengatakan yield obligasi secara komparatif tetap rendah. Presiden The Fed kawasan Richmond, Thomas Barkin, mengklaim kenaikan pada yield obligasi jangka panjang sejauh ini hanya menandakan penyesuaian untuk outlook pertumbuhan dan inflasi yang lebih baik.

295292
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.