iklan

Euro Melempem, Pasar Antisipasi Lockdown Nasional Di Prancis

Meroketnya jumlah kasus COVID-19 di Prancis kemungkinan bakal ditanggapi dengan pemberlakuan lockdown nasional. Euro tertekan akibat isu ini, tetapi tertopang oleh krisis politik AS.

iklan

iklan

Seputarforex - Euro melemah 0.2 persen pada kisaran 1.1770-an terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini (28/Oktober). Single Currency juga tertekan terhadap sejumlah mata uang mayor lain, termasuk yen dan pound. Pelaku pasar mengkhawatirkan pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron nanti malam (waktu setempat) di mana ia kemungkinan akan mendeklarasikan lockdown nasional demi membendung pandemi COVID-19 yang menggila.

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Krisis makin parah di Prancis setelah Santé Publique France melaporkan 523 kematian terkait COVID-19 pada hari Selasa malam. Ini merupakan angka harian tertinggi sejak bulan April.

Prancis sudah memberlakukan jam malam untuk dua pertiga populasinya, tetapi Perdana Menteri Jean Castex mengatakan bahwa kebijakan ini saja tak cukup untuk mengontrol lonjakan infeksi virus Corona yang sudah mencapai 52,000 kasus per hari Minggu lalu.

Merespons situasi ini, beredar spekulasi yang mengatakan bahwa Macron akan menerapkan lockdown nasional selama empat pekan mulai Kamis malam mendatang. Restoran dan sekolah menengah akan ditutup, tetapi sekolah dasar dan layanan publik tetap dibuka. Belum diketahui apakah toko-toko masih boleh beroperasi. Ada pula rumor bahwa lockdown ketat hanya akan diterapkan pada pusat wabah tertentu seperti Paris dan Lyon.

Macron telah berdiskusi dalam rapat darurat bersama para menterinya sejak kemarin. Detail lockdown aktual bakal diumumkan pada pidato hari ini.

Situasi ini cukup mengkhawatirkan investor, mengingat Prancis merupakan negara ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa. Dampak lockdown hampir pasti bakal mengikis momentum pemulihan ekonomi kawasan. Apalagi kalau lebih banyak negara memberlakukan kembali lockdown nasional lantaran gagalnya upaya karantina regional dalam membendung gelombang kedua COVID-19.

Euro tertekan menanggapi ketidakpastian tersebut. Namun pelemahannya relatif terbatas, karena investor dan trader juga menyoroti banyak ketidakpastian lain seperti pemilu presiden AS.

"(Lonjakan COVID-19) tentu merupakan kekhawatiran bagi Prancis dan Eropa selatan, sehingga euro susah mendaki," kata Junichi Ishikawa, seorang pakar strategi forex dari IG Securities Tokyo, sebagaimana dilansir oleh Reuters. Terlepas dari itu, ia menilai dolar tidak akan menguat terlalu pesat terhadap mata uang lain, "karena orang-orang terlalu berpuas diri tentang bagaimana pasar akan bereaksi setelah pemilu AS."

Hasil survei menunjukkan tingginya popularitas kandidat presiden Joe Biden dari partai Demokrat. Akan tetapi, petahana Presiden AS Donald Trump masih punya kemungkinan menang secara tak terduga via electoral college seperti dalam pemilu empat tahun lalu.

Selain itu, ada pula probabilitas Trump bakal menolak lengser dengan tenang ketika ia kalah suara. Apabila terjadi sengketa pemilu, Mahkamah Agung dikhawatirkan bakal memberikan putusan yang memihak Trump. Dengan pengesahan Amy Coney Barrett kemarin, mayoritas hakim agung AS saat ini berasal dari kubu Republik.

Download Seputarforex App

294506

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone