Advertisement

iklan

Euro Menguat Berkat Kesepakatan Dagang, Data Domestik Membebani

Euro menguat, menyusul antusiasme pasar menanggapi kesepakatan dagang AS-China. Namun, kondisi ekonomi Zona Euro masih jauh dari pemulihan berkelanjutan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Euro berhasil menguat sekitar 0.2 persen versus Greenback dalam perdagangan hari ini (16/Desember), bertahan di kisaran 1.1142 hingga menjelang akhir sesi Eropa. Namun, sebagian besar apresiasi tersebut merupakan kontribusi optimisme pasar sehubungan dengan tercapainya konsensus dalam kesepakatan dagang AS-China fase pertama. Laporan preliminer tentang hasil survei Purchasing Managers' Index (PMI) untuk Zona Euro justru loyo.

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Lembaga riset IHS Markit melaporkan bahwa skor PMI untuk sektor manufaktur Zona Euro terkoreksi dari 46.9 menjadi 45.9 pada bulan Desember 2019. Skor PMI untuk sektor jasa berekspansi dari 51.9 menjadi 52.4. Namun, kelemahan sektor manufaktur menahan skor komposit stagnan pada level 50.6 (versus ekspektasi 50.7). Skor PMI untuk sektor manufaktur Jerman menampilkan keterpurukan paling dalam, turun dari 44.6 menjadi 43.4 dalam periode yang sama.

"Pada level 50.6 di bulan Desember, Flash IHS Markit Eurozone Composite PMI® tertinggal pada level yang sama selama tiga bulan berturut-turut, bergerak hanya sedikit di atas level stagnan 50.0 yang menandakan pertumbuhan output sangat moderat lintas sektor manufaktur dan jasa untuk bulan keempat beruntun. Skor Desember mengakhiri GDP dan PMI Zona Euro kuartal keempat di mana output meningkat dengan laju terlemah sejak perekonomian bangkit dari perlambatan pada paruh kedua tahun 2013," papar IHS Markit.

Menyaksikan laporan ini, sejumlah analis kembali skeptis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Zona Euro yang sempat menggeliat bulan lalu. Selama pemerintah negara-negara anggota masih segan menggelontorkan stimulus fiskal, pemulihan ekonomi dinilai bakal lamban. Bank sentral Eropa (ECB) juga akan terpaksa mempertahankan suku bunga negatif dalam kurun waktu lama, sehingga meredam minat beli terhadap Euro.

Boris Schlossberg dari BK Asset Management berkomentar dalam newsletter-nya sore ini, "Yield (obligasi) yang negatif terus menerus di kawasan ini akan memberikan alasan siap pakai bagi para politisi Jerman untuk (menjalankan) anggaran belanja defisit tanpa ancaman inflasi. Pertanyaannya adalah apakah otoritas Jerman memiliki kehendak politik untuk melakukannya. Hingga (peluncuran stimulus fiskal yang ditunjukkan dengan kenaikan anggaran belanja) itu terjadi, perekonomian Zona Euro kemungkinan akan terus berkubang dalam siklus pertumbuhan yang sangat lambat dan kenaikan EUR/USD akan terbatas."

291328

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.