Advertisement

iklan

EUR/USD Kian Tercekik Oleh Krisis Energi dan Cuaca Buruk

Penulis

+ -

Krisis energi yang memburuk di Eropa mendorong makin banyak trader cari aman dalam dolar AS, sehingga EUR/USD dan GBP/USD amblas.

iklan

iklan

Seputarforex - Duet EUR/USD melanjutkan kemerosotannya di bawah ambang paritas (1.000) dalam perdagangan hari Selasa (23/Agustus). Data hasil survei Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan Zona Euro pada awal Agustus berkinerja sedikit lebih baik daripada ekspektasi konsensus, tetapi krisis energi berpotensi terus menggenjot inflasi dan risiko resesi di kawasan ini.

EURUSD Daily Grafik EUR/USD Daily via TradingView

Hasil survei preliminer untuk sektor manufaktur Zona Euro menghasilkan skor PMI 49.7; lebih baik ketimbang versus estimasi konsensus yang sebesar 49.0, tetapi lebih lemah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 49.8. Sementara itu, skor untuk sektor jasa hanya mencapai 50.2 versus estimasi 50.5.

Data tersebut sempat mengangkat kurs euro sejenak sampai 0.9950-an, tetapi gagal mempertahankan minat pasar terhadap Single Currency. Saat berita ditulis, EUR/USD sudah kembali melorot ke kisaran 0.9933.

"Hal yang ingin kami ketahui adalah seberapa besar pergerakan (turun) euro didorong oleh likuiditas musim panas yang tipis dan seberapa banyak didorong oleh arus (jual)," kata Kenneth Broux, pakar strategi mata uang di Societe Generale, "Tapi tentu saja, kenaikan dalam harga gas kemarin itu berita buruk sepenuhnya."

Rusia kemarin mengumumkan akan menghentikan pasokan gas melalui jalur pipa Nord Stream 1 selama tiga hari pada akhir bulan ini. Kabar tersebut melonjakkan harga gas Eropa dan menekan kurs euro.

Gelombang panas di benua Eropa telah mengetatkan pasokan energi selama beberapa waktu belakangan. Apabila gangguan pasokan gas berlanjut hingga musim dingin, krisis energi dapat berakibat fatal bagi aktivitas bisnis Eropa.

"Mengingat suasana (geopolitik) saat ini, jelas ada kekhawatiran apakah (penghentian pasokan gas Rusia) itu akan berlangsung tiga hari atau tiga tahun," kata Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Inggris ikut tergencet oleh krisis yang melanda tetangganya. Skor PMI Manufaktur Inggris babak belur akibat penurunan permintaan konsumen, kelangkaan pekerja, dan tertundanya pengiriman bahan baku. Laju inflasi yang tinggi bakal memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga lagi, padahal ancaman resesi semakin dekat. Konsekuensinya, GBP/USD tersungkur pada kisaran 1.1765-an.

Situasi ekonomi yang memburuk di Eropa mendorong semakin banyak pemain pasar "cari aman" dalam dolar AS. Apalagi, konsensus meyakini Ketua The Fed Jerome Powell akan kembali menyampaikan pernyataan hawkish dalam simposium Jackson Hole pada 25-27 Agustus mendatang. Indeks dolar AS (DXY) kini kembali mendaki ke rekor tertinggi sejak 14 Juli.

Download Seputarforex App

298125
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.