Advertisement

iklan

Fed Rate Naik, Bagaimana Dampaknya Pada Mata Uang Lain?

Penulis

+ -

The Fed memuaskan harapan pasar yang telah mengharap kenaikan Fed rate sejak tahun 2014. Tetapi, bagaimana proyeksi dampaknya pada Dolar AS dan mata uang lainnya?

iklan

iklan

Federal Reserve secara resmi mengakhiri masa suku bunga nyaris nol-nya dengan menaikkan suku bunga acuan dari kisaran 0-0.25 persen ke 0.25-0.5 persen dini hari tadi (17/12). Selain itu, dot plot yang dirilis bersamaan juga menyiratkan mereka akan menaikkan suku bunga empat kali lagi dalam tahun 2016. Secara keseluruhan, The Fed memuaskan harapan pasar yang telah mengharap kenaikan Fed rate sejak tahun 2014. Tetapi, bagaimana proyeksi dampaknya pada Dolar AS dan mata uang lainnya?

 

Beli Dolar? Tunggu Dulu!

Pengumuman the Fed pagi tadi bisa dinilai amat hawkish. Apalagi, dalam dot plot terekam mayoritas anggota FOMC memperkirakan suku bunga acuan akan naik sampai 1.375 persen pada akhir 2016, yang mana ini mengimplikasikan bahwa keputusan kali ini memang awal dari kenaikan bertahap tahun depan. Tapi, beberapa analis menyarankan Anda agar tunggu dulu sebelum ramai-ramai beli Dolar karena mata uang ini sudah kelewat overbought.

Dot Plot FOMC Desember 2015

Grafik Dot Plot Dari FOMC Desember 2015


Dalam catatannya pagi ini, Kathy Lien dari BK Asset Management menuliskan bahwa forecast GDP yang lebih tinggi, forecast pengangguran menurun, dot plot, keputusan menaikkan bunga, berikut testimoni Yellen, merupakan skenario terbaik bagi bullish Dolar. Reaksi yang tak terlalu bombastis pasar pasca pengumuman juga dinilainya bagus, karena berarti the Fed telah berhasil "mempersiapkan" investor sejak beberapa waktu lalu untuk menerima kenaikan suku bunga. Akan tetapi, menurutnya, bisa jadi akan lebih baik bagi investor untuk menunggu dulu sebelu beli Dolar.

Ia mencatat ada 13 milyar options EUR/USD yang akan kadaluwarsa pekan ini, dan rebalancing bisa mengakibatkan pergerakan tak menentu pada Dolar AS. Selain itu, posisi long pada perdagangan Dolar masih sangat padat, sebagaimana laporan Commitment of Traders CFTC terakhir menampilkan masih amat tingginya jumlah posisi long Dolar terhadap mata uang-mata uang mayor, sehingga akan lebih baik bila menunggu hingga posisi long yang terlalu banyak itu berkurang sebelum membeli Dolar. Kesimpulannya, "The dollar is rich and we expect it to get richer but many dollar bulls are exhausted and if they take profit before year end that’s when we want to be buying" (Dolar itu kaya, dan kami berharap akan makin kaya, tetapi banyak bullish Dolar yang sudah letih, dan jika mereka take profit sebelum akhir tahun, saat itulah kita akan beli). Lebih tepatnya, Lien menuliskan bahwa ia akan memilih untuk sell Euro setelah harga mendekati 1.10, dan buy USD/JPY setelah harga mendekati 121.

 

Berita Buruk Bagi Antipodean

Diantara mata uang mayor, dalam jangka menengah Dolar Australia dan New Zealand diproyeksikan bakal paling terpukul. Selain karena pasar saham Asia biasanya bercermin pada Wall Street (ikut naik ketika saham AS naik), yang berarti likuiditas bakal bergeser dari valas ke sekuritas; juga karena penguatan Dolar AS biasanya berbanding terbalik dengan harga komoditas. Padahal, perekonomian maupun mata uang kedua negara itu banyak dipengaruhi oleh harga komoditas.

Ke depan, pasar akan berfokus pada mekanisme pengaplikasikan kenaikan Fed rate berikutnya. Jika ternyata Fed dianggap terlalu hawkish atau muncul risiko-risiko tak terduga lainnya di pasar, maka safe haven dan semi safe haven seperti Yen, Euro, dan CHF, bisa sedikit terselamatkan, sedangkan Kiwi dan Aussie bakal makin tenggelam. Apalagi, bank sentral Australia dan New Zealand, pada dasarnya tidak keberatan apabila nilai tukar mata uangnya melemah sejalan dengan lesunya harga komoditas.

 

Negara Berkembang Harus Antisipasi Pelemahan Lagi

Pertumbuhan pesat negara-negara berkembang hingga sekitar setahun yang lalu sebagian disebabkan oleh aliran dana masuk akibat kebijakan moneter longgar the Fed. Setelah muncul aba-aba the Fed akan mengetatkan kebijakan moneternya, jelas aliran dana itu mandek. Bahkan net capital flows ke negara-negara berkembang ditengarai oleh International Finance (IIF) pada laporan Oktobernya akan berakhir negatif pada tahun 2015 ini, pertama kali sejak 1988.

Capital outflows itu adalah salah satu penyebab Rupiah dan kawan-kawan melemah tahun ini. Meski demikian, dampak dari aliran modal keluar itu tahun depan kemungkinan akan berbeda-beda bagi setiap negara, tergantung pada posisi current account (neraca berjalan), cadangan devisa (forex reserves), dan pertumbuhan GDP riil masing-masing.

 

Ekonomi Negara Berkembang

Data Beberapa Negara Berkembang Tahun 2015 (Dikutip Dari CNBC)


Berdasarkan pada data yang terpampang, China nampaknya bakal lebih tahan banting dibanding kelima negara berkembang lainnya. Sedangkan Indonesia dan Malaysia kelihatan lebih kritis, apalagi ada faktor lain yang tak tertulis disana, yakni penurunan harga komoditas yang mengakibatkan anjloknya nilai ekspor di kedua negara.

Kenaikan suku bunga the Fed yang berakibat pada penguatan Dolar akan makin membatasi kemampuan bank sentral di negara berkembang untuk menstimulus perekonomian dari segi moneter. Atau dengan kata lain, suku bunga bisa jadi tetap bertahan di level tinggi, karena pelonggaran bisa memukul ganda nilai mata uang mereka. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi bakal makin terkekang oleh tingginya suku bunga, menimbulkan dilema yang tidak mudah dipecahkan bagi pemerintah, pengusaha, maupun investor.

 

256684

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini