OctaFx

iklan

China Pangkas Suku Bunga dan RRR setelah Sahamnya Anjlok Lagi

Selasa malam (25/08), Bank Sentral China memangkas suku bunga dan mengurangi RRR untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir untuk meningkatkan dukungan dalam rangka menanggulangi perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Selasa malam (25/08), Bank Sentral China (PBOC) memangkas suku bunga dan mengurangi giro wajib minimum (Reserve Requirement Ratio/RRR) untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir untuk meningkatkan dukungan dalam rangka menanggulangi perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham yang telah mengirim gelombang kejutan ke seluruh dunia.

China Pangkas RRR

PBOC menyatakan bahwa mereka memotong patokan suku bunga pinjaman dan deposit sebesar 25 basis poin menjadi 4.6 persen yang akan mulai efektif hari ini (26/08). Bank Sentral China juga mengurangi RRR 50 basis poin ke 18 persen untuk bank-bank besar di China berlaku 5 September nanti. Tindakan tersebut diambil setelah pasar modal China jatuh lagi akibat putus asanya para investor akan kurangnya kebijakan dari Beijing dalam merespon rilis data terakhir yang menunjukkan penurunan tajam pada pertumbuhan ekonomi.

Indeks saham-saham utama China merosot lebih dari 7%, menyentuh level terendah sejak Desember. Kemerosotan itu telah terulang sejak minggu lalu meskipun upaya dari Beijing menjaga kehancuran 30% di awal musim panas dengan memakai ratusan miliar Dolar untuk pembelian saham. Pada saat ini, tindakan pemerintah China tampak lebih ditujukan untuk menopang fundamental ekonomi daripada langsung ke pasar saham.

"Walaupun hal ini memiliki beberapa unsur yang memberikan kenyamanan pada pasar, namun ini lebih kepada pemberian dorongan nyata untuk ekonomi riil sehingga pemerintah dapat terus berusaha memenuhi tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 7%," kata Liu Gang, ekonom ANZ Bank di Hongkong, dikutip dari Investing. Liu juga menambahkan bahwa pemangkasan RRR adalah tindakan signifikan yang diambil PBOC yang akan menyuntikkan dana 650 miliar Yuan (101 Dolar AS) ke dalam perekonomian dan meredakan kekhawatiran akan "hard landing".

China sebagai salah satu motor penggerak utama ekonomi dunia telah mengambil alih Yunani dari tingkat pertama daftar negara yang dikhawatirkan oleh investor dunia. Yang mana pertumbuhan ekonominya (China) mengalami perlambatan dari target 7% di tahun 2015 ini. "Saat ini masih ada tekanan pada pertumbuhan ekonomi China," menurut Bank Sentral China dalam pernyataan terpisah yang dilansir dari CNBC. "Juga masih ada volatilitas yang relatif besar di pasar finansial global, dimana membutuhkan membutuhkan penggunaan alat kebijakan moneter yang lebih fleksibel."

244014

M Septian mulai berkecimpung di dunia forex sejak 2015. Setelah itu, menyelami berbagai instrumen trading dan berlanjut menjadi jurnalis yang meliput seputar forex dan komoditas di Seputarforex mulai 2016.