Advertisement

iklan

Data Ekonomi Inggris Tak Kompak, Sterling Tetap Melonjak

Data ekonomi Inggris yang dipublikasikan sore ini nampak beragam. GDP Inggris melonjak, tetapi data produksi lesu.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Rilis serangkaian data ekonomi Inggris pada pertengahan sesi Eropa hari Jumat ini (11/Januari) menunjukkan angka beragam. GDP (Gross Domestic Product) meningkat lebih tinggi dari ekspektasi, tetapi data-data produksi lesu. Meski demikian, sekitar 30 menit setelah publikasinya, Poundsterling meroket dan berhasil kembali ke dekat harga pembukaan pada kisaran 1.2750 terhadap Dolar AS, serta menang tipis pada cross pairs versus Yen dan Euro.

Data Ekonomi Inggris Tak Kompak, Sterling Tetap Melonjak

 

Laju GDP Tertinggi Dalam Empat Bulan

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa GDP Inggris bertumbuh 0.2 persen (Month-over-Month); lebih baik dibandingkan ekspektasi yang dipatok pada 0.1 persen, sekaligus mencatat rekor tertinggi dalam empat bulan terakhir. Namun demikian, pertumbuhan produksi industri dan produksi manufaktur justru minus.

Produksi Industri Inggris tercatat -0.4 persen (MoM) dalam bulan November, demikian pula Produksi Manufaktur menorehkan tinta merah -0.3 persen dalam periode yang sama. Secara tahunan, Produksi Industri Inggris telah anjlok 1.5 persen, sementara Produksi Manufaktur merosot 1.1 persen.

Data ekonomi Inggris lainnya yang menjadi barometer sektor eksternal juga mengecewakan. Defisit Neraca Perdagangan membengkak dari 11.95 Milyar menjadi 12.02 Milyar pada bulan November 2018, padahal sebelumnya diekspektasikan akan menyempit ke 11.40 Milyar.

 

Analis Optimis Parlemen Bakal Hindari "No-Deal Brexit"

Rentetan data ekonomi Inggris ini menggarisbawahi pekatnya ketidakpastian selagi kesepakatan Brexit masih simpang siur. Pada tanggal 15 Januari mendatang, parlemen Inggris akan menggelar voting atas kesepakatan Brexit yang telah dicapai dalam perundingan antara PM Theresa May dengan Uni Eropa. Namun, estimasi sementara menunjukkan bahwa mayoritas anggota parlemen takkan mendukung pengesahan kesepakatan tersebut.

Media massa menyebarkan berbagai spekulasi seperti "No-Deal Brexit", referendum Brexit kedua, serta pengambilalihan negosiasi Brexit oleh parlemen Inggris yang meningkatkan risiko atas Poundsterling. Namun, sejumlah analis tetap optimis kalau parlemen akan berupaya menghindari skenario terburuk, sehingga masih ada peluang bagi Sterling untuk menanjak kembali.

Jordan Rochester dari bank terkemuka Nomura di London mengungkapkan, "Dalam beberapa minggu mendatang, parlemen akan menunjukkan apakah mayoritas mendukung atau menolak kesepakatan (yang dibuat) Theresa May. Daripada peningkatan kemungkinan 'No-Deal' (yang akan terjadi jika kesepakatan ditolak -red), kami lebih mengekspektasikan kesepakatan akan lolos, berkat konsesi di detik-detik terakhir, atau jika parlemen berhasil memaksa pemerintah untuk mengadopsi strategi Brexit yang berbeda atau lebih ramah pasar."

286977

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.