OctaFx

iklan

GDP Inggris Ambruk, Poundsterling Terguling Lagi

GDP Inggris makin menciut, seiring kian dekatnya deadline Brexit pada tanggal 29 Maret. Poundsterling kembali tertekan, tetapi kemungkinan ditahan oleh antisipasi pasar.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Mata uang Poundsterling melanjutkan kemerosotan dalam perdagangan hari ini dan terguling lagi ke level 1.2899 terhadap Dolar AS, setelah data Gross Domestic Product (GDP) Inggris untuk bulan Desember 2018 dilaporkan -0.4 persen (Month-over-Month). Kontraksi mengejutkan tersebut mengindikasikan bahwa perekonomian Inggris makin menciut, seiring kian dekatnya deadline Brexit pada tanggal 29 Maret mendatang. 

GDP Inggris Ambruk, Sterling Terguling Lagi

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa GDP Inggris untuk bulan Desember 2018 tercatat -0.4 persen (MoM), alih-alih stagnan sebagaimana ekspektasi pasar. Padahal, GDP November masih tumbuh +0.2 persen.

GDP kuartalan yang dilaporkan dalam waktu bersamaan pun hanya melaju +0.2 persen (Quarter-over-Quarter), bukannya naik +0.3 persen sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, GDP tahunan melorot dari +1.6 persen menjadi +1.3 persen dalam kuartal IV/2018.

Sederetan laporan ONS sore ini mengindikasikan bahwa perekonomian Inggris memasuki tahun 2019 dalam kondisi rapuh, khususnya pada sektor industri dan manufaktur. Data lain menunjukkan bahwa produksi industri mencatat -0.5 persen (Month-over-Month) pada bulan Desember, sedangkan produksi manufaktur menorehkan -0.7 persen dalam periode yang sama. Kedua data tersebut lebih buruk dari ekspektasi.

Lebih buruk lagi, sektor jasa yang selama ini dianggap lebih tangguh ketimbang kedua sektor lainnya, juga ikut terimbas oleh perlambatan ekonomi. Indeks Jasa (Index of Services) yang dirilis ONS menampilkan kontraksi dengan skor -0.2 persen, padahal diekspektasikan akan tetap berekspansi +0.3 persen seperti bulan sebelumnya.

Meski demikian, respons Poundsterling terhadap data GDP Inggris ini diperkirakan bakal terbatas. Masalahnya, tarik-ulur perkara Brexit masih menjadi fokus pasar. Secara umum, investor dan trader mempertahankan posisi "wait and see" karena sulitnya memproyeksikan dengan pasti apakah Inggris benar-benar akan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret, serta apakah keluarnya Inggris tersebut disertai dengan kesepakatan tertentu atau tidak.

James Smith dari ING Bank NV mengatakan, "Dalam beberapa pekan ke depan, (kita) kemungkinan akan menyaksikan semakin banyak perusahaan menerapkan rencana kontijensi, yang barangkali takkan positif bagi pertumbuhan (Inggris). Walaupun kami masih berpikir bahwa 'No-Deal' dapat dihindari pada 29 Maret, kemungkinan dengan diperpanjangnya Article 50, (tetapi) ada kemungkinan kalau kita takkan mengetahuinya dengan pasti hingga detik-detik terakhir."

287344

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


28 Feb 2019

22 Feb 2019