Pound Terkoreksi, Ditekan Inflasi Rendah dan Risiko No-Deal

Pound melemah terhadap mata uang mayor lain lantaran mencuatnya lagi risiko No-Deal Brexit dan memburuknya rekor inflasi Inggris.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling cenderung tertekan dalam perdagangan hari ini (18/September). Komentar petinggi Uni Eropa meningkatkan risiko No-Deal Brexit, sedangkan laporan inflasi Inggris terbaru menunjukkan rekor terendah sejak bulan Desember 2016. Saat berita ditulis, pasangan mata uang GBP/USD telah menurun sekitar 0.5 persen dan mencetak rekor terendah harian pada 1.2439. Pound juga melemah versus Euro dan Yen Jepang.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Presiden European Commission, Jean-Claude Juncker, mengatakan kepada parlemen Eropa tentang adanya risiko "nyata" Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa deal apapun. Sementara itu, negosiator Uni Eropa untuk brexit, Michel Barnier, memberikan peringatan keras agar tak meremehkan konsekuensi "No-Deal Brexit". Masalah "uang cerai" Inggris-Uni Eropa, perbatasan Irlandia, dan hak-hak warga negara perlu diselesaikan segera.

"Saya menyarankan semua orang agar tidak meremehkan konsekuensi -jelas terutama bagi Inggris, tetapi juga bagi kita- mengenai tiadanya sebuah kesepakatan (brexit). Apabila Inggris pergi tanpa deal, saya ingin mengingatkan Anda bahwa semua pertanyaan ini tidak akan menghilang begitu saja," ujar Barnier.

Micher Barnier juga menegur sikap maju-mundur London dalam menyusun proposal konkrit yang dibutuhkan untuk mengurai kebuntuan saat ini. Katanya, "Sudah tiga tahun berlalu sejak referendum Brexit. Kita tak perlu berpura-pura bernegosiasi."

Berita mengenai komentar para pejabat Uni Eropa itu mendorong pelemahan awal Sterling hari ini. Posisinya semakin tertekan setelah UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa laju inflasi konsumen menyentuh rekor terendah sejak bulan Desember 2016.

Menurut ONS, laju inflasi jatuh dari 2.1 persen menjadi 1.7 persen (Year-on-Year) pada bulan Agustus 2019. Padahal, estimasi awal hanya memperkirakan pertumbuhan inflasi melambat hingga 1.8 persen. Dalam kondisi inflasi menjauh dari kisaran target 2 persen yang dipatok oleh bank sentral Inggris (BoE), spekulasi seputar pemangkasan suku bunga berpotensi merebak kembali.

290140

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.