Advertisement

iklan

Kecemasan Pasar Bikin Euro Terpuruk Di Rekor Terendah Tiga Tahun

Perekonomian Jerman di penghujung tahun 2019 masih nyaris resesi, sedangkan pertumbuhan ekonomi Zona Euro mencetak rekor paling lambat sejak tahun 2014.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Nilai tukar Euro terpuruk di rekor terendah sejak Mei 2017 versus Dolar AS. Depresiasi Euro telah berlangsung sejak bulan lalu, sehubungan dengan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Zona Euro. Kecemasan pasar makin memuncak karena rilis data Gross Domestic Product (GDP) pada hari Jumat menunjukkan bahwa perekonomian Jerman masih berada di tepi jurang resesi.

Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa hari Senin ini (17/Februari), EUR/USD berada sekitar level 1.0840. Euro tampak menguat tipis dalam perdagangan harian. Namun, EUR/GBP terduduk pada level 0.8310, dekat rekor terendah sejak April 2017. Grafik EUR/JPY Monthly juga masih menampilkan candle bearish.

EURUSD MonthlyGrafik EUR/USD Monthly via Tradingview.com

Laporan GDP Jerman menunjukkan pertumbuhan ekonomi 0.6 persen saja sepanjang tahun 2019, sementara pertumbuhan dalam kuartal IV/2019 malah stagnan. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah sama-sama melambat. Sektor eksternal juga memburuk karena ekspor jatuh dan impor meningkat.

Laporan GDP Zona Euro tak kalah suramnya. Pertumbuhan ekonomi dalam kuartal IV/2019 hanya 0.1 persen. Kinerja ini sesuai ekspektasi pasar, tapi merupakan rekor terendah sejak tahun 2014. Pertumbuhan tahunan Zona Euro juga terkoreksi dari 1.2 persen menjadi 0.9 persen, padahal sebelumnya diharapkan naik 1.0 persen. Prospek pertumbuhan ke depan pun semakin buram akibat ancaman dampak wabah virus Corona COVID-19.

"Virus Corona semakin lama semakin kelihatan seperti isu jangka panjang, dan karenanya akan terus membayangi, setidaknya untuk pasar mata uang," kata Kyosuke Suzuki dari Societe Generale, "Dalam situasi ini, sentimen terhadap Euro makin nyata, dengan fundamental ekonomi yang lemah mendorongnya turun."

"Kolaps-nya produksi China (akibat wabah virus Corona) akan menimbulkan dampak terhadap pertumbuhan hingga jauh ke luar dari batas-batas China," ungkap Davide Oneglia, seorang ekonom di TS Lombard, "China merupakan destinasi bagi sekitar 17 persen dari keseluruhan ekspor mobil rata-rata kawasan Euro. Sebaliknya, kendaraan bermotor merupakan ekspor tunggal terbesar Zona Euro ke China. Kami (juga) tak terkejut melihat persentase-nya meningkat ketika kita meninjau Jerman saja."

China merupakan mitra dagang utama bagi banyak negara di dunia, tetapi eksposur Zona Euro tergolong sebagai salah satu yang paling besar. Masalahnya, permintaan mobil dari China mencakup sekitar 30 persen dari total pasar otomotif dunia, sedangkan empat negara terbesar Zona Euro memiliki porsi penawaran mobil sekitar 30 persen dari total pasar otomotif dunia. Apabila perekonomian China tahun ini benar-benar lumpuh akibat dampak wabah virus Corona, maka kondisi perekonomian Zona Euro pun takkan se-optimis ekspektasi yang diungkapkan oleh Gubernur ECB Christine Lagarde belakangan ini.

292027

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.