OctaFx

iklan

Produksi Industri Jepang Lewati Ekspektasi, Yen Makin Kokoh

Data output industri Jepang menunjukkan perbaikan di tengah ancaman resesi yang membayangi perekonomian domestik. Yen menyambut kabar ini dengan penguatan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada hari Jumat (28/Februari), Departemen Statistik Jepang merilis data produksi industri untuk bulan Januari 2020. Data ini secara tidak terduga naik 0.8 persen dalam basis bulanan, jauh lebih baik ketimbang forecast ekonom sebelumnya yang memprediksi pertumbuhan 0.2 persen saja. Meskipun begitu, angka terbaru produksi industri Jepang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka periode sebelumnya yang 1.2 persen.

Produksi Industri Jepang Lewati

Sementara itu, output industri Jepang secara tahunan (Year-over-Year) turun 2.5 persen, lebih baik daripada ekspektasi penurunan 3.1 persen. Data ini tidak mengalami perbaikan signifikan dari periode sebelumnya yang mencatatkan penurunan sebesar 3.1 persen.

Produksi industri yang terangkat naik di awal tahun ini sebagian besar didukung oleh peningkatan tajam dalam output mobil dan peralatan transportasi lainnya. Kenaikan tersebut mengimbangi penurunan output mesin produksi. Di samping itu, hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan Jepang terhadap pabrik baru-baru ini menunjukkan output industri kemungkinan akan melanjutkan trend kenaikan pada bulan Februari, meski berpeluang tergelincir pada bulan selanjutnya.

Positifnya data output industri diharapkan dapat sedikit membantu ekonomi Jepang yang saat ini tengah berjuang menghindari jurang resesi. Pasalnya, rilis GDP Jepang pada kuartal IV/2019 berada di zona negatif karena terpukul oleh lemahnya belanja konsumen.

 

Data Fundamental Lain Masih Lemah, Resesi Kian Nyata

Departemen Statistik Jepang mempublikasikan beberapa data ekonomi Jepang lain pada pagi ini, seperti penjualan ritel tingkat pengangguran, dan CPI Tokyo. Penjualan ritel dilaporkan turun 0.4 persen secara tahunan, sementara tingkat pengangguran (Unemployment Rate) naik 0.2 persen menjadi 2.4 persen. Hal ini mengindikasikan dampak lanjutan dari kenaikan pajak yang membuat banyak perusahaan merugi akibat turunnya penjualan.

"Kenaikan tingkat pengangguran ditambah dengan penurunan tajam rasio pekerjaan dibanding pelamar (job-to-applicant ratio) bulan lalu menunjukkan bahwa kejatuhan ekonomi dari kenaikan pajak penjualan telah mulai membatasi permintaan perusahaan untuk pekerja," kata Tom Learmouth, ekonom Jepang di Capital Economics.

Inflasi yang digadang-gadang akan naik pesat pasca langkah pemerintah menaikkan pajak, justru masih berkubang dalam trend lemah. Data CPI Tokyo yang dirilis pagi ini berada di bawah ekspektasi, termasuk inflasi inti yang tidak memasukkan kategori makanan segar dan bahan bakar.

 

Yen Diuntungkan Wabah Virus Corona

Data fundamental yang tergolong mengecewakan pagi ini tidak serta merta menekan pergerakan Yen terhadap Dolar AS. Status safe haven yang disandang Yen di tengah semakin ganasnya wabah virus corona berperan lebih dominan bagi penguatan Yen. Selain itu, Dolar AS tengah dibebani oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Pada saat berita ini ditulis, pair USD/JPY berada di kisaran 109.384, melemah 0.2 persen dari harga Open harian.

Produksi Industri Jepang Lewati

292155

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.